Temen Seperjuanganku Dalam Susah & Senang

Dalam hidup ini, kita ga pernah bisa cuma merasakan senangnya aja, sering juga kita malah mengalami susah, duka, luka, sedih, pedih, perih, sakit, nelongso, dsb. Ada saat-saat terpahit dalam hidup yang membuat kita butuh teman untuk saling menguatkan, mampu berdiri tegar, dan keluar sebagai "pemenang" kehidupan. 

Orang-orang yang selalu mau membersamai, melalui masa-masa sulit dan pahit ini lah yang disebut teman seperjuangan. Mau sama-sama merasakan susahnya hidup. Pedihnya mengejar-ngejar proyek, perihnya menahan lapar, begadang-begadang mengais rejeki menanti pembeli, hingga "menyekolahkan" benda berharga ke rumah gadai atau orang terdekat?

Suami, Teman Seperjuanganku

Jika orang lain punya sahabat atau teman dekat, saya cuma punya suami sebagai teman seperjuangan. Bahkan keluarga ga pernah saya curhati masalah apa pun dalam rumah tangga dan kehidupan kami. 

Kalau ada masalah dan sedang kesusahan pun, sekuat tenaga kami selalu mencari jalan keluarnya berdua. Entah sekedar "menitipkan" benda berharga, atau menjual barang-barang yang punya "nilai" untuk dijadikan uang πŸ˜‚.

Bahkan pada adik perempuan sendiri pun saya hampir ga pernah curhat masalah rumah tangga, padahal dulunya kami sangat dekat, sekamar berdua dan selalu curhat-curhatan masalah apa pun. 

Tapi sejak menikah, saya memang membatasi diri untuk curhat masalah rumah tangga pada siapa pun! Saya ga merasa nyaman aja, walau kadang rasanya dada sesak, pikiran galau, dan kepala seperti mau meledak, tetap saya tahan. Saya selalu berpikir, curhat masalah rumah tangga itu bisa jadi aib, bukan hanya buat suami atau keluarga, tapi juga buat saya. 

Alih-alih suami yang kena, malah bisa saya yang dituding salah. "Tuh lah, pilih suami dari jalanan

Baca kisahnya di LoveStory2

Hahaha, itu emang pikiran konyol saya sih, yang membuat saya selalu berpikir berulang-ulang untuk curhat pada orang lain. Jadi, mau susah atau pun senang, suami tetap lah menjadi teman seperjuangan terbaik saya hingga saat ini, selama hampir 22 tahun. Teman curhat, teman ngobrol, teman diskusi, teman debat, teman kongkow (Hangout), teman nongkrong, teman jalan, teman belajar. 

Kami sama-sama belajar mengembangkan diri saat sedang merintis usaha. Saya belajar administrasi, keuangan, atau strategi marketing, suami urusan produk dan business improvement.

Apa pun kami lakukan berdua. Dalam keadaan bokek sekali pun. Pernah punya uang hanya dua puluh ribu, sementara saldo di rekening nol! Beras habis, stok lauk habis, mesin token sudah bolak balik memberi peringatan πŸ˜‚. 

Kami cari solusi berdua. Bagaimana mengatur agar anak-anak tetap cukup makan. Beli beras 6ribuan (jaman itu) 2 liter, sisanya dibelikan telor 1/4kg, pilih yang kecil-kecil supaya bisa dapat 5 pcs! 

Saya masak nasi 1/2 liter, bikin telor dadar 2pcs. Suami bagian entertaining, yang membuat suasana makan sederhana itu layaknya pesta, sehingga terasa menyenangkan dan mereka makan dengan lahap. Alhamdulillah selamat lah anak-anak dari lapar dan kami masih punya stok beras dan lauk πŸ˜‚.

Urusan makan udah beres, lantas token masih teriak-teriak bikin berisik. Saya udah stress, dari mana lagi dapat duit, belum ada penjualan πŸ˜‚. Suami menenangkan "udah kamu tenang aja", lalu tiba-tiba dia inisiatif bersih-bersih rumah, ngumpulin kardus, botol-botol plastik, kertas-kertas bekas, koran/majalah, buku-buku bekas, besi, dsb. Sempat bingung, buat apa semua  itu? Tahu-tahu tukang loak/rongsok dipanggil, semua barang "sampah" itu akhirnya berhasil diubah jadi uang 30ribu. Alhamdulillah, uangnya langsung kami belikan token 20ribu. Untuk ukuran rumah subsidi di jaman itu (9 tahun lalu), bisa bertahan hingga 4-5 hari.


Merintis Usaha Bersama Keluarga

Saat kami merintis usaha beberapa usaha sebelumnya, banyak hal pun kami lakukan berdua, termasuk urusan mencari tambahan modal dan dana operasional, sampau merelakan cincin dan mas kawin πŸ˜‚. Maklum lah, namanya usaha kan ada pasang surutnya, kadang banyak pembeli, tapi seringkali berhari-hari tiada yang menghampiriπŸ˜‚.  Segala macam usaha sudah pernah kami coba, mulai bisnis komputer, studio musik, baju pesta menyusui, budidaya/beternak lele, sampai jual beli alat musik.

Walau udah berkali-kali jatuh bangun membangun usaha, kami memang ga pernah kapok 🀣. Kata suami, "kalau mau kaya, ya jadi pengusaha!" Iyain aja lah, walau merintis usaha itu ga pernah mudah πŸ˜‚.

Sekarang kami sedang membangun kerajaan (Aamiinin aja ya, siapa tahu do'a diijabah jadi pengusaha sukses 🀣) bisnis alat musik. Ya emang ga bisa jauh-jauh dari dunia musik juga, karena suami musisi, jiwa senimannya selalu muncul, ga bisa diobrak abrik πŸ˜‚ . Kami ketemunya juga gara-gara dia bawa-bawa Bass Gitar.

Belakangan, sejak anak-anak beranjak besar, mereka jadi sumber kekuatan baru kami dalam berbagi suka duka. Anak-anak kini jadi teman seperjuangan dan partner diskusi kami dalam membahas bisnis. 


Teman Seperjuangan #TemanSeperjuangan
Teman Seperjuangan #TemanSeperjuangan


Semangat Teman Seperjuangan

Bicara spirit teman seperjuangan, teman yang mampu melalui masa-masa sulit bersama saat sedang berjuang, membuat Mandala Multifinance terinspirasi untuk mengangkatnya sebagai tema campaign Desember ini. 

Ini yang diceritakan mba Christel Lasmana, Direktur Bisnis Mandala Multifinance dan Tara Agnesstasha, Corporate Communications Manager PT Mandala Multifinance Tbk pada acara Blogger Gathering di Relish Bistro Menteng, 19 Desember 2022 lalu.





Teman seperjuangan adalah sebuah kampanye yang menyampaikan bahwa selain menjadi partner dalam membantu mewujudkan segala aspirasi keuangan, Mandala juga bisa menjadi teman yang selalu siap mendengarkan segala keluh kesah para konsumen dalam melewati perjuangan, serta bersama-sama melewati suka-duka, keceriaan, merayakan dan bersenang-senang di segala kemenangan. 

Hal ini dilatarbelakangi pandemi, ketika banyak UMKM gulung tikar, tak sanggup bertahan di tengah perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat. Terlebih institusi penyedia layanan keuangan di Indonesia menjadi lebih selektif dalam memberikan layanan pembiayaan kepada masyarakat, mengakibatkan banyak bisnis dan masyarakat yang merasa berjuang sendirian dan tidak terbantu pada masa sulit Covid-19.

Memang lega banget ya punya teman seperjuangan yang selalu membersamai melalui masa-masa susah dan senang.  #TemanSeperjuangan yang selalu mau #TumbuhBersama. 

Kalian juga punya teman seperjuangan? Cerita dong!



3 komentar

  1. Keren ceritanya dan kekompakan keluarga!

    BalasHapus
  2. Masya Allah terharu bacanya May.. semoga tetap jadi teman seperjuangan

    BalasHapus
  3. kalao ada teman seperjuangan maka nggak ada yang sulit, makasih Mandala hehehe

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Kirim email ke siswadi.maya@gmail.com