Seni Berbicara Pada Remaja

Seni Berbicara pada Remaja 


Seni Berbicara Pada Remaja


Punya anak di usia remaja itu memang cukup challenging ya buk ibuk.

Ada yang merasa, berbicara pada remaja itu "susah". Ada yang merasa, berbicara pada remaja itu harus "berpanjang sabar" 🤣🤣. 

Tapi ada juga yang mengaku bahwa berbicara pada remaja itu gampang-gampang sulit. Kadang bisa dikorek ceritanya dengan mudah, tapi banyak juga yang mengaku harus mengeluarkan berbagai jurus agar si remaja mau mengeluarkan ceritanya. 

Banyak juga yang mengaku bahwa menghadapi remaja tuh tricky banget. Dikasih tahu ngeyel, merasa sudah tahu, didiemin kadang suka semau-maunya, ga dikasih tahu melenceng, eh giliran dinyinyirin marah 😂, wuah, serba salah 🤣. 

Berbicara dengan remaja itu memang ada seninya, kadang memang harus pakai trik.


  • 1. Fokus pada Pesan, Solusi

"Haduh, itu lampu depan kenapa masih idup aja sih, kalian ini gimana, bukannya dimatiin, mbok ya kalau liat lampu masih nyala gitu, langsung dimatiin! Jangan nunggu bunda omelin dulu!"

Kalau denger kata-kata atau omelan seperti itu, enak ga?

Nah, kalau kita yang diomelin seperti itu, di depan orang-orang, enak ga ya kira-kira?

Kalau kitanya aja ga merasa nyaman, apalagi anak-anak.

Itu lah yang dirasakan anak ketika diomeli panjang, lebar, ngalor ngidul. Ngomel panjang kali lebar, ngalor ngidul ga ke inti masalahnya itu sebenarnya cuma bikin capek, karena anak justru ga bisa menangkap pesan yang mau disampai kan dengan jelas. 

Karena ketika ngomel, orangtua sebenarnya kan cuma menumpahkan uneg-uneg, menumpahkan kekesalan. Emaknya yang butuh tempat curhat? Butuh ngomel? Tapi anak yang jadi sasaran. Kasihan kan 😭. 

Anak malah jadi menangkap pesan "orangtua gua lagi kesel!". Pesan yang mau orangtua sampaikan malah jadi "kabur", bias.

Better sampai kan langsung poin yang mau dibicarakan, sampaikan intinya saja. 

"Fer, lampu atas depan tolong matiin dong!"

Udah, itu aja, ga perlu panjang-panjang kan? Fokus pada apa yang sebenarnya mau disampaikan! Pastikan anak memahami pesan orangtua.


  • 2. Hindari Mengomel

Mengomel ngalor ngidul untuk menumpahkan emosi atau kekesalan orang tua hanya akan membuat anak kesal, marah, benci, sakit hati, dsb.

Hindari Mengomel
Hindari Mengomel

Mengomel juga membuat pesan yang akan kita sampai kan menjadi kabur, bias. Anak jadi kesulitan menangkap pesan sebenarnya yang ingin disampaikan orang tua.

"Bunda kan dah berkali-kali bilang, kalau udah agak siangan lampu depan itu dimatiin. Jangan nunggu diingetin terus dong, gimana sih"

Nah, gimana, kira-kira enak ga denger orang ngomel gitu?

Kira-kira apa yg ibu/bapak rasakan ketika mendengar omelan seperti itu?

Enak ga digituin?

Nah, kalau kita sendiri ga merasa nyaman dengan omelan semacam itu, coba lah kembalikan ke diri sendiri, kira-kira saya sebel ga digituin. Kalau iya, ya sebaiknya jangan lakukan itu ke orang lain.


  •  3. Ajak diskusi

Anak-anak itu walau pemikirannya belum dewasa, bukan berarti tidak bisa diajak bertukar pikiran. Kadang mereka bisa  mengeluarkan ide-ide terkini yang mungkin gak terpikir sama kita.

Dengan mengajak anak berdiskusi, kita melibatkan mereka dalam kehidupan kita, menganggap mereka ada, menganggap mereka berguna, bermanfaat, mampu memberikan kontribusi pada kehidupan keluarga. 

"Fer, tiap hari, kalau di luar sudah terang, lampu atas matiin ya, bisa kan?"

"Bisa bund"

"Perlu bunda ingetin?"

"Nggak!"

Ok, kalau anak sudah menyatakan sanggup, ya udah percaya aja, jangan dinyinyirin atau dibawelin lagi tiap hari. 

Kalau orangtua masih nyinyir dan bawel tiap hari, anak menangkap pesan bahwa orangtuanya ga pernah percaya pada kemampuannya. Dan ini bisa mencoreng harga diri anak, anak bisa terluka dan merasa kurang bisa dipercaya, anak jadi merasa dirinya kurang berharga, kurang dipercaya, kurang kompeten, dsb. Buntutnya, anak jadi kurang respek sama orangtuanya. So, percaya aja ya mom, bund, Mak 😂.

Ajak Diskusi
Ajak diskusi

Contoh lain

"Kak, bunda tuh cuma punya uang satu juta. Tapi harus bayar daftar ulang adek sama bayar seragam kakak, enaknya gimana ya?"

"Gini aja bund, gimana kalo bayar dulu uang daftar ulang, seragamnya bisa nyusul atau sementara pinjem seragam sama temen kakak"

Dengan diajak berdiskusi, kita menanamkan trust dan membuat anak merasa dipercaya bahwa dia mampu dan pendapatnya cukup berharga untuk didengar. 

Anak yang sering diajak diskusi keluarga semacam ini akan merasa percaya diri. Merasa ia cukup kompeten, punya kemampuan berpendapat. Sekaligus melatih kemampuan soft skill, mengajukan pendapat, problem solving, dsb.


  • 4. Cerita lucu, hal-hal menarik

Ada anak-anak yang mungkin agak susah dipancing bercerita, banyak diamnya, ga mau cerita-cerita, super pendiam, dsb. Nah anak-anak model ini masih bisa diajak ngobrol dengan cerita-cerita lucu kog. 

Cerita lucu, konyol, biasanya mudah mencairkan suasana dan membuat anak lebih rileks sehingga lebih mudah mengalirkan cerita yang kurang lebih sama. 

Ga punya hal-hal lucu? Bisa juga cerita hal-hal menarik di sekitar kita. Ketika anak sudah menemukan sesuatu yang relate dengan yang kita ceritakan, ceritanya akan mengalir dengan sendirinya tanpa susah-susah dikorek *cmiiw

Cerita misteri juga bisa kalau sekiranya cukup fantastis dan menarik perhatian. 

"Kak kak, tadi siang bunda denger ada suara-suara di belakang. Bunda pikir angin. Tapi kog dilihat ke luar ga ada angin sama sekali. Pohon aja daun-daunnya ga bergerak. Duh, bunda jadi takut. Kakak suka denger suara-suara juga ga sih?"

"Wah iya bund, kayaknya aku suka denger gitu juga. Malah tadi di sekolah sempet ngalamin gitu"

Cerita memancing cerita. 

Anak-anak yang pendiam sekali pun akan lebih mudah bercerita ketika merasa relate dengan apa yang kita ceritakan. Jadi, apa pun bisa diceritakan untuk "mengundang anak bercerita"

Ga ada salahnya orangtua cerita tentang kelemahan atau kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu. Bisa juga cerita hal-hal konyol ga masuk akal buat ditertawakan bersama-sama. 

"Dulu tuh ayah suka diomelin guru, gara-gara bolak balik ijin ke toilet

"Hahaha, kog sama, aku juga hampir dimarahin Bu guru gara-gara ke toilet mulu"

atau 

"wah dulu bunda SD rapotnya merah, pas udah SMP-SMA aja bagusan"

Hal-hal seperti ini akan menguatkan bonding, ikatan antara anak dan orangtua menjadi lebih kuat, membuat anak-anak merasa bahwa orang tuanya bukan Malaikat atau Super Hero yang ga pernah salah, tapi manusia biasa yang juga pernah nangis, kesel, marah, dsb.


  • 5. Become listener

Jadi lah pendengar yang baik. Dengar kan cerita anak, sesekali tanya-tanya untuk menggali ceritanya. Dengar kan aja semua cerita anak baik-baik, sebisa mungkin jangan diinterupsi, tangkap pesannya, validasi perasaannya.

Sebisa mungkin hindari bertindak sebagai orangtua yang menghakimi, judging, menasehati, ketika anak bercerita. Dinasehati apalagi dihakimi itu sama sekali ga enak. Anak akan merasa ga nyaman ketika baru cerita sedikit aja orang tua sudah memotong ceritanya, lantas menasehati ini itu, sesuatu yang ga mereka butuhin. Kita boleh menasehati ini itu kalau memang anak butuh nasehat, emang minta pendapat. Kalau ngga diminta, ya udah, tahan-taman diri ya pak Bu 😁.

Orangtua boleh aja menasehati atau memasukkan nilai-nilai penting pada anak, tapi harus lihat-lihat situasinya. Kalau dalam konteks anak sedang bercerita, "jangan sotoy" dan masuk dengan nasehat-nasehat ini itu. Percuma! Ga akan didengar anak. Pada saat itu mereka cuma butuh didengar, butuh "curhat", ga butuh dihakimi, apalagi dinasehati sesuatu yang ga mereka butuhkan!

"Wah tadi kamu telat? Nah, makanya besok-besok bangun pagi-pagi dong, jangan begadang, biar ga telat sekolahnya!"

Coba ibu/bapak bayangkan sendiri, kalau ibu/bapak lagi asyik-asyik cerita begitu sama temen, trus temen ibu bapak ngomel kayak gitu, kira-kira enak didengar ga?

Sekali merasa ga nyaman cerita sama orangtua, bisa seterusnya anak malas cerita karena merasa ga nyaman, dihakimi, dihukum, dsb. 

Alih-alih orangtua bisa memasukkan nilai-nilai penting, didengar pun tidak!

Jadi, dengar kan dulu anak dengan penuh perhatian, berusaha jadi temannya, dengar kan anak dengan konsentrasi penuh, jangan dipotong, jangan disela, berusaha cari poin pembicaraan, lakukan percakapan layaknya teman. 

Turun kan ego orangtua saat seperti itu.


  • 6. Ajak kegiatan bersama

Salah satu cara mudah mengajak anak-anak bercerita adalah dilibatkan dalam kegiatan orangtua. Misalnya diajak sama-sama cuci motor, diajak sama-sama masak, sholat berjamaah, makan bersama, cuci piring, beberes, dsb.

Ketika berkegiatan bersama, akan banyak cerita-cerita mengalir, anak akan lebih mudah bercerita. Pada saat seperti ini lah kita bisa menyelipkan beberapa pesan.


  • 7. Berikan Penghargaan/Apresiasi

Sampai kapan pun, anak-anak mau pun orang dewasa butuh apresiasi, butuh penghargaan. Jadi, agar anak merasa dirinya berharga, berikan apresiasi terhadap hal-hal kecil yang ia lakukan. 

Misalnya

"Keren tuh Fal udah berani ngajuin diri buat jadi ketua kelas, kan kerjaannya ga mudah"

Dengan diberikan penghargaan yang tepat dan tidak berlebihan, anak akan makin percaya diri dan merasa dirinya mampu. Ini akan membuat anak juga lebih mudah mendengar orangtuanya.


  • 8. Ceritakan perasaan orangtua

Ketika berbicara dengan remaja, ada saat-saatnya mentok dan anak kekeuh dengan kemauannya yang ga sesuai keinginan kita, atau melenceng jauh dari kewajaran.

Pada saat itu, orangtua perlu berbicara dari hati ke hati dengan anak tentang apa yang dirasakan. Rangkul pundak anak dan coba bicara.

"Dek, bunda tuh sedih kalau adek sampai ga naik kelas cuma gara-gara sering telat. Kan sayang ya, padahal adek tuh pinter. Matematika jago, Fisika merem, Kimia keciiil. Apa adek ga merasa sayang?"

Anak akan lebih mudah mendengar kalau orangtua menceritakan apa yang dirasakan. Anak akan lebih mudah berempati ketika kita menceritakan perasaan kita. 

"Ya Allah dek, bunda bahagiaaa banget adek akhirnya naik kelas, kemaren bunda deg-degan bakal tinggal kelas gara-gara bolos" 😂


  • 9. Ceritakan harapan, pesan orangtua

Memaksakan kehendak orangtua pada anak memang tidak bijak, karena masing-masing anak pasti punya keinginan dan harapan sendiri.

Tapi, ga ada salahnya orangtua menceritakan apa yang ia harapkan dari anaknya, apa harapannya buat si anak.

"Dek, bunda mah pengen suatu hari nanti adek berhasil jadi pengacara sukses, keren kali ya. Trus bunda dibawa jalan-jalan keliling dunia, wuaaah, seru

"Kak, bunda mah pengen kakak bisa bantu-bantu bunda dan jagain adek-adek. Berkomunikasi dengan baik, jaga silaturahmi dengan saudara-saudara kalian"

Orangtua hanya sekedar menyampaikan harapan dan pesannya, bukan sedang memaksakan kehendak, karena masing-masing anak punya jalannya sendiri.


  • 10. Become Role Model

Ga ada wejangan yang lebih baik dibanding contoh yang diberikan orang tua. Mau bicara panjang lebar apa pun, kalau anak ga liat contohnya, ya agak susah. Sometimes ga perlu banyak bicara, orangtua cukup bergerak aja anak udah langsung bergerak. 

Kalau ingin anak jujur dan berintegritas, ya kasih contoh. Tunjukkan bahwa kita bukan orang yang mudah korup, event uang kegiatan RT😂. Mau anak jujur? Tunjukkan kalau kita mampu "jujur".

Sering kali kita mengharapkan anak menjadi sesuatu yang kita sendiri ga mampu mewujudkannya. Pengen anak jujur while orangtua seringkali bohong, bagaimana anak bisa jujur seperti yang diharapkan.

"Dek, nanti kalo oom itu ke rumah, bilang ayah lagi tidur ya" 

padahal bapaknya lagi leyeh-leyeh di kasur 🤣🤣

Mau berharap apa dari anak kalau orangtua sudah menunjukkan seperti itu? Kita berbusa-busa menyuruh anak supaya jujur juga percuma! Lha jelas-jelas di depan matanya diminta bohong!

Mau anak rajin sholat, rajin ibadah? 

Ya orangtuanya dulu yang harus menunjukkan di depan anak. Anak harus melihat sendiri orangtuanya ibadah kapan pun di mana pun. Anak itu butuh contoh pada berbagai situasi dan kondisi. Jadi orangtua akan selalu jadi referensi pertama ketika anak butuh sebuah rujukan, bukan orang lain. 

Kalau lagi ke luar kota, ayah/bundanya sholat ga? Bagaimana cara menjamak sholatnya? Kapan berhenti untuk sholat. Kalau naik kereta, orangtuanya sholat ga? Bagaimana sholat di kereta? 

Kalau orangtua ngga bisa atau malas kasih contoh? Ya sudah, terima apa adanya 🤣.

Ya pointnya, menjadi role model bagi anak itu merupakan salah satu cara berkomunikasi atau berbicara dengan remaja. 

Mau ngajak anak beberes? Langsung aja show up di depan mereka, beres-beres, ga pakai lama biasanya nanti pada ngikut 😂. 

Ada yang punya pengalaman sama? Atau malah beda? Yuk yuk share yuuuk.

Nah, gimana-gimana, mudah kan ya berbicara pada remaja? 🤣 

Ya begitulah seni berbicara pada remaja, kadang harus ada seni-seninya, ada trik-triknya, ada tarik ulurnya 🤣 

Btw, Suami berperan cukup besar dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Jadi, kalau bisa sih ayahnya anak-anak ya diajak terlibat pengasuhan ya.

Kebetulan suami saya memang ekstrovert dan hobi bercerita 🤣 . Suami sangat terlibat dalam pengasuhan anak-anak sejak kecil. Biasa mengajak anak-anak ngobrol, membacakan cerita waktu kecil, mendongeng, cerita ini itu ketika makan bersama di meja makan, dsb.

Happy parenting. Happy parenteen.


By : Maya Mai Farnomisa, S.psi, M.Si

Dilarang mengutip tanpa ijin!

Tulisan ini pernah saya paparkan di sebuah sekolah beberapa waktu lalu.

2 komentar

  1. Membuat anak laki yg tipe I mau bercerita itu bukanlah hal yg mudah. Awalnya. Alhamdulillah setelah rajin bertanya (agar tdk sesat di jln) tentang keseharian dia dan bercerita apa aja, pd wkt makan bersama, akhirnya skrg dia sdh mulai mau cerita2 tanpa ditanya dl, ya walaupun tdk sering.

    BalasHapus
  2. Ini pembelajaran buatku, apalagi anak2 udah mulai gede juga. Memang mba, bicara Ama remaja jauh lebih challenging daripada anak2. Lah sekarang aja si Kaka udah kritis banget, yang bikin aku ga bisa sembarangan ngomel atau merintah2 tanpa alasan jelas. Mereka lebih suka Diksh tau alasan dari hal-hal yang wajib dilakukan. Kenapa harus begitu ngelakuinnya, kenapa begini dll...

    Udah kebayang aja pas mereka remaja ntr 😅. Tapi pastinya aku sebisa mungkin selalu mau dengerin apapun yg mereka mau sampaikan. Krn ga kepengen aja nanti mereka jadi benar2 tertutup hanya Krn ortunya ga mau dengerin apa yg disampaikan

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Kirim email ke siswadi.maya@gmail.com