Penipuan Berkedok Bisnis Vendor Pulsa, Waspada!

Innalillahi wa innailaihi rojiun

Sore itu (23 November 2021) fix kami tertipu dengan nominal lumayan, buat bayar sekolah 😭

Berawal dari sebuah nomor tak dikenal yang menelpon mama saya pagi itu 

"Mbaa.. jik iling karo aku ta.."

"Aku ga iling blas..sopo Iki"

"Moso' lali karo aku mbaa"

Si penelpon seolah tahu, mama saya orang Jawa, diajak ngomong seakrab itu. Mama yang polos ya meladeni, seolah itu saudaranya yang sudah lama ga pernah ditemui. 

Kog kebetulan mama pun pelupa, sulit merecall memory. Oh ya, mama gaptek, jadi ga kenal teknologi smartphone, ga kenal WA, ga kenal sosial media, cuma tahu handphone jadul yang cuma bisa telpon dan SMS.

Saya ga terlalu perhatiin waktu mama telpon. Setelah ngobrol lama, mama memanggil suami, katanya si "oom" mau minta "bantuan" sehubungan dengan bisnisnya. 

Suami yang sedang kerja, ya nurut aja dipanggil mama, mertuanya, untuk bicara dengan orang yang disebut "oom" oleh mama. 

"Kowe ojo ngomong Jowo, mantuku ra ngerti boso Jowo"

Suami ga tahu kronologis awal mama menerima telpon, jadi ketika mama menyebut "ini si oom xxxx mau ngomong", ya suami ga nanya-nanya, yang ada dipikirannya ooh oom xxxx, sepupunya mama, mau bicara. Mungkin mau kenalan, dsb. Padahal saat itu suami lagi sibuk nulis, bikin konsep. Saya sendiri sedang beli sayur.

Saat balik ke rumah dari tukang sayur, saya lihat suami sedang ngobrol dengan si "oom". Suami ga kenal betul siapa si oom xxxx yang dimaksud, bagaimana silsilahnya, saya pun kurang paham, tahunya sepupu mama. 

Menurut cerita, si "oom" posisi di Kalimantan, jauh dari kota dan punya pasukan driver truk di Jawa yang harus mereka isi pulsa sebelum jalan. Mereka sedang kesulitan mencari orang/vendor yang bisa gerak cepat untuk bantu isi pulsa para driver. Vendor sebelumnya kabur, padahal uang sudah ditransfer. 

"oom disuruh cari orang buat bantu, kalau bisa saudara yang bisa dipercaya, makanya minta tolong Heri" cerita si "oom dengan logat Jawa yang kental.

Si "oom" berlaku sebagai "oom" yang minta tolong ponakan. Sebagai mantu ponakan, suami merasa ga enak kalo ga bantu "oom yang kesusahan". 

Si "oom" bilang akan membuat proposal ke perusahaan dan mengajukan kami sebagai vendor yang mengisi pulsa. Menurut si oom, nantinya pihak perusahaan akan menelpon untuk konfirmasi. Jika disetujui, perusahaan akan transfer sejumlah 27juta untuk isi pulsa 100rb ke 200 nomor sebagai proyek awal.

Pihak yang mengaku dari perusahaan bernama Pak Budi, telpon kami, tanya ini itu panjang lebar nyaris tanpa jeda, termasuk bertanya apakah kami siap ditelpon 24 jam jika sewaktu-waktu perusahaan butuh isi pulsa mendadak, diakhiri dengan menguji, meminta isi pulsa 100rb ke 3 nomor telp dari 3 provider yang berbeda. Berapa lama kecepatan pengisian pulsanya.

Mereka menyebut, malamnya sudah siap 50 armada yang mau jalan dan butuh diisikan pulsa. Jika berhasil dengan job ini, kontrak berikutnya akan ditambah menjadi 300 nomor. 

Tak lama si "oom" telpon lagi memastikan, lalu "perusahaan" telpon lagi mengkonfirmasi kami disetujui sebagai vendor.

Si "oom" pun "diutus" perusahaan untuk transfer menuju kota terdekat. Oh ya, btw si "oom" ini bilang daerahnya terpencil dan susah sinyal, kalau WA biasanya cuma centang 1, makanya telpon-telpon terus. Daerahnya jauh dari kota, di tengah hutan.

"Her, oom ini disuruh jalan buat transfer ke Heri 27juta, perjalanannya kira-kira 3 jam"

"Oh ya Her, nanti siap-siap transfer ya kalau mendadak perusahaan minta transfer cepat"

Belum sampai setengah jam, pihak perusahaan mengabari kalau butuh pulsa segera, minta ditransfer 500rb masing-masing ke 6 nomor. Ceritanya mereka butuh segera, nanti biar koordinator yang transfer pulsa ke pasukan driver.

Saya dan suami sama-sama ga punya m-banking, jadi buat isi pulsa saya pakai Toped dan harus isi saldo dulu ke ATM. Kog ya pas kami lagi ada uang yang rencana mau dibayarkan buat uang sekolah anak-anak.

Kami lakukan transfer ke 6 nomor yang disetorkan. Kami pikir udah beres tuh. Eh, ga lama mereka minta lagi ditransfer ke 4 nomor tambahan, dengan nominal sama. 

Pada permintaan kedua ini hati kecil saya sudah terasa ga enak, ini kog minta pulsa banyak banget, padahal uang belum diterima. Berhubung saldo di Toped sudah habis buat isi pulsa yang sebelumnya, terpaksa kami harus top up lagi, saya pun jalan ke ATM buat top up untuk kedua kalinya. 

Sepanjang jalan itu saya terus diliputi pikiran yang tidak-tidak, ini beneran ga ya uangnya diganti, beneran ga ya kami dapat uang.  Yang ada di benak kami "ah sudah lah, modal dulu, toh nanti dapat ganti yang lebih besar". Huhuhu, maaf kan kami ya Allah, pikiran kemaruk 😭.

Walau mulai sedikit curiga, tetap kami transfer ke 4 nomor tambahan yang diminta.

Selesai 10 nomor kami pikir udah gak akan ada tambahan lagi, paling-paling baru malam kan dimintanya. Eh ternyata mereka menyusulkan 10 nomor berikutnya, bilangnya batch 2.

Perasaan makin ga enak, suami juga bertanya-tanya, ini kog kayak sengaja minta kami buru-buru, tadi kan bilangnya armada baru jalan malam, kog sore-sore udah disuruh isi pulsa, buru-buru pula. Kami pun menolak dan berusaha mengulur waktu.

"Pak, maaf sebelumnya, bisa kah kami mengisinya setelah menerima transfer, kebetulan saldo kami sudah limit, harus menunggu dana dulu baru bisa isi saldo"

Si "oom" bolak balik telpon, minta diisi pulsa dulu 1-2 nomor, bilangnya ga enak sama perusahaan, "ini oom usahakan lebih cepat jalannya, biar segera masuk dananya"

"Maaf oom, kami bener-bener udah ga ada dana lagi, mau dikorek-korek juga udah ga ada"

"Usahakanlah isi 1-2 nomor lagi, ini oom udah mau deket perbatasan, ga lama lagi dananya masuk"

Si oom bolak balik nelpon, kami juga bolak balik kekeuh bilang ga punya saldo lagi.

Kami pun interogasi mama, menanyakan perihal telpon si "oom" tadi pagi. 

"Ma, waktu tadi pagi si oom itu nelpon, yg menyebutkan namanya oom xxxx itu siapa? Mama atau oom itu"

"Tadi kan oom itu nanya-nanya mama, inget ga sama aku, ya mama kan ga inget"

"Trus dia ada nyebut namanya duluan gak?"

"Ngga"

"Yang nebak namanya mama?"

"Iya"

Oh ya udah, kami langsung lemes.

"Ya bener ma, ini kayaknya oom xxxx jadi-jadian, ngaku-ngaku sodara yang mama tebak. Waktu tadi nelpon, dia nyebut nama mama ngga?"

"Ngga, cuma manggil mba mba aja"

"Oh ya udah"

"Gini aja deh, coba mama telpon Tante Anu buat mastiin, saudara mama oom xxxx tadi itu ada gak orangnya, bener tinggal di Kalimantan atau di mana."

Tante Anu ternyata ga bisa ditelpon. Lalu mama menelpon kakaknya, budhe S

"Mba, bisa tolong tanyain ke dek E ngga, iku saudarane si xxxx tinggal di Kalimantan kah? Ada nomor telponnya ga?"

Gak lama mama nelpon lagi

"Gimana mba, wis ono kabar?"

"Jare dek E, xxxx wis meninggal, suwe"


Duaaar....

Ya Allah, dosa apa ini 😭😭.

Lumayan memang uang yang kami keluarkan, buat bayaran anak di pondok yang kebetulan udah nunggak beberapa bulan, mau dibayar sekalian. 

Tapi ya sudahlah, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik. Kami tidak tahu apa rencana Allah di balik kejadian ini. Mungkin ini cara Allah membersihkan amal dan harta kami, entah lah. 

Bismillah aja, semoga ini pertanda Allah akan memberi rejeki yang tak terbendung? 

Who knows? 😂

Ngayal aja dulu 😂

Saya menuliskan ini buat pelajaran, semoga teman-teman tidak tertipu seperti kami. 

Supaya teman-teman aware, silahkan waspadai dan laporkan nomor-nomor ini

081216359418

082132037910

Ini adalah 10 nomor yang kami isikan pulsa, siapa tahu nomor-nomor ini juga digunakan untuk menipu.

B. 4

1. 0895365235773

2. 0895365235539

3. 0895365235538

4. 0895365235772

5. 0895365235426

6. 0895365235647

7. 0895365235585

8. 0895365235537

9. 0895365235423

10. 0895365235425


Mereka bisa mengaku sebagai siapa aja.

Modus penipuan sekarang semakin beragam, jadi waspada saja.

Oh ya, sorenya, si penipu sempat telpon lagi dan mengatakan kalau sudah transfer. Pas cek mutasi, sama sekali ga ada tuh uang seperak budheg masuk rekening.

Suami yang biasa pemarah, ga boleh senggol langsung bacok, kali ini cuma nulis pesan ke komplotan penipu ini. 

"Yang kalian tipu ini bukan orang yang berlebih uangnya. Orang yang kalian akui sebagai oom saya itu sudah meninggal, semoga kalian segera menyusul"

Gak lama si "oom" jadi-jadian ini menelpon lagi 

"Hallo, ini siapa"

"Lah kamu siapa"

"Saya Heri, kamu siapa" dari belakang terdengar bisik-bisik, "dia yang Heri, kamu mah xxxx"

"Nah kan, kalian nipu. Eh yang kalian tipu ini bukan orang berlebih, kami berkeringat-keringat ngumpulinnya. Semoga kalian dapat balasannya. Orang yang kalian akui sebagai oom saya itu sudah meninggal, semoga kalian segera menyusul!"

1 komentar

  1. Astaga, nipunya kebangetan ini mah sampe segitunya jadi harus waspada kalau misalnya ada yang kayak gini. Tapi salut sama Mbak yang menghadapi masalah ini dengan kepala dingin, gak marah-marah gak jelas.

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Kirim email ke siswadi.maya@gmail.com