Vaksin Aman, Hati Nyaman

Vaksin. Mendengar kata ini, ingatan kembali melayang ke masa kecil ga sih? Atau ada yang udah lupa rasanya vaksin jaman dulu orangtua kita membawa anak-anaknya untuk vaksin?



Waktu Falda saya info "Fal, udah bisa vaksin (read : vaksin covid) nih anak-anak usia 12-17th",  tahu reaksinya? Falda langsung menghela nafas dengan wajah yang antara pasrah, sama "ya udah lah".

"Bunda tahu, Falda kayak gitu karena dulu jaman SD udah kenyang ngalamin vaksin di sekolah kan?"

"Ya gitu lah bund, bunda tahu sendiri rasanya Falda dulu"

Waktu Falda kelas 3-4 SD pernah diadakan vaksin massal di sekolah. Kalo ga salah waktu itu booster vaksin campak. 

Falda termasuk anak yang strong, vaksin di sekolah dihadapinya dengan santai, ga pakai nangis, ga pakai ngeluh, cuma cerita aja kalau abis disuntik. Dia cerita temen-temennya ada yang nangis, ada yang takut, tapi banyak juga yang strong seperti Falda. Temen Falda di sekolah ga banyak, tapi ada beberapa yang akrab, sepertinya mereka saling menguatkan.

Pengaruh teman, lingkungan, memang cukup besar sih buat support system keberhasilan vaksin. Saat lingkungan sekitar banyak yang support dan saling menguatkan, ini membuat yang ragu mau vaksin jadi punya keberanian.

Itu sebabnya saat pertama kali dapat info kalau vaksin tahap ketiga sudah dimulai untuk masyarakat di daerah rentan/zona merah berusia 18+, Saya langsung sibuk kasak kusuk mencari info bisa vaksin di mana yang paling cepat. 

Faskes dekat rumah ada sih, tapi kuotanya terbatas dan dijadwalkan. Kami baru akan kebagian di Agustus. Wuuuuaaah, kelamaan buat saya, saya ga mau menunggu-nunggu, lebih cepat vaksin, lebih baik, mengingat kasus Covid belum turun-turun saat itu.

Alhamdulillah dapat info vaksin massal di Tangerang Selatan pada 26 Juni 2021, langsung buru-buru daftar buat saya dan suami. Untung masih kebagian slot di sebuah aplikasi kesehatan. 

Sadar di luaran sana banyak sekali informasi hoax tentang vaksin, saya dan suami yang selama ini gemes banget dengan info yang beredar, bertekad bulat dan teramat sangat, harus pamer di sosial media!




Saya pengen banyak orang tergerak untuk ikut vaksin dan merasa perlu memproteksi diri sebagai upaya untuk melindungi diri dan keluarga dari virus Covid-19 Varian delta yang mengganas belakangan ini.

Alhamdulillah, upaya "pamer" saya dan suami ini cukup berbuah, banyak yang japri, telpon, dan bertanya-tanya pada kami, bisa vaksin di mana lagi, kapan ada vaksin lagi, dsb. Mereka mulai antusias ikut vaksin.

Satu yang nggak saya sangka-sangka, adik papa saya mendadak telpon dan mengabarkan kalau akhirnya memilih ikut vaksin. Tante saya, yang sudah masuk kategori lansia ini cerita kalau awalnya ga mau vaksin karena berbagai pertimbangan. Padahal mama saya sudah sejak April lalu ikut vaksin tahap 2 khusus lansia. Pada akhirnya tante saya memilih untuk ikut vaksin karena sadar resiko akan lebih besar jika tanpa perlindungan sama sekali (vaksin) di tengah tingginya kasus Covid belakangan ini. Vaksin menjadi salah satu upaya, ikhtiar untuk melindungi diri, membentengi diri dari serbuan virus Covid-19.

Apa yang saya alami ini persis seperti yang dipaparkan Prof. Dr. Widodo Muktiyo, staf ahli Kemkominfo, dr. Siti Nadya Tarmizi, jubir Covid-19 Kemenkes, dan Dr. Benedictus A. Simangunsong, S.Ip, M.Si, Ketua Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan pada webinar bertajuk "No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman" pada 14 Juli 2021 lalu.




Pada era Post Truth sekarang ini, banyak sekali orang yang percaya akan kebenaran sebuah berita karena infonya banyak tersebar dan diulang-ulang. Ketika sebuah berita atau postingan banyak dishare, maka lama-lama info itu akan dipercaya sebagai kebenaran. Ini yang bahaya kan.

Ketika masyarakat dengan tingkat literasi rendah mencerna info-info hoax ini mentah-mentah tanpa cek fakta, cek jurnal, cek kebenaran data, maka info itu akan dipercaya begitu saja. 

Gak heran kalau jumlah Hoax Covid dan vaksin Covid per Juni 2021 itu sampai 1700an! Gila ya, banyak sekali.

Ini memang dipengaruhi sekali sama rendahnya literasi masyarakat Indonesia dan rendahnya minat baca.

So, menurut Dr. Benedictus, salah satu cara untuk mengatasinya ya dengan meningkatkan literasi masyarakat. Ini lah yang dilakukan Kemkominfo beberapa tahun terakhir. 

Menurut Prof. Widodo, Kemkominfo terus menjalankan upaya meningkatkan literasi digital melalui siberkreasi, dan berbagai upaya literasi digital lainnya, termasuk kerjasama dengan kampus-kampus dalam meningkatkan literasi digital.

Di sisi lain, Kemenkes juga melakukan banyak hal untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah dengan mengajak influencer bekerjasama menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Baik para ulama, artis, selebgram, dsb. 

Menurut Dr. Benedictus, dengan kerjasama, kolaborasi berbagai pihak dalam menyampaikan informasi yang benar akan bisa menyeimbangkan dissinformasi di luaran sana. Kalo katanya Prof. Widodo, saring sebelum sharing. Pilah-pilah dulu data, cek faktanya di media-media dan jurnal terpercaya. Sebagai orang yang sudah terbiasa melakukan cek dan ricek, riset mendalam, pasti ga akan gampang termakan hoaks. Tulll? 

Hati-hati lah memilih berita. Karena menurut Prof Widodo maupun Dr. Benedictus, banyak sekali "orang-orang" yang "sengaja" memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan berita hoaks dengan tujuan tertentu, baik untuk propaganda maupun untuk kepentingan pribadinya. Mereka memanipulasi media sosial untuk mencapai tujuannya. So, kalau teman-teman terjebak hoaks dan ga cek-cek fakta dulu, berarti sama aja dengan menyerahkan diri untuk dimanfaatkan *upppss.

Semoga kita ga termasuk orang-orang yang dimanfaatkan dan dijadikan kendaraan orang-orang yang punya niat tidak baik ya. Yuuk biasa kan cek-cek fakta. Biasakan baca jurnal, penelitian ilmiah. Apalagi mahasiswa nih yang harusnya lebih pintar memilah info dan melakukan riset dan penelitian ilmiah, harusnya sih ga mudah terjebak fake info ya.

1 komentar

  1. Perlu banget ya vaksin, sebelumnya takut mendengar banyaknya berita hoaks tentang berita jika vaksin yang efeknya menakutkan dan lain-lain.

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Kirim email ke siswadi.maya@gmail.com