Kurang Zat Besi & Tidak Cocok Susu Sapi

Moooom, Bunda, siapa yang anaknya tidak cocok susu sapi? Cuuung!

Anak kedua saya, Ferdi, merupakan penderita alergi. Sementara kakak dan adiknya tidak mengalami. Walaupun 3F mendapatkan full Asi eksklusif hingga 6 bulan dan Asi sampai 2 tahun, hanya Ferdi saja yang mengalami alergi. 

Ferdi akan bersin-bersin, hidungnya meler terus menerus ketika berada dekat area berdebu. Kalau lagi berbenah, fyi anaknya senang bebenah, bebersih, Ferdi akan bersin-bersin tak berhenti, sampai ia menjauh dari sumber debu atau pakai masker.

Selain itu, dulu, saat makan udang, Ferdi pernah mengalami bentol-bentol di beberapa bagian tangan dan kakinya. Sejak itu ia selalu menolak jika saya buatkan masakan udang. Kalau pun terpaksa mau makan, ia akan mengambil dengan porsi yang sedikit, khawatir akan muncul bentol lagi di tangan dan kakinya.

Menurut ahli alergi, pemberian Asi eksklusif akan mengurangi resiko alergi pada anak. Tapi sayangnya itu ga berlaku pada Ferdi. Mungkin karena saya juga. Saya penderita alergi  yang sama dengan Ferdi. Cuma bedanya, saya dulu tidak  mendapatkan Asi.

Saya dan Ferdi juga sebenarnya tak cocok susu sapi. Ini saya amati ketika kami minum susu sapi, tak lama akan ke kamar mandi atau toilet dan buang-buang air dengan konsistensi lebih cair. Ya memang sih dampak alerginya ga berat. Kami masih "bandel" minum susu sapi dan produk turunannya 🤣, walau sesudahnya mules 😂.

Ternyata ya, kondisi tidak cocok susu sapi itu ada hubungannya dengan defisiensi atau kekurangan zat besi. Nah lho? 

Maksudnya, seseorang yang mengalami alergi tidak cocok susu sapi akan berpotensi kekurangan zat besi. Waduh😧. Kog bisa?

Sabaaar, nanti saya akan jelaskan hubungan antara kondisi tidak cocok susu sapi dengan defisiensi atau kekurangan zat besi.

Sekarang saya akan bahas lebih dulu tentang pentingnya zat besi bagi tumbuh kembang seorang anak.


Pentingnya Zat Besi

Tahukah moms, bunda-bunda, Zat besi itu dibutuhkan banget oleh tubuh. Buat apa sih zat besi? Buat bikin tubuh kuat kayak besi? Haiisssh *jitak 🤣🤣 

Zat besi dibutuhkan tubuh untuk memproduksi haemoglobin, komponen sel darah merah yang tugasnya mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Wah, penting banget dong ya fungsi si zat besi ini. Kalau sampai kekurangan zat besi, berarti tubuh kekurangan haemoglobin dong? Berarti produksi sel darah merah jadi terhambat? Tubuh bisa kekurangan sel darah merah dong? Bisa kekurangan oksigen juga? 

Wah, otak bisa berpotensi kekurangan oksigen ya? Yess. Jika tubuh kekurangan oksigen, biasanya jadi lemah, letih lesu, ya ga sih? Jika kekurangan oksigen, otak akan sulit berfungsi secara maksimal, jadinya anak sulit berkonsentrasi, gak fokus. Buntut-buntutnya, prestasi sekolah bisa terhambat.

     

Dampak Kurangnya Zat Besi
Dampak Kurangnya Zat Besi

Menurut Prof. Tati, Prof. DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc, pada webinar 31 Maret 2021 lalu, "zat besi dibutuhkan pada masa pertumbuhan, untuk mendukung perkembangan fungsi kognitif dan fisik anak"


Semangat belajar alergi
Semangat belajar alergi


Hubungan Zat Besi dan Tak Cocok Susu Sapi

Menurut Prof Budi, Prof. DR. Budi Setiabudiawan dr., SpA(K) M.Kes, pada Webinar bertema Pentingnya Kombinasi Unik Zat Besi dan Vit C untuk Dukung Tumbuh Kembang Si Kecil yang Tak Cocok Susu Sapi Dengan Maksimal, pada 31 Maret 2021 lalu bersama Prof. Tati dan beberapa Bunda Seleb, alergi merupakan suatu kondisi dimana tubuh salah mengenali suatu zat sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga tubuh bereaksi menolak sebagai upaya perlindungan. 



Prof. Budi menjelaskan beberapa kondisi yang bisa menunjukkan beberapa kondisi tubuh yang menunjukkan adanya alergi. 

Ada alergi yang akan terlihat gejalanya di bagian kulit, bentuknya bisa berupa ruam-ruam merah, ruam tersebut bisa saja gatal atau perih, ada juga yang bentuknya berupa bentol-bentol.

Ada juga dampak alergi yang mengganggu saluran pernapasan. Biasanya penderitanya akan sering batuk-batuk, pilek atau bersin-bersin, atau mata berair. Batuk-batuk dan bersin ini salah satu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan benda asing.

Ada juga yang alerginya mengganggu saluran pencernaan, biasanya penderita akan mengalami sakit perut atau diare, ada juga yang mengalami muntah.

Semua gejala alergi ini dalam rangka tubuh bereaksi terhadap zat yang "dianggap berbahaya".

Kondisi alergi yang mengganggu saluran pencernaan ini yang biasanya dapat memicu kekurangan zat besi.

Seperti apa hubungannya? 

Menurut Prof Budi, demikian beliau biasa dipanggil, kondisi alergi dapat meningkatkan risiko inflamasi atau peradangan pada saluran cerna yang dapat memicu blood loss

Kondisi ini tentu dapat meningkatkan resiko defisiensi zat besi. Kondisi luka peradangan pada saluran cerna juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi, termasuk zat besi.

Itu sebabnya Prof Budi menyarankan kepada para orangtua untuk melakukan tindakan 3K+.


Tanggap Alergi Dengan 3K+

Apa sih 3K+? Yuuuk kita bahas satu-satu yaaa.

Kenali Gejalanya 

Sebagai orangtua yang cepat tanggap, selalu berusaha mengenal anak sendiri, right? So, kenali tanda-tanda dan ciri-ciri alergi yang dialami. Jangan sampai salah dan tertukar dengan tanda penyakit lain ya mom's.

Kenali gejala alergi pada anak, terutama anak yang tidak cocok susu sapi. 

Perhatikan kulitnya, biasanya muncul ruam-ruam merah atau bengkak. 

Perhatikan juga, apakah saluran pencernaannya terganggu saat tak cocok konsumsi susu sapi? Misalnya sakit perut atau diare, bisa juga muntah. 

Ada juga yang mengganggu saluran pernapasan, biasanya si kecil jadi sering batuk-batuk, bersin-bersin, atau matanya berair. 


Tanggap Alergi dengan 3K+
Tanggap Alergi dengan 3K+


Pada masa Pandemi gini, beberapa gejala alergi pun bisa salah diartikan gejala Covid-19, seperti batuk atau bersin-bersin. Ferdi kalau mulai bersin-bersin langsung saya curigai. Kalau ga ada demam, agak tenang, berarti bukan virus Corona 😁. 

Konsultasikan Gejalanya

Saat orangtua mulai mengamati munculnya gejala alergi yang dialami anak, segera konsultasikan pada ahlinya, baik itu dokter, dokter anak, atau dokter ahli alergi.

Moms, bunda bisa mengkonsultasikan langkah penanganan yang tepat untuk mengatasi dampak alergi pada anak, baik secara langsung, via telpon, atau bisa juga online.

Kenapa harus konsultasi ke dokter? Karena dokter yang paling paham kondisi dan karakteristik alergi anak. 

Sebagai orang awam, kita orangtua mungkin hanya bisa menduga-duga saja, dan dugaan itu bisa saja salah, ya kan? Tapi jika konsultasi ke dokter, terutama dokter khusus alergi, pasti mereka lebih paham penanganannya.

Beberapa gejala alergi pada anak ada yang ringan, ada juga yang berat. Ada beberapa anak yang kalau alergi, bentolnya sampai bisa menutup saluran pernapasan, nah kalau gini, berbahaya kan?

Ada teman saya yang anaknya sulit makan dan pertumbuhannya nyaris terhambat karena orangtua baru sadar perlu datang ke dokter ahli alergi belakangan, setelah berkali-kali sang anak mengalami masalah pencernaan dan pertumbuhannya melambat. Untung penyebabnya bisa dideteksi oleh dokter ahli alergi, sehingga anak tersebut sekarang harus menjalani diet makanan khusus yang lebih sesuai dengan kondisi alerginya.

Kendalikan Gejalanya. 

Jika anak menderita alergi, orangtua perlu melakukan kendali terhadap alergi tersebut. Seperti kasus anak kedua saya Ferdi, alergen, alias pencetus alerginya, debu, dihindari, agar tak terpapar alergi lagi. Setidaknya diminimalisir jika alergen sulit dihindari.

Pada kasus anak yang tak cocok susu sapi, waspadai defisiensi zat besi dan zat-zat lain yang dibutuhkan tubuh.  Kebutuhan zat besi pada anak yang tak cocok susu sapi bisa terpenuhi, orang tua bisa mencari alternatif asupan pengganti. 

So, setelah mom, bunda, mengenali anak yang mengalami alergi, datang lah ke dokter untuk berkonsultasi. Setelah dapat saran dan masukan yang tepat dari dokter, segera lakukan tindakan, kendalikan alerginya. Jika anak tak cocok susu sapi, berikan asupan susu yang sesuai kondisinya.

Misalnya susu SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx yang baru-baru ini diluncurkan SGM dalam rangka memperingati Pekan Alergi Dunia. 

SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx
SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx

Inovasi baru dari SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx berupa kombinasi Zat Besi dan Vitamin C, IronC, Isolat Protein Soya berkualitas serta Minyak Ikan dan Omega 3&6 berguna untuk penyerapan nutrisi penting agar dapat mendukung anak yang tak cocok susu sapi tumbuh dan berprestasi dengan optimal.




Perhatikan juga makanan lain yang mengandung susu sapi, ini juga perlu diwaspadai. Jika memang memicu alergi, ya berarti dihindari atau ingredient-nya bisa diganti dengan susu soya. Nah bunda-bunda harus cerdik membuat kreasi makanan dan cemilan buat si kecil yang tak cocok susu sapi, harus lebih kreatif euuy.

Kembangkan Potensinya


Jangan lupa, tiap anak punya kesempatan mengembangkan potensinya secara maksimal, termasuk anak yang tak cocok susu sapi. Walau punya keterbatasan, tapi anak-anak yang tak cocok susu sapi  tetap punya hak untuk mengembangkan potensinya agar dapat berprestasi sesuai bakat dan kemampuannya dengan stimulasi yang tepat. Tak ada alasan membatasi aktifitas anak hanya karena ia mengalami (alergi) tak cocok susu sapi.

Jangan sampai lah anak yang alergi susu sapi jadi terhambat pertumbuhannya karena ga bisa konsumsi makanan atau minuman yang memicu alerginya. Misalnya mau makan keju ga bisa, minum es krim ga bisa, makan Pizza juga ga bisa karena ada kandungan susu sapi, dsb. 

Harus dicarikan alternatif pengganti agar tumbuh kembangnya tetap optimal. Jangan sampai terhambat hanya karena terbatas pilihan makanan dan minumannya ya bunda 😂.

Jika ragu-ragu dengan alergi anak, sebaiknya periksakan ke ahlinya supaya dapat penanganan yang tepat. Pas deh ada Festival Soya Generasi Maju.


Festival Soya Generasi Maju 

Festival yang berlangsung pada 23 Maret - 3 April 2021, SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx, bisa diakses di http://bit.ly/FestivalSoyaGenerasiMaju 




Banyak sesi seru pada festival ini, seperti sesi Tanya Dokter, yang memungkinkan para moms, bunda, mendapat informasi langsung dari para ahli seputar kondisi tak cocok susu sapi si kecil. 

Ada juga Sharing session, ajang berbagi tips dan cerita bareng para Celebrity Moms yang mendukung si kecil yang tak cocok susu sapi tetap tumbuh maksimal

Sesi Stimulasi Tips nih yang seru, kita para orangtua mendapat tips seputar pengasuhan,  mengembangkan potensi prestasi dengan stimulasi yang tepat untuk anak yang tak cocok susu sapi dari Psikolog Anak dan Keluarga.

Buat moms, bunda yang suka bingung mau menyajikan menu yang sehat bagi si kecil yang tak cocok susu sapi, ada sesi LIVE Cooking bersama Celebrity Chef yang mengajak para bunda berkreasi dengan resep sehat berbahan dasar SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx yang juga mengandung zat besi serta aman untuk si kecil yang tak cocok susu sapi.


Sharing Bunda Seleb


Oh ya, saat ikut Webinar pada 31 Maret 2021 lalu, hadir juga bunda Seleb seperti Natasha Rizky dan Revalina S. Temat yang sharing tentang alergi yang dialami anaknya.



Bunda-bunda seleb ini share, awalnya sempat cemas dengan alergi yang dialami si kecil, kini, mereka sudah bisa lebih tenang. 

Para bunda Seleb ini sudah tak lagi banyak khawatir dan tak lagi membatasi aktifitas si buah hati, karena anak yang tak cocok (alergi) susu sapi pun mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Setujuuu! Bahkan anak-anak bunda seleb ini kini sudah bisa berprestasi maksimal. Keren.

Sssttt, anak kedua saya Ferdi pun begitu, walau mengalami alergi, tapi tak menghambat prestasi dan potensinya. Ferdi yang sejak kecil suka menggambar, kini sudah bisa menghasilkan duit dari hasil desainnya 🤣🤣 *maaf emak sombong 😁😁. Maklum, emak mana yang ga bangga sama anaknya ye kan? Kalau kalian mau muntah baca ini, siapin kresek ya *kabooor.

Nah, teman-teman, para moms, bunda-bunda semua, punya pengalaman khusus kah terkait anak yang tidak cocok susu sapi? Share yuk, mari berbagi semangat dan pengalaman tentang anak-anak yang tak cocok susu sapi.

2 komentar

  1. Aku jadi ingat, Mbak Maya. Dulu anakku pernah kekurangan zat besi sampai HB endah banget dan diopname di HCU. Duh, waswas, jangan sampai kejadian lagi. Semoga inovasi SGM bisa membantu masalah alergi susu sapi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bahaya juga ya kekurangan zat besi bisa sampai diopname gitu

      Hapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Kirim email ke siswadi.maya@gmail.com