Perempuan Berdaya dan Ekonomi Maju

Budaya patriarki di Indonesia sejak lama menjadikan perempuan kurang berdaya dan sulit sejajar dengan laki-laki. Walau pun sekarang terlihat mulai sejajar, tetap saja masih banyak pakem-pakem budaya yang mengikat perempuan sehingga tak bisa benar-benar maksimal mengembangkan kemampuannya.

Contoh paling mudah seperti yang disebut pak Indra Gunawan- Deputi bidang Paetisipasi Masyarakat KPPPA "Laki-laki bisa pergi bekerja dengan tenang tanpa harus memusingkan urusan rumah tangga dan anak. Sebaliknya, saat perempuan harus berangkat bekerja, ia harus memastikan rumah sudah beres dan anak-anak terurus"

Kalau perempuan yang bekerja, muncul pertanyaan "Anaknya sama siapa? Siapa yang urus?". Tapi kalau laki-laki yang bekerja, seumur-umur ga ada kan yang nanya "Anak loe sama siapa bro?" Wkwkwkwk.

Ya, gitu lah nasib perempuan. Hingga di era maju sekarang ini pun masih begitu, huhuhu. Saya ngerasain hal ini. Ketika mau berangkat ngajar, saya harus bangun lebih pagi dan kadang tidur lebih malam. Demi mengurus rumah dan anak-anak hingga beres. Ketika kami, para pekerja perempuan berangkat kerja, segudang kewajiban tetap menanti kami. Menyiapkan makan, sarapan, hingga menyiapkan perlengkapan dan keperluan anak-anak dan suami. Tapi kalau laki-laki kan ga gitu.

Nah, kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak selama ini berupaya mengedukasi masyarakat agar memberikan kesempatan kepada perempuan untuk maju dan berdaya. KPPPA juga terus mengusung kesetaraan gender. 

Pada 3 Desember 2019 lalu, KPPPA bersama Viva.co.id mengadakan Vivatalk bertema "Perempuan Berdaya di Era Digital" di hotel Millenium, Jakarta.




Masalah kesetaraan gender selama ini memang susah-susah gampang, karena bukan hanya menyangkut budaya, tapi juga terkait agama dan konstruksi sosial yang ada di masyarakat. Seperti perempuan harus mengurus rumah dan anak, suami bekerja. Laki-laki dianggap ga pantas masuk dapur dan menggendong-gendong anak. Ini semacam konstruksi sosial yang sebenarnya bisa dirubah.

Pak Eko Bambang Sugiantoro dari Aliansi Laki-Laki Baru memaparkan sebuah pemikiran baru yang menarik dan belum banyak terjadi di Indonesia.



Menurut Pak Eko, ketidaksetaraan ini tak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga pada laki-laki. Jika memang ingin mengusung dan membuat perempuan berdaya, sekarang ini sudah bukan masalah lagi. Sudah banyak perempuan yang mampu dan berdaya dan bahkan punya kesempatan berdaya lebih dari laki-laki. Menurutnya, jika memang perempuan punya kesempatan lebih untuk maju, kenapa tidak? 

Mindset bahwa laki-laki harus mencari nafkah kadang juga memberi tekanan sosial tersendiri bagi laki-laki yang ingin mendukung istri yang punya kesempatan maju lebih tinggi. Ketika laki-laki lebih memilih mengurus rumah dan anak-anak lalu memberi kesempatan pada istri untuk maju, tekanan sosial padanya pun cukup berat. Laki-laki dianggap tidak pantas berada di rumah mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah sementara istri bekerja mencari nafkah. Padahal Laki-laki juga berhak mengurus anak, mengantarnya ke sekolah, dsb. Laki-laki semacam ini lantas dikucilkan secara sosial, dianggap remeh, dipandang sebelah mata. Ini pun menjadi masalah sosial tersendiri jika berbicara kesetaraan gender. Padahal, menurut mas Eko, laki-laki juga harusnya punya kesempatan sama kan? Jika perempuan punya kesempatan lebih maju, kenapa tidak memberi kesempatan itu? 

Wohoo .., pemikiran baru nih. Menarik.

Hmmm, jadi inget kasus saya dan suami, persis seperti yang diceritakan mas Eko ini. Suami saya sempat minder dan terus mendapat tekanan sosial, dianggap tak wajar memilih di rumah, sibuk mengurus dan mengantar jemput anak-anak sekolah karena tak ingin mereka diantar jemput orang lain. Dianggap aneh membiarkan istri bekerja sementara ia yang mengurus anak-anak. 

Baca : Peran istri saat suami tak berpenghasilan

Ibu Dr. Sri Danti Anwar, pakar gender menyebutkan, konstruksi sosial semacam laki-laki tak boleh menangis, laki-laki harus kuat, laki-laki harus mencari nafkah, perempuan ga boleh ikut campur, dsb itu masih bisa diubah. Yang ga bisa diubah kan cuma kodrat gender. Ga mungkin juga kan laki-laki hamil dan menyusui? *Tepokjidattetangga.

Terakhir, hadir Diajeng Larasati, Founder dan CEO Hijup, sebuah platform dan Marketplace fashion Muslim pertama di dunia. Diajeng yang berhasil menjadi perempuan berdaya di era digital ini menjadi inspirasi bagi para perempuan untuk bisa maju dan berdaya juga. Untungnya, Diajeng dikelilingi support system yang sudah terbuka dan memberi dukungan penuh bagi kesuksesan karirnya. Enak sih kalo udah begini, mau berprestasi maksimal juga rasanya sudah ga ada batasan. 

Menurut Diajeng, di era digital ini, banyak banget peluang dan kesempatan yang bisa membuat perempuan-perempuan maju dan berdaya. Mereka bisa memanfaatkan digital untuk berjualan online misalnya. Ga harus ke luar rumah kan untuk bisa membantu perekonomian keluarga misalnya.

Yang masih jadi peer bagi perempuan-perempuan adalah bagaimana ia bisa maju tanpa terganjal konstruksi gender selama ini. Yah, semoga saja, dengan era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, semakin banyak perempuan dan laki-laki yang terbuka terhadap kesetaraan peran-peran mereka. Laki-laki tak lagi canggung membantu istri dan mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga. Perempuan tak lagi dibebankan konstruksi gender.

Jika perempuan semakin berdaya, ekonomi pun semakin maju. Tak hanya ekonomi keluarga, tapi juga ekonomi bangsa. Percaya atau tidak, perempuan lah yang banyak bermain di usaha UMKM selama ini. Ini kan secara ga langsung menunjukkan bahwa perempuan pun bisa maju asal mendapat kesempatan. Apalagi di era digital ini yang secara ga langsung banyak menciptakan peluang-peluang bagi perempuan untuk berkarya dan memanfaatkan pangsa digital.

Tidak ada komentar

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com