Pages

Categories

IBX5B48708796EE3

Selasa, 21 Mei 2019

Cara Mengasah Kebesaran Hati Si Kecil

Punya anak yang punya empati, rasa peduli, cepat tanggap dan tanggap bersosialisasi itu pastinya anugerah, ya kan? Siapa sih yang ga senang punya anak yang punya rasa peduli tinggi? Anak yang tidak tinggal diam saat melihat teman atau saudaranya susah atau bersedih hati. Ringan tangan dan peduli pada orang tuanya. Punya kebesaran hati yang luar biasa.

Anak yang punya kebesaran hati, punya rasa empati tinggi, biasanya akan mudah merasakan kesusahan orang lain dan tidak segan-segan turun tangan membantu, tanpa diminta, tanpa dipaksa, apalagi disuruh-suruh. Anak yang punya rasa peduli akan dengan senang hati menolong, mengurangi kesusahan orang lain, dan memudahkan urusan orang lain. Anak yang punya rasa peduli tinggi biasanya juga tak segan berbagi. Mereka juga mudah bekerja sama, senang bergotong royong.

Menurut mba Roslina Verauli, M.Psi, anak yang mempunyai kebesaran hati, akan menunjukkan perilaku menolong, berbagi, atau bekerja sama, tergantung situasinya.



Sayangnya, untuk bisa sampai ke tahap seperti itu, bukan perkara mudah. Anak tidak ujug-ujug lahir langsung punya kebesaran hati. Butuh proses. Ada stimulasi yang perlu dilakukan orang tua.

Pada acara Bebelac Gathering pada 16 Mei 2019 lalu di Hotel Four Season by Sheraton, Jakarta Pusat, mba Vera, panggilan akrab mba Roslina Verauli, menyebutkan, ada 5 tahap perkembangan empati. 




Tahap Perkembangan Empati


Awalnya, rasa empati hanya bersifat refleks saja. Kalau ada anak lain nangis, dia ikut nangis. Kalau ada peristiwa mengharukan dan orang lain menangis, dia ikut menangis, tapi pada dasarnya mereka sendiri belum memahami apa yang membuat mereka ikut menangis. Rasa empatinya ya reflek aja sifatnya. 

Masuk ke tahap berikutnya, anak sudah bisa mulai merasakan empati, tapi empatinya ini masih belum tepat sasaran, empati tanpa batas. Bisa empati ke boneka, ke mobil, atau orang-orang yaang tak terlalu berhubungan dengan dirinya.

Masuk ke tahap ketiga, anak sudah mulai mampu berempati, tapi ya masih dalam konteks dirinya sendiri, sudut pandang pribadi. Bukan melihat dari sisi orang lain.

Tahap keempat, anak sudah mulai mampu berempati dengan cara yang tepat. Puncaknya, anak yang sudah mampu berempati dengan baik akan merasakan kesulitan orang lain berdasar sudut pandang orang tersebut. Ya, kalau istilahnya "put on other shoes".

Menurut mba Vera, punya rasa empati saja tak cukup. Ini hanya melahirkan manusia yang punya rasa peduli, tapi tak melakukan aksi. Untuk menunjukkan rasa peduli, perlu aksi nyata, ya yang tadi disebutkan di awal, menolong, berbagi, dan bekerja sama. 


Pada akhir sesi, mba Vera kembali menegaskan, untuk menumbuhkan dan mengasah kebesaran hati si kecil, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua. 

Cara Mengasah Kebesaran Hati Si Kecil :


1. Jadi Model

Anak butuh contoh konkret yang bisa ditiru, diimitasi, untuk melakukan aksi hebat. Bulan Ramadan ini adalah bulan yang tepat bagi orang tua untuk memberikan contoh cara melakukan aksi hebat. Peduli, menolong, berbagi, dan bekerja sama dengan orang lain. 

Misalnya, ajak anak berbagi makanan pada teman atau tetangga. Ajak anak membantu orang tua membuat makanan berbuka dan bersama membagikannya pada tetangga.

Cara ini sudah diadopsi oleh Shireen Sungkar yang hadir pada acara gathering hari itu. Shireen bercerita bahwa anaknya tampak sekali melakukan apa yang biasa ia lakukan. Misalnya saat anak-anak luka, maka ia akan menolong mereka, mencari perlengkapan obat, merawat lukanya, dan mendoakan kesembuhan untuknya. Rupanya, perilaku ini ditiru sang anak, Adam, ketika adiknya Hawa terluka. "Adik sakit ya, tenang, abang doakan dulu ya, biar cepat sembuh, nanti abang obati". Aih, so sweet kan?



2. Beri Kesempatan Berbuat Baik

Anak butuh kesempatan untuk berbuat baik agar ia punya pengalaman melakukan aksi hebat. Merasakan sensasi senang dan rasa bahagia telah berbagi. Anak yang mendapat kesempatan berbuat baik, akan punya pengalaman dan mampu merasakan empati yang lebih. 

Misalnya nih, ajak mereka berbagi makanan berbuka. Atau minta bantuan mereka mengantarkan makanan ke tetangga. 

3. Berikan Penguatan (Reinforcement)

Saat anak menunjukkan Aksi Hebat, berikan apresiasi. Berikan pelukan, ucapkan terima kasih, ucapkan selamat, dsb. Jangan sungkan mengatakan "aih, kakak hebat sudah bantu bunda, terima kasih ya kak".

Ini yang rajin saya lakukan saat anak-anak masih kecil (baca : mengasuh 3 balita tanpa bantuan asisten), memberikan apresiasi ketika mereka melakukan aksi hebat.

Mba Vera sampai membuatkan materi untuk orang tua agar mudah dalam memberikan stimulasi untuk anak, agar seimbang IQ, EQ, dan SQnya. Materinya dalam bentuk Flash card- Tips tumbuh kembang si kecil. Materi ini juga bisa diunduh di situs Bebeclub.co.id

Oh ya, mba Vera berkali-kali menyebutkan

"Untuk mampu melakukan Aksi Hebat, perlu kecerdasan berpikir. Kecerdasan berpikir diperlukan agar cepat tanggap memikirkan cara melakukan Aksi Hebat. Agar mempunyai kecerdasan berpikir, butuh nutrisi yang tepat"

Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, dokter ahli gizi, menyebutkan bahwa anak-anak di atas usia satu tahun, kemampuan berpikir, intelektual, emosi, dan sosialnya sedang berkembang sangat pesat. Hingga usia 2 tahun, alias 1000 hari pertama, semua berkembang pesat. Pada masa ini pula lah asupan nutrisinya perlu mendapat perhatian lebih, agar tumbuh kembangnya maksimal. 




Pada masa pertumbuhan ini, saluran cerna anak harus lah dalam kondisi sehat. Saluran cerna yang sehat dibutuhkan untuk dapat menyerap nutrisi secara optimal. Dalam usus terkandung 60-70% sel imun, 100 juta neuron. Usus juga menghasilkan 95% serotonin tubuh yang mempengaruhi mood atau emosi anak.

Nah seperti yang terlihat di slide presentasi ini, terjadinya peradangan pada dinding usus akan menyebabkan terjadinya nyeri perut dan perut tidak nyaman. Nyeri perut akan menimbulkan nyeri emosional, kelelahan, dan kecemasan. Perut yang tidak nyaman akan menimbulkan kecemasan. Hm, kog ini persis yang saya rasain ya kalo perut sedang tidak nyaman, bawaan cemas aja rasanya. See, saluran cerna memang berpengaruh banget terhadap mood ya.



Pada usia di atas 1 tahun, kebutuhan makronutrien dan mikronutrien pada anak harus terpenuhi, termasuk asam lemak esensial (AA, DHA), asam amino esensial, Vitamin A dan D, mineral (Besi dan Seng), plus prebiotik. Kenapa? Agar tanggap anak berkembang secara optimal. Tanggap secara intelektual, emosional, dan sosial.

Nah, mba Deska Hapsari Nugrahaini, Marketing Manager Bebelac menyebutkan bahwa Bebelac paham tentang perlunya anak punya tanggap yang lengkap, baik intelektual, emosional, dan sosialnya. Bebelac membantu orang tua agar dapat memberikan nutrisi dan stimulasi yang tepat bagi si kecil.

Bebelac yang merupakan bagian dari Nutricia yang sudah berpengalaman lebih dari 100 tahun dalam hal gizi, memperkaya susu pertumbuhannya dengan fish oil, omega 3 & 6 yang ditingkatkan, FOS:GOS 1:9 yang sudah jadi hak patennya Bebelac, plus vitamin dan mineral. Dengan kebutuhan nutrisi yang terpenuhi, anak jadi lebih siap menerima stimulasi. Tumbuh menjadi anak dengan tanggap yang lengkap, punya rasa peduli, cepat tanggap, dan tanggap bersosialiasi.

So, untuk mengasah kebesaran hati si kecil, punya rasa peduli, empati, orang tua perlu memberikan stimulasi yang tepat dengan konsisten. Agar anak cepat tanggap dan mampu melakukan Aksi Hebat, butuh kecerdasan berpikir. Kecerdasan berpikir bisa tercapai selagi nutrisinya tercukupi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com