Pages

Categories

IBX5B48708796EE3

SOCIAL MEDIA

Rabu, 07 Februari 2018

Peran Istri Saat Suami Tak Berpenghasilan

Namanya hidup, tak pernah bisa dipastikan akan selalu berada di sisi yang mana. Ada kalanya kita berada di atas. Tapi bisa saja suatu saat kita berada di titik terendah. Datangnya pun tak pernah bisa  diprediksi. Bisa datang sangat tiba-tiba, tanpa aba-aba!

Kalau kata pepatah "manusia cuma bisa berencana, Allah yang menentukan"





Beberapa tahun lalu, suami berhasil merintis usaha sendiri dan membangun toko komputer miliknya di sebuah ruko yang kami sewa dan jadikan tempat tinggal. Pada saat itu laptop belum sefamiliar saat ini. Hanya segelintir orang yang "sanggup" punya laptop, selebihnya hanya punya PC. Usaha toko komputer plus service komputernya ini laku keras. Banyak pelanggan yang datang mulai dari sekedar beli CD, mouse, sampai service komputer.

Sekitar 5 tahunan usaha ini berjalan lancar dan cukup sukses. Suami mulai ekspansi untuk membangun bisnis tambahan dengan membuka usaha studio rekaman dan sewa studio, memanfaatkan lantai dua ruko yang kami sewa. Sayangnya, usaha kedua ini tak terlalu mulus jalannya, malah menyedot modal kami. Tambah pula era penggunaan laptop mulai muncul. Pelan-pelan pengguna PC menurun hingga berganti ke era laptop. Perubahan ini pun membawa perubahan ke bisnis suami. Pelan-pelan usaha kami meredup hingga kami tak lagi sanggup menyewa ruko dan akhirnya mengungsi ke rumah mama saya.

Awalnya sih suami masih menerima service-service komputer hingga lama-lama sama sekali tak ada lagi pelanggan yang datang. Hanya tersisa 1-2 pelanggan yang datang hanya dalam 3-6 bulan sekali.

Dalam masa-masa seperti itu, apa yang bisa kami lakukan? Suami tak berpenghasilan, saya pun tak berpenghasilan. Kala itu saya belum mengajar, hanya di rumah saja mengurus anak-anak. 

Mendampingi suami yang sedang berada di titik terendah itu susah-susah gampang. Suami cenderung sangat sensitif dan mudah sekali tersinggung. Sebagai istri, saya harus pintar-pintar mencari cara yang tepat agar suami tetap merasa dihargai dan semangat untuk bangkit kembali.

Karena sensitif ini lah suami juga jadi gampang marah, ga percaya diri, mudah curiga sama orang dan kadang sulit dibangkitkan semangatnya. Kadang ia tenggelam dalam berbagai pikiran-pikiran buruk dan negatif.


Peran Istri Dalam Mendukung Suami



Tugas saya sebagai istri ya tentu saja berusaha memberi semangat. Tak hanya itu, harus juga berusaha sabar kala ia sedang berada pada kondisi emosi yang tak stabil. Berusaha memahami bahwa suami bersikap begitu karena sedang berada pada titik terendah, sedang tidak berpenghasilan. Harga dirinya terganggu karena merasa tak mampu memberikan nafkah pada istri dan anak-anak. 

Pada kondisi seperti inilah peran supporting diperlukan. Saya menjadi pendengar kala suami berkeluh kesah, berusaha memahami saat suami sedang merasa tidak nyaman dengan dirinya (biasanya jadi gampang marah, mudah tersinggung), dan berusaha membangkitkan kepercayaan dirinya. 


Baca : Bahagia itu, Kita yang Tentukan



Saat berbagai ide terlontar, saya berusaha jadi teman diskusi yang baik, mencari info tambahan untuk mendukung terlaksananya gagasan tersebut, pun mencari dana.

Kudu dijaga betul-betul supaya ia tak mudah tersinggung, dijaga supaya tidak mudah patah semangat, perlu terus diapresiasi supaya bangkit rasa percaya dirinya, harus terus diyakinkan bahwa ia bisa melakukan upaya untuk bangkit

Bisa saja sih saya memaksa-maksa suami untuk segera mencari alternatif sumber pendapatan, tapi jika upaya itu bolak balik gagal, mau dikata apa? Kerja sama dengan teman gagal, kalau ga dibayar, tenaganya dianggap gratis, atau ditinggalkan. Bikin usaha lagi mulai dari beternak Kenari, sampai Lele, gagal juga. Coba jadi comic dan menjajal peruntungan sebagai stand up comedian, masih jalan di tempat. Balik lagi nerusin passion lamanya sebagai pemain bass, music director, dan pengajar musik, ya still on process. Yang repotnya, suami juga idealis, bahkan terlalu idealis, ada standar tertentu yang ditetapkannya untuk bekerja, dan itu kadang-kadang menghambat kreatifitas. 


Baca : Secangkir Kopi untung Sang Musisi



Cara sederhana dan instan yang bisa saya lakukan sebagai istri untuk mendukung suami, ya cari pemasukan tambahan. Mulai dari membuat usaha baju menyusui dari sisa dana-dana yang ada, jualan online, hingga mengajar. Saya ga mau keluarga kami berlama-lama dalam keterpurukan. Anak-anak semakin besar, biaya sekolah semakin banyak, biaya hidup pun terus bertambah. Kami tak bisa terus menutup mata terhadap semua biaya-biaya yang harus keluar.


Baca : Teruslah Menulis Srikandi Blogger 2013



Tiba-tiba teman yang dulu saya tawarkan menggantikan saya mengajar, memberikan tawaran untuk mengajar kembali di tempat yang sama. Walau honor dosen tak tetap yang hanya mengajar seminggu sekali itu tak terlalu besar, tak lebih besar dari rate menulis sebuah blogpost, saya syukuri saja. Alhamdulillah masih ada pemasukan. Alhamdulillah juga sesekali masih ada pemasukan dari blogging . Walau tak besar, tapi lagi-lagi disyukuri saja. 


Baca : Menemukan Passion Saat #UsiaCantik



Ketika satu pintu tertutup, yakin saja akan ada pintu lain yang terbuka. Saya meyakini ini. Allah bekerja dengan caraNya. Kita tidak tahu apa yang Allah kehendaki dengan adanya suatu masalah yang diberikan. Menurut kita mungkin buruk, tapi bisa jadi, itu lah hal terbaik yang Allah berikan.

Mungkin saat ini kami berada di titik terendah, tapi bukan tak mungkin kami bisa mencapai titik tertinggi, right? Who knows?

Pernikahan dan cinta adalah perjuangan. Ada kalanya sangat mudah dilalui, tapi sering kali harus melalui banyak rintangan. Menaiki gunung, menuruni lembah, hingga menerjang badai. Seberapa kuat kita mampu melaluinya? Itulah ujiannya. Ujian untuk menguji komitmen.

Yang penting bagi saya, memberikan dukungan pada suami memang harus all out. Tidak hanya dukungan moril, spirituil, tapi juga materil. Ujian terbesar pada kondisi seperti ini tentu saja tabrakan antara supply dan demand. Kebutuhan banyak, tapi pemasukan kurang

Kadang, konflik emosional pun bisa saja terjadi, kalau sedang muncul perasaan sensitifnya. Merasa diri ga berharga, merasa dikucilkan, merasa kurang diberi dukungan, merasa kurang dihargai, dsb. Kalau sudah begitu, ya harus berpanjang sabar. Harus paham, perubahan sikap suami ini lebih disebabkan turunnya kepercayaan diri akibat tak punya penghasilan.

Kalau dipikir-pikir, "memperlakukan" suami, ga ada bedanya dengan memperlakukan anak-anak, istri perlu bersikap layaknya "orang tua" *ehhh... Kadang harus ditarik, tapi juga perlu diulur. Kadang harus dimanja, tapi perlu juga bersikap tegas. Kadang harus dilayani, terus didampingi, dan dijaga betul perasaannya agar tak mudah "retak" dan menimbulkan perdebatan... Harus pintar membaca situasi.


Ada yang punya pengalaman sama? Share donk!

67 komentar :

  1. Mbak Maya, been there, too! Ngerasain deh gimana rumah tangga diberi cobaan. Alhamdulillah bisa pelan-pelan melewatinya.

    BalasHapus
  2. Semua orang yang hidup pasti punya masalahnya sendiri-sendiri. Apalagi buat yang udah berkeluargar. Kadang masalah-masalahnya ngga bisa kita hindari, jadi ya mau ngga mau dihadapi. Masalah yang datang itu kaya ujian buat rumah tangga, kita mampu melewati atau ngga. Saling support, saling memahami, dan saling mengerti, adalah kunci.

    Semoga ujian-ujian yang sedang diberikan akan membuat mba maya menjadi lebih baik dan naik level :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul, rumah tangga itu ujian banget-banget, seberapa sanggup kita melalui ini

      Hapus
  3. Mbak Maya, perjalanan setiap orang mampu menjadi pelajaran dan hikmah buat orang lain ya. Bersyukur suami diberikan istri yang memahami bahwa perannya sebagai supporting suami angat dibutuhkan. Iya Mbak, semua harus dijalani dan disyukuri, serta sembari ikhtiar dan terus berdoa yaaa. Suskes dan sehat selalu Mbak Maya dan keluarga

    BalasHapus
  4. Setiap rumah tangga punya ujiannya sendiri-sendiri. Ada yang diberi ujian ekonomi, ada yang ujian keturunan, ada yang dikasih ujian relationshipnya sekarang tergantung kita mampu atau nggak buat melewatinya karena semua ujian pasti ada ujungnya selagi kita mau berdoa dan berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap ujian untuk mengukur ketahanan kita. Semoga kita mampu melalui tiap ujian ya dew

      Hapus
  5. Dari awal nikah hingga sekarang, penghasilan saya jauh lebih besar dibanding suami. Tapi saya harus bisa ikhlas. Tetap bersyukur, karena Allah memberi rejeki lewat suami, dalam berbagai bentuk yang tak disangka-sangka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada kondisi begini, kesabaran kita diuji banget-banget ya mba *peluuk. Semoga kita jadi orang yang dimampukan untuk melalui semua rintangan

      Hapus
  6. Kalau udah suami yang sensitif kita istri emang perlu ekstra sabar ya mbak. Karena yang difikirin tetep rumah dan anak.

    Semoga semua yang diberi cobaan tetap dengan kekuatannya untuk bangkit kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Irni, ini juga ujian buat istri, sanggup ga melalui ini semua

      Hapus
  7. Halo mbak, salam kenal ya. Suamiku juga usaha. Sy juga tidak tau besok seperti apa. Tapi setiap ujian keluarga sudah diatur kapasitasnya sm Allah. Salut mbak bs lewatin ujian itu. Sepakat bahwa bagaimanapun kondisinya, kita sbg istri harus memberi semangat.
    Semoga setiap ujian membuat kita semakin kuat dan tangguh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, Allah sudah mengatur kapasitas kemampuan manusia. Itu juga ujian buat kita

      Hapus
  8. Pernah juga mengalami ini mba, terutama pas awal menikah, suami bahkan belum kerja, jadi pas 3 bulan pertama jadi suami istri suamiku baru dapat kerja, rasanya bersyukur banget, walaupun dapat kerja di pedalaman gpp, asal ga LDR, asal kerja, asal halal. Justru masa2 itu jadi pengingat diri utk banyak2 bersyukur. Selalu ada jalan mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya, Allah bekerja dengan caraNya, yang penting asal mau menjalani, Insya allah ada jalan

      Hapus
  9. Sebuah tulisan berfaedah yang saya baca di pagi ini, terima kasih sudah berbagi, Bunda. Tulisan ini dapat memberikan saya gambaran dan pandangan tentang bagaimana nanti saat sudah berumah tangga dan berkeluarga, sekali lagi, terima kasih banyak, Bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ya Riduan, jangan lupa dishare ya, jika hal ini bisa bermanfaat buat kamu dan teman-temanmu. Mudah-mudahan bisa memberi gambaran buat yang belum berumah tangga

      Hapus
  10. Suami istri saling support insyaAllah badai berlalu ya mbak. Tengkyu sharingnya, semoga aku dan suami jg bisa saling bergandengan tangan meski arus sungai yg dilalui deres :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pril, support selalu, baik suami atau istri. Pernikahan adalah perjuangan kedua belah pihak

      Hapus
  11. Semangat ya mbaaa... Ini tulisan yg wajib dibaca mereka2 yang ingin nikah muda. Biar tahu kalo nikah itu nggak segampang kelihatannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nikah itu bukan cuma enaknya, tapi harus juga mau bersama-sama merasakan pahit getirnya *eciyeee

      Hapus
  12. Mba Maya, tak mudah tentunya berada dalam posisi mba Maya dan suami. Sensitifitas suami tuh yang harus dijaga. Alhamdulillahs emoga semakin kuat menjalani ya. Aamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul, sensitifitas suami ini yang bisa memicu konflik dan stress

      Hapus
  13. Permasalahan dalam rumah tangga pasti berbeda-beda ya mba. Walaupun aku belum berumah tangga tapi aku paham banget kondisi ini. Aku termasuk yang percaya "kala 1 pintu tertutup, pasti yg lainnya akan terbuka" hihi. Semangat terus mba & keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran kala nanti berumah tangga ya Zeil

      Hapus
  14. Ahh, ngerasin banget Mak, suka duka berumah tangga, aku pernah ngalamin suami kena phk beberpa kali, duh dunia berasa sejenak kiamat hahhaa.Ya disinilah diuji, iman, kesetiaan, emosi seorang isi untuk selalu memberikan dukungan yang terbaik.Ah semangat mak, insyaallah selalu ada jalan keluarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahhh, toss teh Nchie, semangaat, semoga badai pasti berlalu ya teh

      Hapus
  15. Yah, pernah merasakan juga..saat perusahaan tempat saya bekerja tutup dan harus di-PHK.

    Rsanya ruwet banget.

    Cuma Alhamdulillah karena istri lumayan sabar dan terus menyemangati, akhirnya periode itu bisa lewat juga. Tidak mudah, tetapi bisa diatasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, berterima kasih lah terhadap istri yang terus berusaha sabar dan mendampingi ya pak. Peran istri tentu sangat besar dalam menemani bapak melewati badai, right?

      Hapus
  16. Suamiku juga wiraswasta, mba...keukeuh ga mau kerja sama orang atau kerja duduk diam.
    Resikony, pendapatan naik-turun.
    Tapi in syaa Allah disyukuri saja.

    Allah maha tahu yang terbaik untuk hambaNya.
    Yang perlu diyakini adalah...rejeki sudah pasti, ikhtiar mesti maksimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, sama, kata suami, kalau mau kaya, ga bisa cuma jadi pegawai, harus jadi "pengusaha". Baik, lah, mari kita beri semangat terus

      Hapus
  17. Saya belum pernah mengalami hal ini. Jadi saya hanya berharap semoga Mbak Maya dan keluarga tetap semangat. Insya Allah, akan selalu ada rezeki. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga kami selalu dimudahkaan dalam segala urusan ya

      Hapus
  18. Salam kenal Mbak Maya.

    Ya Allah, aku merasakan banget ini mbak. Aku dan suami sama-sama bekerja freelance. Ada kalanya penghasilan suami lagi seret, jadi memang harus sama-sama kerja keras. Karena ya itu mbak, rejeki memang datang dari mana saja dan tak terduga.

    Alhamdulillah kini berangsur membaik karena kekuatan dan keyakinan masing-masing dari kami. Toh kami juga selalu berusaha, tidak nunggu enaknya saja. :)

    Makasih sharingnya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat terus ya, semoga suatu saat kita ditunjukkan jalan yang tepat ya

      Hapus
  19. Template nya ganti ya mak? Hehe oot.

    Aku setuju, jika suami sedang tdk berpenghasilan, sbg pasangan hrs tetep support dengan aksi nyata, biar jiwanya ikut tenang. Ada kalanya mereka juga baper, namanya juga manusia, bukan superhero hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiiihhh, merhatiin aja nih mak Lia. Iya maaak, templatenya ganti, cuma memang belum rapi banget. Biar ringan sih maksudnya

      Hapus
  20. salut deh sama mbak, krn memang sulit bagi suami kalua gak punya pekerjaan , bakal stres dan istri hrs sabar sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iyap, itu pasti, stress yang akhirnya berakibat pada perubahan perilaku, jadi sensitif dan mudah baper

      Hapus
  21. Pernah banget merasakan mbak...
    Setelah 15 tahun menikah ujian datang dan pergi, kita sebagai istri harus kuat yahan banting yah mbak...

    Semoga kita selalu dikuatkan yah mbaaak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbaaa, jadi istri memang harus tahan banting, jadi bempernya suami kalau lagi begini :). Semoga kita selalu dikuatkan ya mba

      Hapus
  22. Memang perlu kesabaran dan pengertian besar ya, mbak dari kita sebagai istri jika menghadapi kondisi seperti itu. Saya sendiri gaji juga lebih besar dari suami. Kadang harus benar-benar nahan diri biar nggak ngomong hal-hal yang mungkin membuat suami tersinggung terkait pekerjaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu kuncinya, harus benar-benar bisa menahan diri supaya ga bicara hal-hal yang bisa merendahkan harga dirinya, ini yang sulit.

      Hapus
  23. saya lagi deg-degan mba, suami ditunda gajiannya. Takut suami nggak gajian lagi. alias perusahaannya ditutup. jadi semangat ya mba, biasanya kalau suami nggak punya uang, kita selalu nyalahin suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu, ini yang harus dijaga bener-bener mba, menyalahkan suami bisa menyulut pertengkaran. Kita harus pintar-pintar menjaga pembicaraan agar suami tidak tersinggung dan bisa bangkit lagi semangatnya, bukan menambah ruwet pikirannya. Bantu suami tenang, agar pikirannya bisa jernih memikirkan solusi

      Hapus
  24. Salut dgn semangatnya yg menginspirasi.. Kebetulan situasi yg sama dgn saya saat ini.. Suami saya resign dari pekerjaan sejak awal Januari 2018.. Bedanya saya bekerja shg dari sisi finansial msh bisa bertahan.. Tapi tetap saja ini menjadi titik terendah dlm hidup kami.. Semoga kami bisa bangkit..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat ya mba, semoga suaminya segera bisa bangkit kembali ya

      Hapus
  25. pernah mba, suami saya juga pas kena PHK bbrapa bulan ga kerja ya kita cuma bisa doa dan berharap dia ga down karena bagaimanapun pemimpin keluarga harga dirinya dipertaruhkan. alhamdulillah bbrp bulan kemudian dapat kerja lg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia mba, harga diri sebagai kepala keluarga itu yang biasanya mengusik laki-laki ketika ia tak berpenghasilan

      Hapus
  26. Walau suami jobless, bukan berarti suami gk ada andil atas rejeki yg didapat istri. Istri bisa dpt rejeki materi jg pasti krn andil suami. Intinya, Allah itu adil lah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, pasti ada andil suami. Suami istri saling support agar rumah tangga berjalan dengan baik ya noe

      Hapus
  27. Hmmm pernah ngalamin situasi mirip-mirip kayak gini, cuma beda peran. Bukan sebagai istri tapi anak. Big hug for you mbak. Semangaaaat...insya allah semua ada hikmahnya...Allah Maha Baik di setiap kondisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti yang dimaksud orang tua ya? Ayahnya Vie kan?

      Hapus
  28. Pengalaman hidup rumah tangga Di saat itulah cinta di uji

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mpo, pada masa-masa seperti ini lah cinta dan kesetiaan diuji *haish, sok tinggi bahasanya

      Hapus
  29. Semoga masa2 sulitnya segera terlewati mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih mba. Semoga kita semua diberikan keberkahan ya

      Hapus
  30. Keknya aku udah mampir sini deh waktu ODOP, kok komenku ga muncul ya.
    Alhamdulillah badai telah berlalu. Salut dengan kerukunan keluarga Mbak Maya dan Pak Siswadi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah muncul buuuk, tuh yang paling atas, nama Helena itu bukannya dirimu ya?

      Hapus
  31. Pernah mengalami hal ini, saat awal2 menikah. Alhamdulillah bisa melewati ini

    BalasHapus
  32. Mbaknyaaa ini tulisan bagus banget! Inilah kenapa perempuan harus berdaya apa pun statusnya. Kalo kondisi ini terjadi kita bisa jadi penopang. Makasih sudah menuliskan ini. Saya izin share ya.

    BalasHapus
  33. Sy pernah ada d posisi mirip itu mba usaha buka usaha trus gulung tikar untungnya suami ga lepas status karyawannya tapi tetap klo ga saling sabar dan pengertian berabe krn masalah itu suami sensi, keuangan keluarga minus banyak

    BalasHapus
  34. Ya Allah Bun bahasannya berat sekali. Membuat saya jadi berpikir jija nanti berada di posisi seperti itu, saya harus kuat seperti Bunda. Iyq, laki-laki itu di saat merasa dirinya lemah, jadi mudah tersinggung ya. pelajaran juga buat saya

    BalasHapus
  35. Thanks sharing nya mba Maya, memang ujian sesuai kapasitas masing2 ya dan pasti bisa terlewati

    BalasHapus
  36. Aku pernah ngalamin, mbak May. Di tahun 2006 suami resign dan mencoba usaha sendiri. Tapi namanya baru merintis kan jatuh bangun banget, banyakan jatuhnya. Saat-saat spt itu lumayan kritikal buat suami yang punya tanggung jawab menafkahi, jadi lebih sensitif pula. Jadi saya sbg istri harus hati-hati banget dan support terus sampai akhirnya bisa terus berkarya sampai skrg. Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
  37. Mba, mohon sarannya. Saya baru menikah 5bulan. Dan ini termasuk 5bulan yg tidak mudah. Bisa dibilang saya menikahi pria yg blm siap menikah karena dipaksa orang tuanya dan skrg saya harus terima akibatnya. Suami saya cenderung malas dia tdk mau bekerja kalau tdk sesuai yg dia mau jdi beberapa bulan ini dia tdk ada pekerjaan apapun dan uang tabungan kami jg mulai menipis. Saya ada pekerjaan dan akhir2 ini suami saya cemburu dgn smua yg saya krjakan diluaran sana yg pdhl saya hanya seorang guru. Dia setiap hari selalu mencari kesalahan saya ada saja hal yg membuat dia marah dgn saya kadang saya tdk melakukan apapun dia bisa marah yg saya fikir hal ini trjadi krna dia jobless. Lama2 saya merasa tidak tahan karena suami saya tempramen ketia fia marah tdk hanya makian dan umpatan yg membuat saya sakit hati dia jg kerap memukul. Jujur saya ingin bercerai tapi saya tkut dalam proses perceraian membuat semakin parah bisa2 dia dtg ke tmpt kerja saya dab ribut disana karena pasti kami masi tinggal dalam satu kota. Mohon sarannya

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com