Pages

SOCIAL MEDIA

Selasa, 22 Mei 2018

Cinta Terencana, Saat Yang Muda Berencana

Punya keluarga bahagia, sejahtera, dan selalu rukun, dengan anak-anak yang pintar dan sholeh-sholeha. Siapa yang ga mau? Keluarga impian banget kan ya?

Tapi untuk mencapai keluarga seideal itu bukan perkara mudah.

Dulu saya mengira, dengan menikah, selesai urusan. Ternyata ya, ya Allah, perjuangannya luar biasa. Banyaknya "ujian" dalam rumah tangga harus mampu dihadapi jika menginginkan pernikahan yang langgeng.

Kedewasaan dalam berpikir, bersikap, bertindak, benar-benar dibutuhkan dalam hal ini. Ketika rumah tangga sedang dalam masa konflik, mampu kah kedua belah pihak menghadapi dengan tenang?


Baca : Saat Suami Tak Berpenghasilan

Menurut mba Roslina Verauli, M.psi, untuk dapat membentuk keluarga ideal, saat akan menikah hendak lah sudah siap secara emosional, siap secara finansial, dan bertanggung jawab.





Berapa sih usia ideal untuk menikah?


Jika mengacu pada undang-undang pernikahan, ibu Eka Sulistya Ediningsih direktorat Bina Ketahanan Remaja BKKBN, pada acara blogger gathering bersama Blogger Plus Community pada 8 Mei 2018 lalu di Museum Penerangan TMII menyebutkan bahwa wanita sebaiknya menikah di usia minimal 21 tahun, dan pria di usia 25 tahun.

Lha, gimana kalau mau menikah di usia yang lebih muda?

Naini, mba Vera menguatkan pernyataan ibu Edy. Pada usia 20 tahunan, seseorang dianggap sudah matang, mampu bertanggung jawab, mampu mengatasi konflik, dan lebih siap mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga.

Sebaliknya, jika menikah di bawah usia itu, belum terlalu siap secara biologis, secara psikologis apalagi. Kematangan secara psikologis umumnya baru tercapai di usia 20an saat individu memasuki fase dewasa awal. Sudah banyak diteliti korelasinya. Pengaruh usia dan kematangan psikologis.

Beberapa pernikahan "dini" buntut-buntutnya berujung pada perceraian, rumah tangga yang berantakan, atau ketidakmampuan ibu dalam mendidik anak sehingga menghasilkan anak yang berkualitas kurang baik.

Dulu, hampir saja saya memutuskan menikah muda, di usia 20 tahun, saat masih kuliah. Tapi, pada akhirnya saya menikah saat menginjak usia 25 tahun. Dan kini saya bersyukur.

Seandainya saya jadi menikah di usia 20, mungkin emosi saya masih ga stabil, gampang marah, cepat tersinggung, sulit berpikir panjang, dsb. Hal-hal yang seperti ini bisa memicu konflik rumah tangga nih.




Ternyata, dengan lebih sabar menunggu saja sudah dapat membuat saya lebih dewasa dalam menghadapi masalah rumah tangga. Ketika stabilitas rumah tangga diuji, kehilangan sumber penghasilan, bermasalah dengan mertua, orang tua, setidaknya saya jauh lebih mudah cooling down.

Pada saat-saat bermasalah seperti ini lah baru terasa bahwa cinta saja tak cukup. Indahnya cinta memang melenakan. Tapi tanpa kedewasaan, mustahil akan abadi.

Baca : Bahagia itu Kita Yang Tentukan


Cinta Terencana


So, bagi kalian, adik-adikku yang sedang dimabuk cinta dan sedang berpikir membangun keluarga di usia "dini", coba lah berpikir ulang. Yakin kah kalian akan sanggup menghadapi masalah rumah tangga yang pelik? Silang pendapat dengan mertua, konflik dengan tetangga, suami kehilangan pekerjaan? Ada banyak hal di dunia ini yang akan kalian hadapi.

Jika sanggup, sanggup kah kalian bekerja sama sebagai team, bahu membahu mengatasi masalah? Anak sakit, kontrakan habis, uang minim?

Yuk, buat cinta terencana dalam berkeluarga. Dimabuk cinta sih boleh-boleh aja, tapi tetap kontrol diri. Tetap waras. 

Rencanakan berkeluarga pada saat tepat dengan jumlah anak yang juga cukup. Jumlah anak yang ideal menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), adalah cukup 2, dengan jarak kelahiran minimal 3 tahun. Kenapa? 

Dengan jumlah anak yang tidak terlalu banyak dan jarak yang cukup, keluarga akan lebih fokus dalam memberikan pendidikan yang terbaik. Keuangan akan jauh lebih stabil dan perhatian pun tak terlalu banyak terbagi.

Selasa, 15 Mei 2018

Yuk Periksa Lupus Sendiri, Saluri

Ada yang udah pernah dengar tentang Lupus? Ini bukan nama tokoh novel yang pernah hits di tahun 90 an lho ya kakaaak... Ga ada hubungannya.

Lupus yang saya maksud adalah Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Salah satu jenis penyakit autoimun, yaitu ketidakmampuan sistem kekebalan/pertahanan tubuh mengenali benda asing, malah menyerang sel tubuh sendiri yang sehat. So, penyakit ini bukan disebabkan oleh virus atau bakteri ya.

Seringkali yang jadi masalah, gejala Lupus mirip banget penyakit lain, sehingga sulit dideteksi. Itu sebabnya LES juga dijuluki penyakit seribu wajah, saking mirip dengan banyak penyakit lain. Walau umumnya diderita oleh perempuan usia produktif (15 - 50th). Diduga karena faktor hormonal, karena angka kekambuhan biasanya meningkat menjelang menstruasi. Walau ada juga yang menduga adanya unsur genetik dan lingkungan yang mempengaruhi. Stres, paparan sinar matahari, asap rokok, diduga jadi faktor penyebabnya.

Sekretaris Dirjen Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM), dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA pada 8 Mei 2018 lalu menyebutkan, Kementerian Kesehatan, melalui direktorat P2PTM berjuang keras menurunkan angka kejadian berbagai jenis penyakit tidak menular, termasuk Lupus. Beban ekonomi yang ditanggung negara untuk menangani kasus yang sudah mencapai angka 5 juta pasien di dunia ini cukup besar.  So, lebih baik mencegah daripada mengobati kan? Apalagi obat-obatan pasien Lupus ini cukup mahal, harus dikonsumsi seumur hidup pula. 

Beberapa obat-obatan untuk mengobati Lupus, belum masuk daftar obat yang direkomendasikan. Akibatnya, beberapa obat-obatan tidak tercover oleh BPJS, akhirnya, pasien LUPUS mengeluarkan biaya cukup mahal untuk obat-obatan yang wajib dikonsumsi. Ini juga yang menyebabkan banyak yang putus obat dan tidak sanggup meneruskan terapi. 

Direktorat P2PTM sedang mengusakan beberapa obat-obatan Lupus bisa masuk daftar DOEN  (Daftar obat esensial nasional), sehingga bisa dicover BPJS.

Narasumber pada Media Briefing Saluri, 8 Mei 2018
Narasumber pada Media Briefing Saluri, 8 Mei 2018

Salah satu ciri khas lupus adalah adanya ruam merah di wajah yang berbentuk seperti kupu-kupu, melintang dari hidung sampai pipi. Itu sebabnya penyakit yang satu ini mengambil simbol kupu-kupu.



Menurut dr. Sumariyono SpPD, KR, MPH, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Reumatologi Indonesia, salah satu tanda lain yang perlu dicurigai adalah panas atau demam tinggi (lebih dari 38 derajat celsius) yang ga kunjung sembuh dan tanpa sebab yang jelas.

Hal ini diaminkan oleh Tiara Savitri, pendiri Yayasan Lupus Indonesia. Mba Tiara yang sudah mengalami Lupus sejak tahun 1980an ini bolak balik mengalami demam selama berbulan-bulan, tanpa indikasi yang jelas. Kalau ga dikira Types, ya demam berdarah. Tapi, hasil cek darahnya tidak satu pun yang sesuai indikasi penyakit tertentu. Sampai akhirnya ada seorang dokter penyakit dalam yang curiga kalau mba Tiara menderita Lupus.




Yuk Periksa Lupus Sendiri, Kenali beberapa gejalanya
Yuk Periksa Lupus Sendiri, Kenali beberapa gejalanya

Selain  demam yang tak kunjung sembuh dan tanpa sebab, bisa juga ditandai adanya pembengkakan di leher, masalah ginjal, atau nyeri di persendian. Pasien Lupus juga biasanya sensitif terhadap sinar matahari. 


Gejala Lupus



Demam lebih dari 38 derajat Celsius dengan sebab yang tidak jelas

Rasa lelah dan lemah berlebihan

Sensitif terhadap sinar matahari

Rambut rontok

Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang melintang dari hidung ke pipi

Ruam kemerahan di kulit

Sariawan yang tidak kunjung sembuh, terutama di atap rongga mulut

Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari 2 sendi dalam jangka waktu lama

Ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin

Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas panjang

Kejang atau kelainan saraf lainnya

Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium (atas anjuran dokter) :
Anemia : penurunan kadar sel darah merah
Leukositopenia : penurunan sel darah putih
Trombositopenia : penurunan kadar pembekuan darah
Hematuria dan proteinuria : darah dan protein pada pemeriksaan urin
Positif ANA dan atau Anti ds-DNA.

Jika ada 4 gejala saja yang muncul dari keseluruhan gejala tersebut, maka perlu datang langsung ke fasilitas kesehatan terdekat, konsultasi lah ke dokter di Puskesmas, atau rumah sakit.

Sebenarnya, hingga kini, Lupus belum bisa disembuhkan. Tujuan pengobatan lebih kepada meningkatkan usia harapan hidup, mengurangi tingkat gejalanya, dan mencegah kerusakan organ yang lebih parah. Asal pasien disiplin melakukan pengobatan dan patuh terhadap petunjuk dokter. 


Hidup Normal bersama Lupus



Mba Tiara Savitri yang aktif banget dengan berbagai kegiatan Yayasan Lupusnya, mulai penyuluhan ke berbagai daerah, hingga aktif kampanye dan mengedukasi di berbagai instansi, bahkan berhasil naik beberapa gunung lho. Ini membuktikan, bahwa Odapus (sebutan untuk orang dengan Lupus), tetap bisa menjalankan hidup normal, tanpa tergantung orang lain. Bahkan bisa menikah dan punya keturunan.


Tiara Savitri, Ketua Yayasan Lupus Indonesia, berbagi pengalaman
Tiara Savitri, Ketua Yayasan Lupus Indonesia, berbagi pengalaman

Mba Tiara menyebutkan, odapus tetap bisa menjalankan hidup normal dengan menjalankan pola hidup dan makan yang sehat. 

Cara menjalankan hidup normal bagi odapus menurut dr. Sumariyono

Hindari aktivitas fisik yang berlebihan
Hindari merokok
Hindari perubahan cuaca karena memengaruhi proses inflamasi
Hindari stres dan trauma fisik
Diet khusus sesuai organ yang terkena
Hindari paparan sinar matahari secara langsung, khususnya UV pada pukul 10.00 hingga 15.00
Gunakan pakaian tertutup dan tabir surya minimal SPF 30PA++ 30 menit sebelum meninggalkan rumah
Hindari paparan lampu UV
Hindari pemakaian kontrasepsi atau obat lain yang mengandung hormon estrogen
Kontrol secara teratur ke dokter

Minum obat secara teratur

Pola gizi seimbang ini diterapkan betul oleh mba Tiara. Mba Tiara lebih sering mengkonsumsi sayur & buah. Bahkan dijadikan camilan nih sayur & buahnya.

Nah teman-teman, jika diantara tanda-tanda lupus ada yang kalian alami, jangan ragu untuk segera ke dokter ya.

Minggu, 13 Mei 2018

Alfatrex, Solusi Baru Pengiriman Barang

Antrian di kasir Alfamart malam itu menyisakan 3 orang. Sambil menunggu, saya melempar pandangan ke arah luar. Pandangan saya lantas tertumbuk pada truk box berwarna putih bertuliskan Alfamart di sisi kiri dan kanannya. 

Beberapa pegawai Alfamart tampak sibuk menurunkan keranjang berisi aneka produk, memeriksa isinya, menghitungnya, lalu mencatat dan menuliskannya di selembar kertas, sepertinya daftar check list barang yang dikirim. 

Saya terus mengamati truk ekspedisi yang bolak balik menurunkan barang."ah, coba kiriman paket bisa dititip ke kurirnya, sekalian jalan kirim barang ke beberapa toko Alfa yang lain, pakai truk ini", gumam saya dalam hati. Teringat paket yang sudah ditenteng ke sana sini, tak kunjung sempat ke agen pengiriman.

Rejuv Skin Nutraceutrical, Upaya Cantik dari Dalam

Siapa perempuan yang ga mau cantik. Ya ga sih. Rata-rata perempuan pasti ingin punya wajah cantik, rambut indah, tubuh sehat, dan kulit sehat terawat.

Tapi, untuk mendapatkan semua itu ga mudah lho. Ga semudah hujan turun dari langit.

Kamis, 10 Mei 2018

Kaum Muda Invest Properti? Why Not? Cek PropertyExpo.id

Beberapa waktu lalu, saya menulis status di facebook "emang bener deh, kalau mau punya rumah itu, baiknya sebelum nikah/sebelum punya anak/sebelum anak-anak mulai sekolah"



Selasa, 08 Mei 2018

Essential Steamer Blender & Festival Ibu & Buah Hati

Menjadi ibu itu adalah anugerah terindah yang bisa dimiliki seorang perempuan, ya ga sih? Walau pun, menjadi ibu juga bakal membuat perempuan sibuk luar biasa, "sibuk" dalam waktu tak berbatas, dari pagi hingga pagi lagi.

Yap, seorang ibu itu "kerja"nya serabutan dan ga tentu waktu. Bisa jadi manager, guru, guru les, konselor, driver, sekretaris, finansial planner, advisor, sekretaris, baby sitter, ART, ahli gizi, tukang masak, tukang kue, body guard, tukang cuci, dsb. Ya ampun, kalau mau dihitung gajinya, berapa lah ya?

Sebagai seorang ibu, yang mendapat tanggung jawab dan porsi lebih besar dalam memberikan perlindungan dan pendidikan pada buah hati, seharusnya lah mempunyai bekal pengetahuan yang cukup. Entah bekal dalam mendidik, mengasuh, merawat, hingga memberikan nutrisi yang tepat bagi keluarga. 

Hal ini pula yang menjadi concern Komunitas Cerita Ibu Cerdas (CIC) yang digawangi oleh Fairus Faisal. Iloet, demikian ia biasa disapa, membuat berbagai rangkaian Fun Group Discussion setiap bulannya bersama para rekan artis, ibu-ibu muda yang haus ilmu terkait pengasuhan maupun nutrisi. Mereka berbagi info melalui akun sosial media para anggotanya yang berjumlah 65 orang, ibu dengan anak usia 0-7 tahun.

Karena animo masyarakat cukup tinggi terhadap isu ibu dan anak, tercetus lah keinginan membuat Festival Ibu & Buah Hati. Komunitas CIC pun menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, mulai pemerintah kota Tangerang Selatan untuk urusan administrasi dan perijinan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dalam rangka memberikan dukungan dan awareness terhadap perlindungan anak, Stop kekerasan anak, hingga para sponsor dan tenant pengisi acara.

Kenapa akhinya memilih Kota Tangerang Selatan?

"Sederhana aja sih, sebagian besar anggota komunitas CIC tinggal di seputar Tangerang Selatan. Jadi kami buat saja lokasi acara di sini. Selain melihat fakta bahwa Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu kota ramah anak" jelas Iloet

Pagi itu (05/05), saya datang ke Festival Ibu & Buah hati yang diadakan di Intermark BSD, salah satu apartemen yang terletak persis di ujung pintu keluar toll BSD arah Ciater.  


Melihat langsung pembukaan Festival yang dihadiri Bapak Drs.Benyamin Davnie, wakil walikota Tangerang Selatan dan Deputi bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Dra. Leny Nurhayanti Rosalin, M.Sc. 



KPPPA sekarang sedang gencar melakukan sosialisasi dan gerakan untuk menciptakan Kabupaten Kota yang ramah anak. Menyerukan stop kekerasan pada anak.


"Yuk berikan hak anak, perlindungan di rumah, sekolah, dan lingkungannya. Stop kekerasan pada anak. Seharusnya anak-anak mendapatkan haknya untuk bisa merasa aman dan nyaman bermain dan beraktifitas di mana saja, tanpa ketakutan" 


Pada acara ini pula dilakukan sosialisasi Kartu Identitas Anak (KIA) dan penyerahan secara simbolis kartu KIA oleh ibu Leny.




Tenant Acara



Acara festival yang padat ini diisi dengan berbagai acara, mulai lomba untuk anak-anak, talkshow parenting hingga kesehatan, demo masak, hingga bazar berbagai produk. Ada sekitar 20an tenant yang mengisi bazar. Mulai Gendongan, Happy Diapers, Pure Baby, Philips, Bubur dan Puding Bayi, Bedding, Souvenir Ultah, dsb. 

Gambar yang ada di sisi luar diapers pada Happy diapers ini lucu-lucu lho. Dalam 1 pack bisa berisi macam-macam gambar. Jadinya unik, bisa gonta ganti gambar macam ganti CD aja.





Salah satu stand yang saya datangi adalah Philips Avent yang  sebelumnya sempat mendemokan cara mencukur rambut bayi yang aman menggunakan Philips Baby Hair Clipper HC1055 di panggung utama. Mesin cukur khusus rambut bayi atau anak-anak ini aman digunakan, tidak melukai kepala. Harganya relatif terjangkau, sekitar 300ribuan. Punya mesin cukur model begini enak banget, bisa cukur rambut anak-anak kapan saja, ga harus antri dan menyediakan waktu khusus ke salon atau tukang cukur.





Oh ya, ada satu produk yang menarik perhatian saya di stand Philips, Essential Steamer Blender SCF862. Saya pikir ini sekedar blender biasa. Ternyata multi fungsi, bisa berfungsi sebagai steamer untuk mematangkan makanan bayi, mpasi.

Air bekas tetesan dari bahan yang dikukus akan jatuh ke bagian bawah dan bisa digunakan untuk menggerus bahan makanan yang sudah matang tersebut.


Philips Avent Essentials Steamer Blender
Philips Avent Essentials Steamer Blender

FYI, waktu saya tanya, apakah blender ini mampu menghancurkan daging, ternyata kuat saudara-saudara. Wah keren juga. Bisa bikin bubur campur bayi. Kukus dagingnya, air kaldu yang menetes bisa digunakan untuk menghaluskan si daging yang udah matang. Praktis jadinya. Kalau melihat kapasitasnya, 0,5 l, blender ini memang khusus ditujukan untuk mengolah makanan pendamping ASI.


Talkshow Healthy Soulder

Selesai acara pembukaan, sambutan dan keliling berbagai tenant bazaar, saya dan beberapa teman blogger Komunitas ISB, Amel, Agung Han, Nur Said, Alia, dan teh Ani Berta, kembali ke bangku peserta dan khusyuk mendengarkan talkshow bertema kesehatan untuk para ibu, Healthy Shoulder for Active Moms.


Dr. Jefri Sukmawan Sp.OT, dokter ahli tulang yang berpraktek di RS Premier Bintaro ini berbagi tentang pentingnya menjaga kesehatan bahu (shoulder). Menurut beliau, banyak perempuan yang sering mengabaikan kesehatan bagian tubuh yang satu ini. Padahal, bahu adalah induk segala gerakan. 

Bahu yang tidak diperhatikan kesehatannya, akan berakibat pada terganggunya aktifitas dan menurunnya produktifitas. Pan repot jadinya kalau emak-emak macam kita jadi susah mau ngapa-ngapain, bisa terbengkalai semua pekerjaan rumah tangga yang ga ada habis-habisnya itu *ehhh.

Dokter muda yang tampil dengan style smart casual ini merekomendasikan 


Cara Mudah Menjaga Kesehatan Bahu :

- Sering-sering lah ganti posisi ketika menyandang tas, jangan bertumpu lama pada satu posisi saja supaya bebannya merata.

- Jangan memaksakan diri menjangkau sesuatu yang di luar kemampuan tangan, bisa menyebabkan cedera bahu. Jangan segan menggunakan alat bantu seperti tangga atau bangku.

- Biasakan olahraga dan latihan fisik setiap hari agar otot selalu terlatih.

- Biasakan selalu melakukan pemanasan ketika melakukan gerakan apa pun, agar otot tidak kaget saat akan melakukan peregangan.

- Istirahat jika bagian bahu terasa sakit, jangan dipaksa apalagi diurut.

- Jika dalam seminggu beristirahat tidak membaik, konsultasi ke dokter ahli, jangan diurut! 

- Kondisi bahu yang sakit itu karena adanya radang pada bagian bahu, apa jadinya jika radang diurut? Makin radang kan?


Oh ya, saat saya bertanya tentang posisi menggendong yang baik, dr. Jefri menyebutkan "Usahakan menggendong sedekat mungkin dengan tubuh, supaya tangan tak terlalu meregang, sering gonta ganti posisi tangan, dan jangan memaksa jika sudah merasa tidak nyaman, ganti posisi atau istirahat"

Satu lagi tips dari dokter bersuara bariton ini 


"Saat mengambil barang yang posisinya ada di bawah, jangan langsung menunduk atau membungkuk dan mengangkat barang begitu saja. Hal ini dapat berakibat cedera pada pinggang, punggung, atau bahu karena bertumpu sepenuhnya pada bagian tubuh tersebut. Lakukan pengambilan bertahap, jongkok dulu hingga tubuh sejajar dengan barang yang akan dipindahkan, baru ambil barang dan angkat perlahan"

Alhamdulillah, Sabtu yang sangat bermanfaat, dapat ilmu baru, dapat insight baru. Dapat ilmu merawat kesehatan bahu, hingga insight tentang kartu identitas anak (KIA). 

Saya baru tahu kalau anak-anak di bawah usia 17 tahun, sudah bisa memiliki kartu identitas sendiri semacam KTP. Jika ingin membuat, cukup datangi RT/RW dan kelurahan setempat, bawa Kartu Keluarga, akte kelahiran, dan foto anak terbaru. Pada acara ini ada booth yang disediakan langsung untuk membuatnya. Sayangnya saya baru tahu dan ga bawa akte kelahiran.

Terima kasih Komunitas Cerita Ibu Cerdas atas undangannya. Festival Ibu dan buah hati ini memberikan banyak banget ilmu. Semoga next saya bisa hadir kembali.


Sabtu, 28 April 2018

Deep Ice, Kolaborasi Viena - KD

Sore itu,  mendung menggelayuti langit Jakarta. Saya mempercepat langkah agar bisa segera sampai sebelum awan gelap menumpahkan isinya. Untunglah babang ojek online segera saya dapatkan.