Pages

SOCIAL MEDIA

Kamis, 11 Januari 2018

Menggali Kelebihan Diri Sendiri

Seringkali kita sibuk dan silau dengan kelebihan orang lain, tapi sering lupa menggali kelebihan dan kekuatan sendiri. Daripada sibuk menginventarisir kelebihan orang lain, yuk inventarisir kelebihan diri sendiri aja. Kadang memang ga pede menyebutkan kelebihan diri.

Percayalah, dengan meyakini dan menggali kelebihan diri ini akan membuat kita juga jadi lebih mudah bersyukur dan menerima diri sendiri. Plus memanfaatkannya untuk sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

Kalau ditanya kelebihan saya apa. Terus terang bingung. Hahaha. Rasanya seperti ga punya kelebihan apa-apa, atau malah bingung, yang jadi kelebihan itu yang seperti apa ya?

Nah, saya mau coba dari diri sendiri dulu nih, menginventarisir kelebihan.


Mudah memahami peta dan cepat menguasai jalur


Dulu saya sempat berpikir bahwa saya bukan orang yang visual. Tapi belakangan saya menyadari, saya justru sangat visual. Kalau bicara modalitas belajar, saya tipe yang sangat visual. Harus lihat dulu baru bisa paham. Nah sepertinya, kemampuan saya ini juga berhubungan dengan kelebihan dalam hal visual spatial, mengambarkan tata letak atau tata ruang. Biasanya yang punya kemampuan ini adalah para desainer atau arsitek. Mereka mampu membuat gambaran visual dari bayangan di otaknya.

Dulu sih saya ga berpikir punya kemampuan ini. Sampai belakangan menyadari, sebenarnya saya punya kemampuan visual spatial. Contoh gampangnya, dulu pernah punya usaha baju menyusui, dan saya lah "arsitek" sekaligus "desainer"nya. Walau ga bisa menggambar desain, saya bisa membuat gambaran desain itu di kepala, mengkomunikasikan gagasan tersebut kepada penjahit hingga mereka mampu mengeksekusinya.

Contoh lain, saya cukup menguasai cara membaca peta dan punya gambaran visual tentang jalan. So, ga jarang saya sering dijadiin suami sebagai navigator, hahaha. "Kamu kan tukang jalan, pasti lebih tahu arah ke sini dan sini". Jiaaahhh. Untungnya sih saya memang tukang jalan (hobi keluyuran?) dan akan langsung mengasosiasikan jalan yang baru saya temukan dengan jalan lain yang pernah saya lewati. Sometimes saya ga perlu baca peta. Tapi sesekali baca peta untuk tempat yang belum pernah dikunjungi dan menghubungkannya dengan jalur yang biasa saya lalui.

Kalau urusannya jadi penunjuk jalan, bukan sekali dua kali sih. Babang gojek aja kalau udah nyerah, pasti nanya, baru deh saya yang arahin. Selagi si babang "merasa tahu jalan" saya biarkan dia jalan sesuai yang diketahuinya. Lumayan, kadang nambah perbendaharaan konsep jalan baru.

Mungkin ini pengaruh dari papa saya juga. Dulu, jaman kami kecil-kecil, saya paling hobi ikut papa-mama. Bukan karena bakal minta jajan, tapi karena bisa punya kesempatan lihat-lihat jalan. Membaca dan memperhatikan detail tiap jalan, ada toko apa aja, dsb.

Puncaknya, saat pindah ke Jakarta, dari Surabaya, papa bela-belain beli peta versi Street Guide. 30 tahun lalu harganya 100ribuan, termasuk mahal untuk ukuran peta Jakarta. Tapi karena itu satu-satunya peta yang cukup detail per wilayah, lengkap dengan nama jalan dan komplek, dengan lembar halaman hingga 100 lebih, rasanya worthed sih. Apalagi peta berwarna dengan lembar kertas glossy yang tebal.

Dulu sih belum ada GPS seperti sekarang, jadi modalnya ya lihat Peta Jakarta itu. Gara-gara Peta ini lah saya jadi punya "konsep jalan". Oh, kalau jalan ini nyambungnya ke sini, kalau lewat sini, bisa ke sini. Dari sini bisa juga ke sini, jalurnya begini, begini dan begini. Inilah yang membuat saya punya bayangan imagery sendiri di kepala, kalau mau ke sini, bisa lewat sini, jalur ini atau jalur sana.

Kalau ditekuni, kelebihan saya ini bisa jadi lahan penghasilan kali ya. Jadi tour guide Jakarta mungkin? *Ehhh. Hahaha. Kalau secara ga resmi sih udah sering jadi tour guide Jakarta kalau saudara-saudara dari daerah datang ke Jakarta dan minta diantar ke TanahAbang. TanahAbang itu kan rada ruwet ya, kalau ga hapal jalan, bisa masuknya ke mana, keluarnya ke mana :).

Mengajar


Suatu kali, dosen saya pernah bilang gini 

"mudah sekali mengamati bakat seseorang. Contohnya gini. Orang yang punya bakat atau passion di bidang mengajar, biasanya sejak kecil terbiasa menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Senang menjelaskan. Tapi buat orang yang ga suka atau ga punya kemampuan mengajar, biasanya justru bete kalau ditanya-tanya atau diminta menjelaskan, jawabannya pendek-pendek, apalagi kalau sampai bolak balik ditanya. Kalau si tipe pengajar ini ngga, mereka akan senang hati menjelaskan berkali-kali, sampai yang dijelaskan ini paham".

Saya langsung inget diri sendiri, pantes saya suka mengajar, karena saya memang suka menjelaskan. Hahaha. Saya belum puas menjelaskan kalau masih melihat tatapan kosong mahasiswa. 

Hm, apalagi ya? Mungkin ada beberapa, tapi rasanya sih ga terlalu esensial macam jago bikin balado versi suami dan anak-anak (ini kan versi mereka, entah kalau versi orang lain). Atau smart shopping, dsb.

Ntar deh, kapan-kapan disambung lagi ya. Segitu dulu aja. Sampai ketemu di next post. 
Maya Siswadi

5 komentar :

  1. Aku nyerah kalo diminta jadi navigator kalo suami lagi nyetir. Udah pegang map aja masih sering bingung habis ini arahnya kemana hahaha

    BalasHapus
  2. Mpo suka juga jadi petunjuk jalan kalau bareng keluarga. Cuma ambil patokan aja. Bunda sih orang sabar dalam memberikan penjelasan kalau mpo, aih bawel

    BalasHapus
  3. Miss suka masak, belum di komersial sih. Tapi suka bagi ilmu sama tetangga aja

    BalasHapus
  4. aku malah ga banget di bidang visual spasial. Jarang lho ada perempuan yang jago di bidang tersebut. Hanya sekitar 12%.

    BalasHapus
  5. klo urusan hafal jalan lewat mana aku suka lupaan, tapi klo trayek kopaja/metromini se jakarta aku apal wkwkwkwk maklum waktu stm kan sekolahku sebelahan sama terminal lebak bulus jadi ya hafal gitu sampe sekarang

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com