Pages

SOCIAL MEDIA

Rabu, 17 Januari 2018

Berapa sih Uang Jajan yang Pas Bagi anak?

Ketika anak memasuki usia sekolah dan mulai menjalani kegiatan di sekolah, tidak dapat dihindari ada satu budget yang mau tidak mau akan dikeluarkan orang tua bernama uang jajan. Uang yang diberikan kepada anak untuk digunakan dan dibelanjakan. Entah untuk membeli makanan atau minuman saat sekolah. Bener ga? Lah, emangnya sebelum sekolah ga ada uang jajan? Hihihi, sebenarnya ya ada juga sih. Cuma kan biasanya yang ngurusin jajannya ya orang tua. Tapi begitu mulai sekolah, ada semacam tuntutan tambahan agar anak mempunyai uang jajan.


Kenapa harus punya uang jajan? Kan bisa bawa bekal aja? Nah ini, di satu sisi, uang jajan jadi menambah budget orang tua, tapi di sisi lain, ada manfaat pemberian uang jajan.

Apa sih Manfaat Pemberian Uang Jajan?


1. Mengenal Nilai Uang

Dengan memegang langsung uang jajan, anak jadi belajar tentang nilai uang secara real. Tahu bahwa uang seribu yang didapatnya ga cukup buat jajan bakso, tapi masih bisa dibeliin wafer sachet yang harganya 500 atau seribuan. Iyap, pemberian uang jajan membuat anak jadi kenal nilai uang, apa yang bisa didapatnya dengan uang yang ada. Jika punya uang sejumlah tertentu dan harga barang tertentu, anak juga bisa mengenal kembalian atau uang sisa.

2. Belajar Menghargai Uang

Dengan adanya uang jajan, anak juga bisa belajar menghargai uang, sekecil apapun itu. Uang 500 pun bisa berharga jika uang jajan yang ada, kurang dari harga jajanan yang hendak dibeli. Dengan mengenal nilai uang, anak juga belajar menghargainya. Tahu betapa berharganya selembar uang seribuan, misal.

3. Belajar Mengelola

Anak juga belajar mengelola keuangan dengan pemberian uang jajan, apalagi jika uang jajannya diberikan tidak setiap hari, misalnya hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali. Anak belajar caranya mengatur uang jajan yang diberikan hanya seminggu sekali, bisa cukup untuk seminggu.

Dengan memberikan sejumlah uang jajan tertentu, anak juga belajar mengatur, jajanan apa saja yang bisa dibelinya, dan mana saja yang perlu ditabung jika ia menginginkan sesuatu yang nilainya lebih besar dari uang yang biasa didapatnya.  

Lantas, berapa sih sebenarnya uang jajan yang pas?


Duh, susah-susah gampang sih jawabnya, ga bisa disebutkan secara tepat dari segi nominal, karena kondisi masing-masing berbeda. Tapi, beberapa hal berikut bisa juga jadi patokan untuk menentukan uang jajan yang pas

1. Perhitungkan Kebutuhan Real Anak


Ini yang saya maksud dengan masing-masing anak berbeda kebutuhannya. Berbeda karena jajanan di sekolahnya mungkin lebih mahal atau lebih murah, berbeda karena kebutuhannya beda. Orang tua bisa bertanya, berapa jajanan yang biasa dibeli anak. Eits, tapi bukan berarti lantas orang tua memberikan uang jajan begitu saja sejumlah yang mungkin dibutuhkan anak. Bisa saja anak kurang tepat menghitung atau memasukkan unsur keinginan, sehingga kabur esensi antara keinginan dan kebutuhan.

Paling mudah, coba hitung rentang antara harga jajanan termahal, hingga harga jajanan termurah. Coba hitung nilai tengahnya.

Orang tua perlu juga melakukan kontrol dan budgeting agar anak belajar mengelola keuangan dan keinginan, sehingga tidak mudah membeli ini itu tanpa berpikir panjang.

Teknik mengatur jumlah uang jajan juga bisa membuat anak belajar memecahkan masalah. Saya memberikan tight budget kepada Falda, ternyata cara ini bisa membuatnya cari cara untuk menambah uang saku.

Baca : "uang jajan" untuk Falda

Contoh lain saya terapkan juga kepada Ferdi dan Faldi. Mereka mondok dan bersekolah di tempat yang sama, otomatis jajanan di sekolahnya kurang lebih sama kan? Tapi saya ga bisa lagi memberikan uang jajan yang sama. Berbubung Faldi sudah SMA dan kebutuhannya semakin banyak, saya mulai memberikan tambahan uang jajan untuknya.

2. Sesuaikan Dengan Budget Orang tua


Nah, ini penting. Uang jajan itu menyangkut kebutuhan rutin, harus diperhitungkan karena selalu dikeluarkan. So, orang tua harus memperhitungkan benar-benar kemampuan finansialnya dengan kemampuan memberikan sejumlah uang jajan kepada anak.

Ini yang membuat saya hanya memberikan jajan tak lebih dari 2000 kepada Falda. Saya tahu, jajanan di sekolah Falda hanya kisaran 500 - 5000. So, dengan uang 2000, asal pintar-pintar membeli dan memilih, mustinya sih lebih dari cukup. ya kan? Paling-paling yang dibeli hanya makanan. Minuman biasanya bawa dari rumah, jauh lebi irit. kan? Kebetulan pula di sekolah Falda tidak diperkenkan membawa uang jajan banyak-banyak. Orang tua hanya diperkenankan membawakan anaknya uang jajan sejumlah 5000 saja.

Tapi, seiring harga beberapa jajanan mulai merangkak naik, saya pun mulai menyesuaikan. Sesekali saya berikan lebih dari 2000. Kenapa hanya sesekali? Karena saya masih ingin agar Falda belajar mengelola uang dan keinginan. Ga selamanya uang jajan dipakai dan dihabiskan begitu saja. Uang tersebut bisa disimpan dan ditabung supaya bisa beli barang lain. Jika menginginkan jajanan mahal, bisa menabung dulu dari uang jajan yang ada, ya kan?

Bagaimana dengan Faldi dan Ferdi? Mereka berdua mendapatkan uang saku secara mingguan. Ferdi yang masih SMP dapat jatah 50ribu seminggu dan Faldi yang SMA dapat jatah 75ribu seminggu.. Secara hitung-hitungan, harusnya uang segitu cukup buat mereka *emak perhitungan. Makan pagi, siang, malam sudah disediakan oleh pihak pondok, mereka ga perlu ongkos transport` Paling-paling sesekali membeli jajan saat jam istirahat atau sore setelah ekskul.

Walau mendapat uang saku lebih besar, tetap saja Faldi lebih boros, uang jajan segitu tak bersisa. Alasan klasik, terlambat makan sehingga kehabisan jatah makan atau kadang ga selera makan. Sementara Ferdi yang lebih bisa menahan keinginan, biasanya selalu punya uang sisa untuk disimpan atau cadangan. Biasanya digunakan untuk beli jajanan tertentu yang lebih mahal kala ia terlambat makan.

Secara implisit mereka pernah cerita tentang uang jajan yang didapat teman-temannya

"temen aku uang jajannya ada yang 100 sampai 150 ribu seminggu lho bund"
"iya, temen aku malah uang jajannya 200ribu seminggu. tapi ya itu sekalian buat dia beli-beli kebutuhannya. sabun, odol kan dia beli sendiri"
"trus?"
"ya ga pakai terus"

Saya cuma senyam senyum aja mendengar mereka cerita. Ga berniat menaikkan. Walaupun mereka ngasih kode-kode minta naik. Hahaha. Saya ingin mereka belajar mengelola uang, supaya tidak begitu saja dihabiskan. Saya ingin mereka belajar menahan keinginan dan mendahulukan kebutuhan. Kalau memang ga perlu, ngapain keluar duit? Ya, kan?

So, bagaimana dengan teman-teman?

Dapat berapa uang jajan waktu dulu sekolah?
Kalau sudah punya anak, kasih uang jajan berapa ke anak-anak?
Harian? Mingguan? Atau Bulanan?

Share yuuk

7 komentar :

  1. Anakku yang masih SD nggak dikasih uang jajan karena katering dari sekolah dan dari rumah. Apalagi di sekolahnya nggak ada kantin, mba. BEsaran uang jajan memang disesuaikan dengan usia anak ya mba

    BalasHapus
  2. Uang jajanku waktu SMA di tahun 1998 gak sampai 3.000 Asli, mungkin kira-kiranya 1.000 an dech kalau ndak salah, dikit yaaa? Sekarang anakku max 5.000 karena bawa bekel juga. Uang jajanpun gak saban hari kukasih, jajanan sekarang agak memprihatinkan

    BalasHapus
  3. Nah iya bun, adik saya orangnya boros. udah sering dinasehatin sama ibu tetep ga bisa meminimalisir pengeluaran. ada aja yang harus dibeli setiap hari, ntah untuk print, keperluan praktikum, ongkos tambahan. padahal dia tau kalau kondisi ibu kadang sedang tidak stabil. ibu saya sampe cape nasehatinnya. kira-kira gimana ya bilanginnya?

    BalasHapus
  4. sebelum kelas tiga SD, anak-anak di sekolah anak gue ga boleh jajan. Mudah-mudahan jadi kebiasaan ya. Pas naik kelas 3 nanti ngga suka jajan

    BalasHapus
  5. anakku belum kenal uang hehehe jadi karena sekolah dapet catering n dilarang bawa uang jajan yo wis ga dibekali ga tau nanti

    kalau aku sendiri dulu bekel pernah 50 perak waktu masih kelas 1 SD hahahaha

    BalasHapus
  6. Sata SD, anak saya dikasih jajan seminggu 10 ribu. Sebetulnya tiap hari dikasih bekal. Uang jajan bisa mereka tabung atau jajan. Sesekali biar mereka tau bagaimana bertransaksi.

    Kalau yang SMP dikasih 200 ribu sebulan. Terserah diatur sendiri aja. Asalkan jangan dipakai untuk beli sesuatu yang gak baik

    BalasHapus
  7. Idealnya bawa bekal dari rumah ya mba, jadi makanan dipastikan bebas msg. Tapi anak-anak zaman sekarang biasanya suka jajan, yang pasti harus dijatah supaya belajar mengelola uang

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com