Selasa, 07 Februari 2017

#LaunchingBukuAHY, Ungkap Pergolakan Batin

Siang itu, saya, mba Katerina dan Windah, berangkat sama-sama ke acara Launching Buku AHY, Agus Harimurti Yudhoyono.

Kebetulan kami bertiga sama-sama pemegang KTP Tangsel. Eh kog ya Agung Han dan Atanasia Rian juga bukan pemilik KTP Jakarta. Kebetulan banget. Kami memang ga ada kepentingannya dengan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, hahaha. Bener-bener datang mewakili blogger untuk menyaksikan launching buku.

AHY menjelaskan tentang bukunya

Saya sempat agak deg-degan juga sih. Benar kah kami akan menghadiri acara launching buku AHY dan bakal bertemu langsung dengan ybs?


Poster acara 


Keraguan saya terjawab. Bukan cuma mendengarkan langsung penuturan AHY tentang bukunya. Tapi kami semua, tamu yang hadir, mendapat kesempatan untuk mendapatkan tanda tangan.


Salah satu pengunjung sedang memberi petunjuk apa yg mau dituliskan di bukunya

Antrian tanda tangan pun mengular. Tak kurang, puluhan media dan beberapa pendukungnya ikut antri. Hahaha.

Antrian untuk mendapatkan tanda tangan di buku

Apa aja sih yang dibahas AHY dalam buku setebal 281 halaman dengan 24 chapter ini?

Buku "Telah Kupilih Jalan Hidupku yang Baru Untuk Jakarta" menggunakan gaya bertutur yang mengalir, agar lebih mudah dicerna. Saya langsung jatuh cinta begitu membaca prolognya.

AHY bertutur dengan lugas tentang pergolakan batinnya saat diambang kebimbangan. Memilih meneruskan karir militer atau berubah haluan memenuhi panggilan membangun Jakarta.

Bagaimana pergolakan batin yang dialami AHY? Tergambar jelas dalam buku ini.

Wawancara awak media TV

Pada chapter 1, Menjadi Jenderal adalah Mimpi Setiap Taruna. Tergambar konflik batin AHY. Antara tetap menekuni karir militer yang telah 16 tahun dijalani dan selangkah lagi menggapai impian menjadi jendral, atau berubah haluan?

Anak tangga menuju tempat acara yang memuat motto AHY

Keluar dari zona nyaman tidak lah pernah mudah. Apalagi ketika zona berikutnya yang dihadapi bukan lah zona yang sepenuhnya mudah dihadapi.

"Kalau di militer itu musuhnya jelas, ada di mana, tinggal diarahkan. Kalau politik? Lawan itu bisa di mana saja, bisa di depan, belakang, atau bahkan bisa persis di samping kita" ungkap AHY saat press conference.

Antrian masih mengular

Banyak hal yang musti dipelajari AHY. Hampir keseluruhan buku menceritakan bagaimana AHY menjalani semua itu dalam waktu 3,5 bulan sejak ia mencalonkan diri.

Penasaran dengan bukunya? Temukan di toko buku terdekat ya teman. Buku terbitan Expose ini sudah bisa ditemui. Atau mungkin bisa mendatangi posko pemenangannya di jl. Wijaya I.

7 komentar:

  1. Anak tangganya asyik dan menarik banget. Selalu ada semangat yang terselip di baliknya

    BalasHapus
  2. Moga nanti setelah jadi gubernur atau ga jadi gubernur, Mas AHY tetep mau menulis buku. Kalau nggak ya, mbelot ngeblog kayak kita he3

    BalasHapus
  3. Saya dukung mas Agus waktu beliau menjabat pimpinan tertinggi di komplek militer dekat rumah saya. Banyak kemajuan waktu beliau disana.

    Sayang untuk Jakarta sebenernya. 😅

    BalasHapus
  4. Hmmm....
    Entahlah saya termasuk salah satu yang agak kecewa ketika AHY maju jadi salah satu calon DKI 1 dan meninggalkan militer
    Tapi begitulah, pergulatan batin yang pastinya gak mudah untuk memutuskan itu.
    Semoga jalan yg dipilih ini adalah yg terbaik untuk AHY

    BalasHapus
  5. Seru banget ya, bisa sambil kupdaran sama mba Rian, woohooo

    BalasHapus
  6. Mesakno yooo nasibbe AHY ini, semoga di beri keikhlasan

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com