Kamis, 24 November 2016

Gaya Hidup yang Membunuhmu #IndonesiaLawanDiabetes

Gaya Hidup yang Membunuhmu #IndonesiaLawanDiabetes - 2 dari 3 orang tidak menyadari jika dirinya menderita diabetes (1). Dan yang lebih bahayanya lagi, mereka tidak menyadari hingga mengalami komplikasi dan resiko kebutaan, gagal ginjal, penyakit jantung, stroke, atau amputasi kaki.

Penderita diabetes tipe 2 (dialami setelah dewasa) yang tidak terdeteksi, bisa saja hidup beberapa tahun tanpa menunjukkan gejala apapun hingga mengalami komplikasi. Kadar gula darah yang tinggi diam-diam bisa merusak beberapa organ tubuh. Data klaim BPJS tahun 2014 menunjukkan bahwa Diabetes dan komplikasinya menjadi penyumbang terbesar.



Press Conference Ayo Indonesia Lawa Diabetes
Press Conference Ayo Indonesia Lawa Diabetes


Hal ini pula yang menyebabkan Kementerian Kesehatan RI memilih fokus utama pada Diabetes. Demikian disampaikan dr. Lily, direktur Pencegahan Penyakit Tak Menular Kementerian Kesehatan RI. PT. Kalbe Farma yang punya misi hampir serupa, turut melakukan dukungan. Salah satunya dengan memberikan bantuan dana hingga 500 juta rupiah untuk pengobatan di daerah-daerah terpencil. Tak hanya itu, PT. Kalbe Farma juga melakukan seminar edukasi kepada lebih dari 1500 tenaga medis di 5 kota besar di Indonesia. Hal ini terungkap saat press conference Ayo Indonesia Lawan Diabetes yang diadakan pada 20 November 2016 di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Semua Pembicara bersemangat menunjukkan komitmen melawan diabetes
Semua Pembicara bersemangat menunjukkan komitmen melawan diabetes

Menurut Prof. Dr. dr. Sidartawan yang ahli endrokrinologi ini, gaya hidup menjadi penyebab masyarakat Indonesia makin banyak yang menderita diabetes. Dengan kocak, prof Sidarta meyebutkan  

"masyarakat sekarang itu geraknya makin kurang, yang gerak cuma jari"  

Eaaaaa, ngakuuu, bener ga yang olahraga cuma jari? Hahaha, sekarang apa-apa pesan online. Mau pesan nasi goreng aja, males jalan, lebih milih pencet-pencet. Iyaa apa iyaa?

Masak sendiri? Boro-boro. Itulah bedanya masyarakat sekarang dan dulu. Kalau dulu, untuk mendapat sumber makanan aja harus usaha, nanam dulu atau nyari ke hutan, apalagi untuk memasaknya. Sekarang? Apa-apa cuma gerakin jari. Nonton tv, pindah channel pakai remote. Beli baju? Seragam sekolah? Ada yang online, ga perlu capek-capek keliling mall, tara, barang sampai dengan selamat. Malas masak? Gampang, hampir semua resto ada layanan pesan antar.  Dengan berbagai kemudahan, aktifitas fisik pun makin berkurang.

Salah ga?

Ya, ga salah-salah juga sih. Boleh-boleh aja mengikuti segala kemudahan itu, asal diimbangi dengan gaya hidup sehat. Tubuh yang jarang aktif bergerak akan berpotensi meningkatkan resiko diabetes.

Sarah Sechan, Campaign ambassador Indonesia Lawan Diabetes bercerita, dulu sih segala makanan ia embat, yang penting kenyang. Selagi belum kenyang, belum berhenti makan. Sekarang prioritasnya berubah, bukan kenyang lagi, tapi Jenis, Jumlah, dan Jadwal ia perhatikan. Perhatiin jumlah kalori makanan yang dikonsumsi, trus pilih jenis asupan nutrisi, pilih-pilih jenis makanannya, mana yang kaya serat, trus jangan lupa jadwal makannya.

Dr. Lily menambahkan, inget, atur jadwal makan. Sebaiknya sih ga skip makan. Kalau skip, biasanya jadi ekstra lapar dan malah makan berlebihan di jam makan berikutnya. Tetep makan, tapi sesuai jadwal. 3x makan utama (sarapan, makan siang, makan malam), selebihnya 3x jadwal makan cemilan (nah ini biasanya jam-jam coffee break nih).

Prof. Dr. Agung Pranoto menyebutkan, penting melakukan test screening diabetes pada kelompok resiko tinggi untuk mengurangi dampak komplikasi pada mata. Semakin awal terdeteksi kasus diabetes, semakin cepat pengobatan dapat diiniasi untuk menghindari komplikasi.

Terakhir, Prof. Sidarta kembali menyebutkan pentingnya "bergerak", pentingnya gaya hidup sehat. Makan secukupnya sesuai jadwal, perhatikan jenis asupan makanan, perbanyak serat, pilihlah karbohidrat kompleks ketimbang karbohidrat sederhana semacam cake, dkk. Ketimbang ngemil kue, pilihlah buah.





Acara press Conference yang diadakan bersamaan dengan gerakan "Ayo Indonesia Lawan Diabetes" dengan dukungan Diabetasol ini dihadiri ribuan orang yang memenuhi pintu Barat GBK. Foto-foto kegiatan bisa dilihat di www.indonesialawandiabetes.com. Lebih dari 50.000 dukungan telah diberikan untuk aksi #IndonesiaLawanDiabetes ini. Mau memberikan dukungan? Yuk, #IndonesiaLawanDiabetes.






sumber :
1. Boedisantoso, et all. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia.

6 komentar:

  1. Ibuku juga kena diabetes mbak. Tiap bulan kontrol ke RS.

    BalasHapus
  2. Memang harus cerdik ya agar bisa terhindar dari diabetes

    BalasHapus
  3. Apa ada informasi acara yang sama di yogya mbak?

    BalasHapus
  4. Banyak yang makan dengan asal, gak memenuhi standar gizi dan asupan. Padahal itu kan penting banget.

    BalasHapus
  5. Kebayang deh serunya acara itu.

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com