Pages

SOCIAL MEDIA

Selasa, 16 Agustus 2016

Media Sosial dan Kesadaran ASI

Media Sosial dan Kesadaran ASI - Jaman dulu, saat belum banyak akses informasi seperti sekarang, pembicaraan masalah ASI tidak terlalu luar biasa. Orang memandang ASI ya biasa aja. Malah ada kesan kuno dan kampungan. Eitss. jangan marah. Itu mind set jadul yang berkembang lebih dari 20 tahun lalu.

Pada era di mana kampanye ASI tidak segencar kini. Orang masih memandang ibu-ibu yang memberi ASI dengan sebelah mata. Kesannya kalah gengsi sama ibu-ibu yang mampu ngasih sufor. Kesannya, ibu-ibu yang ngasih ASI itu norak, kampungan, ga sanggup ngasih nutrisi terbaik pada bayinya. Hiks..hiks.

Kalau ada ibu-ibu yang cuma ngasih ASI aja, akan dipandang sebelah mata

"ih, kog anaknya cuma dikasih ASI aja? Emangnya cukup?"
"kog anaknya cuma ASI aja? Ga kurang gizinya?"
"pelit amat sih, anak cuma dikasih ASI"



Duuhh, ya, coba itu gimana rasanya jadi ibu-ibu yang ngasih ASI di era itu. Dan saya, termasuk ibu-ibu yang berada di era peralihan dan masa perjuangan. Hahahaha. Ya, masa-masa memperjuangkan agar ASI tidak dipandang sebelah mata. Masa-masa memperjuangkan agar para ibu-ibu melek dan sadar "hei, ga perlu malu lho ngasih ASI aja. Jangan khawatir dengan gizinya".

Mungkin ibu-ibu yang berada di era kesadaran ASI sudah meningkat pesat seperti sekarang ini, akan susah percaya kalau dulu pernah ada era di mana memberikan ASI identik dengan ketinggalan zaman dan gak bergizi.

Saya ingat banget, dulu, curhatnya para ibu di milis asiforbaby kebanyakan tentang cara meluruskan persepsi dan mendapatkan dukungan dari keluarga agar bisa bertahan memberikan hanya ASI saja. Bagaimana menangkis omongan-omongan miring yang meragukan gizi dari ASI.

Wah, perjuangan banget lah. Jaman pompa ASI di kantor itu dianggap aneh. Jaman ruangan menyusui belum ada dan para penggiat ASI berjuang keras merubah mindset. Saya sampai sempat membuat dan berjualan baju menyusui hanya agar bisa menyusui kapan pun, di mana pun. Pernah saya cerita di awal-awal ngeblog.


Salah satu kebaya menyusui yang sempat saya buat


Kini, saat membaca tulisan mak Istiana Sutanti di web KEB, "ASI dan Perkembangan Media Sosial" dan tanggapan-tanggapannya, saya sadar, eranya telah berubah! Yes!

Media sosial dan internet telah banyak mengubah perilaku dan pola pikir para ibu masa kini. Thanks to social media. Hahahaha.

Kalau dulu galaunya cuma ngasih ASI aja dianggap ga sayang anak, sekarang galaunya emak-emak justru kalau gagal ASI. Kalau dulu ngasih sufor itu bangga, sekarang kesannya ngasih sufor jadi semacam aib *cmiiw. Rupanya, sedemikian dalamnya penetrasi kampanye ASI di kalangan para ibu muda ini sampai mampu membuat mereka merasa gagal jadi ibu ketika tidak berhasil memberikan ASI.

Sungguh, ini sebuah evolusi yang luar biasa. Bagi saya ini sebuah kesuksesan kampanye ASI. Media sosial sangat banyak membantu perjuangan ini. Kalau dulu penyebaran informasi hanya sebatas milis. Sekarang hampir semua orang yang bisa mengakses media sosial, bisa terpapar kampanye ASI. Sedikit atau banyak mereka ikut belajar dan terprovokasi untuk mengikuti arus positif ini :).

Kalau dulu bapak-bapak takut dianggap laki-laki yang ga mampu membelikan sufor, sekarang era bapak-bapak bangga mampu mendukung istri memberikan ASI. Thanks to Ayah ASI yang menjadi pionir dalam hal edukasi ASI via media sosial *cmiiw.

Yap, media sosial benar-benar sangat membantu mengubah pola pikir masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan ASI. Ya ga sih?

Di satu sisi bagus banget berhasil membuat banyak ibu sadar akan ASI. Bahkan artis pun kini tak segan-segan "pamer" keberhasilannya memberikan ASI. Bangga bisa memberikan ASI. Semacam sebuah prestasi. Sebuah kebanggaan yang dulunya justru tak berani diumbar. Kegembiraan dan kebanggaan memberikan ASI ini merupakan salah satu bagian dari kampanye ASI.

Namun, di sisi lain, efek ini rupanya memberikan intimidasi dan menimbulkan beragam pro kontra di kalangan para ibu. Ibu-ibu yang gagal memberikan ASI seolah-olah menjadi orang terkucil. Sebuah hal yang justru kebalikan pada jaman dulunya, ibu-ibu yang memberikan ASI yang justru terkucil.

Terlepas pro kontra tentang ASI, ribut-ribut tentang peran ibu. Mari kita syukuri saja era peningkatan kesadaran ASI ini dengan lapang dada. Sebuah kemajuan yang baik yang menjadikan banyak ibu belajar banyak hal tentang ASI dan mau terus meningkatkan pengetahuan tentang hal ini.

Setuju?

17 komentar :

  1. skrg ini memang sudah lebih banyak lagi ibu2 yg mengerti pentingnya ASI buat bayinya ya... Alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, begitulah, tingkat kesadaran akan bagusnya gizi ASI sudah meningkat pesat

      Hapus
  2. mbak maya masih suka buat gak skr baju2 menyusui?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tewas bersamaan dg tewasnya MP lid, malas mo branding baru lagi :(

      Hapus
  3. Saya msh sering dpt nyinyiran maakk krn msh ngasi di usia anakku 11bulan inii

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuuaaahhh yg nyinyir pasti produk jaman dulu :)

      Hapus
  4. sekarang sudah mulai ramah ASI ya Mbak
    di public area selalu disediakan nursery room

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekarang sih sudah enak, ruang menyusui sudah semakin banyak

      Hapus
  5. he he masih ingat dulu beli kaos2 menyusui sama mba maya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, udah lama banget itu ya. Masih ada ga kaos-kaos itu?

      Hapus
  6. harus menfaatkan media sosial untuk berkampanye, agar para ibu2 tau pentingnya asi untuk pertumbuhan anak.. wajib asi dari lahir sampai 2 tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, media sosial cukup baik sebagai sarana kampanye pentingnya ASI

      Hapus
  7. baru tahu ternyata dulunya ibu-ibu yang ASI dipandang sebelah mata, duh :(
    sangat berbanding terbalik dengan sekarang yah Mba maya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, khususnya di media sosial ya. beda banget lah. dulu ngasih sufor itu semacam prestise & ibu2 yg ngASI itu yg terkucil, sekarang, di medsos, seolah2 ibu yg ngasih sufor itu kayak terhakimi da merasa rendah diri karena gagal ngASI

      Hapus
  8. semoga aku bisa ngasi full nanti aamiin

    BalasHapus
  9. Sekarang itu semakin banyak juga orang yanga sadar memberikan dan mengusahakan asi walau ibu bekerja ya karena edukasi yang didapat dari media sosial. Bangga dan lebih enak zaman sekarang walaupun masih harus berjuang dengan anggapan-anggapan orang-orang jaman dulu.

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com