Senin, 20 Juni 2016

Kenali Tanda Bahaya Demam Dengue

Kenali Tanda Bahaya Demam Dengue

Perubahan iklim akhir-akhir ini menyebabkan hujan masih terus berlangsung di musim yang seharusnya sudah memasuki kemarau. Sampai muncul istilah kemarau basah *cmiiw. Panjangnya musim hujan ini di satu sisi menyenangkan secara bikin adem, tapi di sisi lain juga membawa bencana. Entah banjir, tanah longsor, hingga wabah Dengue.

Hujan bisa menyebabkan genangan air di sana sini, baik di kaleng-kaleng bekas, ban-ban bekas, hingga plastik-plastik sampah yang berserakan di jalan. Jika luput dari perhatian, setetes genangan air saja sudah bisa menjadi sarana empuk bagi nyamuk Aedes Aegypti betina untuk bertelur. Telur-telur ini akan menetas dan berubah menjadi jentik. Jentik-jentik inilah yang akan berubah menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 8-10 hari.

Nyamuk betina merupakan vektor, alias pembawa dan penular virus Dengue. Nyamuk Aedes betina dewasa akan menggigit manusia saat akan bertelur. Jika manusia dewasa yang digigit terinfeksi virus Dengue, maka ketika si nyamuk menggigit manusia lain, virus akan pindah ke tubuh tersebut. Dalam 4-7 hari yang bersangkutan akan terjangkit Demam Dengue atau lebih dikenal dengan nama Demam Berdarah Dengue.

Siklus penularan Virus Dengue oleh nyamuk Aedes Aegypti

Menghadapi hal ini, Kementerian Kesehatan berinisiatif menyelenggarakan Simposium dalam rangka peringatan Asean Dengue Day 2016. Simposium bertema "Bergerak Bersama Cegah DBD Melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik" diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada 15 Juni 2016. 

Pada acara ini, dilakukan pula peluncuran website Dengue Buzz Barometer, sebuah inovasi dalam meningkatkan kesadaran Dengue. Inisiatif Asian Dengue Vaccine Advocacy (ADVA) dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan Sanofi Group Indonesia. Hadirnya portal edukasi ini  merupakan kelanjutan kampanye Dengue Mission Buzz yang diluncurkan pada Asean Dengue Day 2015. Tahun ini adalah kali keenam Kementerian Kesehatan melaksanakan peringatan ini.

Salah satu daerah yang telah berhasil menurunkan angka kejadian DBD dan menjadi daerah percontohan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik adalah Tangerang Selatan. Walikotanya, Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH, hadir untuk berbagi tentang upaya yang telah dilakukan dalam melaksanakan gerakan ini.





Ibu Airin bercerita, di wilayah Tangerang Selatan, ada 3 wilayah yang dijadikan contoh awal gerakan ini. Yang menjadi penggerak adalah para ketua RW. Mereka dihimbau untuk menggerakkan warganya agar minimal dalam 1 rumah ada 1 orang yang paham akan jentik dan melakukan pemantauan secara berkala. Tak hanya bergerak melalui lingkungan perumahan, departemen kesehatan wilayah Tangsel juga melibatkan mahasiswa untuk melakukan monitor jentik. Para mahasiswa ini bahkan menciptakan inovasi baru berupa pemetaan daerah rawan jentik melalui GPS.




Agar makin efektif, edukasi tentang jentik pun masuk ke sekolah-sekolah di sekitar Tangerang Selatan. anak-anak diberikan pemahaman agar mereka bisa menjadi penyampai pesan ke orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Menurut ibu Airin "orang tua kan biasanya lebih mudah mendengar apa yang dikatakan anak". Waha, sebuah gagasan cerdas! Selain itu, dengan dibekali pemahaman tentang jentik, mereka juga diharapkan bisa menjadi salah satu jumantik di rumah masing-masing atau lingkungan sekitarnya.

Kegiatan Jumantik anak sekolah di Tangerang Selatan


Usai ibu Airin, Prof. Dr. dr. Sri Rejeki Hadinegoro, Sp.A(K), Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) pun memberikan presentasinya tentang Dengue. 



Menurut Prof Sri, Dengue ditandai demam tinggi yang tidak turun-turun selama lebih dari 3 hari. Umumnya disertai nyeri kepala, perdarahan pada kulit (terlihat bintik-bintik merah di permukaan kulit), nyeri pada otot dan persendian, bahkan jika gejala agak berat bisa saja sampai mimisan hingga pendarahan.


Gejala Infeksi Virus Dengue


Hingga hari ini, virus Dengue belum ada obatnya, tapi bisa diatasi dengan perawatan yang tepat dan penanganan lebih awal. Menurut Prof Sri, kunci utama penanganan pasien DB adalah cukup cairan dan oksigen. 

"Pastikan penderita banyak minum, boleh cairan apa saja, air putih, susu, jus buah, elektrolit, apa saja, asal mau minum, boleh! Cek terus BAKnya tiap 4-6 jam. Jangan berikan aspirin, NSAID atau ibuprofen, cukup berikan paracetamol dan kompres hangat jika masih demam" - Prof. Dr. dr. Sri Rejeki Hadinegoro, Sp.A(K)

Yang perlu diwaspadai pada pasien Demam Dengue adalah ketika suhu turun dan kondisi justru memburuk. Menolak makan dan minum, muntah terus menerus, nyeri perut hebat, tidak buang air kecil lebih dari 4-6 jam (urin pekat), hingga perdarahan (mimisan, muntah atau bab berdarah).

Tanda Bahaya Demam Dengue yang perlu diwaspadai

Segera bawa ke rumah sakit kembali jika fase kritis ini terjadi. Jangan sampai terlambat. Pada kondisi syok inilah keadaan akan sangat cepat berubah.


Fase kritis yang harus diwaspadai


Oh ya, saat tanya jawab, terungkap cara mudah membedakan demam dengue dengan demam yang disebabkan batuk pilek, Prof Sri mewanti-wanti "jika demam disertai gejala batuk pilek, singkirkan kemungkinan Dengue". Maksudnya, jika demam disertai batuk pilek, kemungkinan besar penderita tidak mengalami Demam Dengue, tak perlu sampai uji lab untuk memastikan *cmiiw. 

Selain fokus pada upaya penanganan, Kementerian Kesehatan juga fokus pada upaya pencegahan. Bahkan, upaya inilah yang terus gencar dilakukan demi terus mengurangi penderitanya. Salah satu upaya yang sudah sejak lama digaungkan adalah dengan PSN, Pemberantasan Sarang Nyamuk. PSN dilakukan dengan gerakan 3M yang sekarang direvisi menjadi 3M Plus, menguras penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, plus menerapkan kegiatan lain seperti menaburkan bubuk larvasida di penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, menggunakan kelambu tidur, dan menanam tanaman pengusir nyamuk.




Upaya penanaman tanaman pengusir nyamuk inipun telah dilakukan di wilayah Tangerang Selatan dengan melibatkan Forum Kota Sehat Tangsel. Semoga daerah-daerah lain pun menyusul.

Kasus DBD telah meningkat 30 kali lipat dalam 50 tahun terakhir di seluruh dunia. Kerugian ekonomi ASEAN yang disebabkan oleh DBD mencapai 1 milyar Dollar per tahun (data Sanofi). Oleh sebab itu, kita harus pula peduli dan bersama menjaga lingkungan. Bersama melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Mulai lah dari hal-hal kecil semacam rutin membersihkan gorong-gorong, membersihkan genangan, mengganti air di vas bunga, membuang air genangan di pot, membersihkan tatakan dispenser, hingga rutin melakukan pengurasan toren minimal seminggu sekali. Siklus hidup nyamuk hingga menggigit itu sekitar 8-10 hari, jadi, sebelum berubah menjadi nyamuk dewasa, berantas dulu jentiknya.




Mau belajar lebih jauh tentang Dengue dengan cara yang lebih asyik?

Langsung ikuti kuisnya yuk, di denguemissionbuzz.org. 


"Tulisan ini adalah opini pribadi dan didukung oleh Sanofi Group Indonesia"

11 komentar:

  1. Demam dbd juga katanya di sebut tapal kuda saat panas turun itu malah fase krisis..liat di iklan tv hehehe..terima kasih informasinya..

    BalasHapus
  2. Selain cuacanya yang sedang tidak menentu, nyamuk juga makin ganas ya.. Kudu waspada banget nih sama DBD. Kmrn ada teman yang cerita kalo skrg (lupa namanya) ada cicitnya nyamuk yg ada virus dbd masih membawa virusnya.. Ngerii

    BalasHapus
  3. Poin ini menjadi catatan penting demam disertai batuk pilek, kemungkinan besar penderita tidak mengalami Demam Dengue, agar tidak mudah panik.

    BalasHapus
  4. Jadi inget waktu magang di kemenkes jateng. Data kematian dari demam berdarah ini banyak banget. Dan tersebar di seluruh wilayah. Jadi emang pencegahan penting, mb. Biar wabahnya ga menyebar. Karena telat dikit ditangani bakalan meninggal kayak anak tetangga belakang rumahku. :')

    BalasHapus
  5. Adik saya dulu pernah sebulan di rumah sakit pas keluar eh dia gak bisa jalan dan mengulang mengajarinya berjalan, merayap sambil pegangan tembok.

    anggiputri.com

    BalasHapus
  6. Infonya manfaat banget mba maya. Skrg dbd makin horor ya kayaknya. Nyamuknya imun kali ya.

    BalasHapus
  7. Thanks infonya, Mbak. Mari kita sedini mungkin mencegah bahaya demam dengue

    BalasHapus
  8. Beberapa bulan lalu anakku kena DB. Pertama kali periksa di RS ditolak karena blm terdeteksi. cuma demam saja. Kedua kalinya saya maksa. Demam gak turun. Akhirnya seminggu dirawat.

    BalasHapus
  9. Makasih ya mak, penting banget nih buat waspada

    BalasHapus
  10. Syukurlah anakku sudah pulih dari DBD. Harus semakin hati-hati nih jika anak demam. Smoga kita semua diberi kesehatan ya. Thanks for sharing. Aku sudah ikutann kuisnya :D

    BalasHapus
  11. eh..bunga2 tersebut mudah ditemui loh d desa. perlu merawat slahsatu bunga2 trsebut, skligus lebih aware dg pertumbuhan nyamuk ini.

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com