Pages

SOCIAL MEDIA

Jumat, 06 Mei 2016

Alergian? Siapa Takut! #AlergiTetapBerprestasi

Alergian? Siapa Takut! #AlergiTetapBerprestasiMama saya penderita Asma akut dan berbagai macam alergi, mulai dari makanan sampai obat. Pernah sekali jaman saya masih SMP, mama masuk rumah sakit karena sulit sekali bernafas sehabis beberes. Hampir seminggu mama dirawat. Tapi mama tetap ikut berbagai kegiatan, mulai dari pengajian, sampai senam. Bahkan jadi instruktur!

Kalau melihat aktifitas mama yang segudang, saya kadang lupa kalau mama tuh penderita Asma. Kalau lihat mama sedang beberes, saya pikir mama baik-baik saja. Baru terasa ketika mendengar nafasnya mulai berbunyi, pendek-pendek dan terbatuk-batuk semalaman sehabis beberes gudang atau bersih-bersih dapur. Ahh, ternyata penyakitnya tetap ada :).

Mama tuh ga boleh capek dan terpapar debu atau asap dalam waktu lama, penyakit Asmanya pasti kambuh. Pulang-pulang dari pelatihan senam 2-5 hari di luar kota, sesak. Tapi, teteup kekeuh ngerjain ini itu walau tersengal-sengal. Tetap berangkat, padahal semalaman susah tidur karena sesak.
"mama ga istirahat aja?"
"Gak, ini gak papa kog, tadi sudah minum obat".

Duh, mamaku, bicara aja udah ngos-ngosan, masih mau maksain pergi ke tempat senam.


Berawal dari Tau

Melalui www.cekalergi.com, saya Tau jika salah satu dari orang tua menderita alergi, maka anak akan mempunyai peluang mengalami alergi. Saya pun mengalaminya. Cuma, saya tak menderita Asma separah mama. Saya hanya tersiksa ketika terpapar debu dan asap rokok. Itu pun tak sampai menyebabkan sesak nafas, hanya bersin-bersin atau batuk-batuk tak berhenti.


Cek alergi di www.cekalergi.com
Cek alergi di www.cekalergi.com

Saat hamil Falda, sekali-kalinya saya mengalami sesak nafas. Sampai minta dibelikan pelega pernapasan.
"kog saya mendadak sesak nafas kayak orang Asma ya ma, padahal kan ga pernah Asma"
"lah, kamu dulu waktu kecil kan bolak balik ke dokter karena sering sesak nafas"
"hah, emang iya ma?"
"iya, sampai pantat kamu bengkak keseringan disuntik"
"hah?"

Saya beneran gak ingat kalau dulunya pernah mengalami Asma, lah selama sekolah gak pernah mengalami sesak nafas. Mungkin kekebalan saya meningkat jadinya hampir tak pernah kambuh.

Saya juga alergi makanan. Pernah bengkak-bengkak sekujur tubuh gara-gara makan telor. Ya, salah juga sih, makan sampai 5 biji. Hahaha. Telor setengah matang pula. Untung bengkaknya tak sampai menutupi jalan nafas.


Gejala Alergi

Gejala alergi pada tiap orang memang berbeda-beda.

Ada yang gejalanya berupa gangguan kulit macam bentol, gatal/ruam kulit, atau eksim. Mungkin ini yang terjadi ketika saya makan makanan laut.

Ada yang gejalanya berupa gangguan pernafasan. Manifestasinya dalam bentuk bersin-bersin, tenggorokan gatal, atau mengi, nafasnya berbunyi. Ini mirip dengan gangguan yang dialami mama.

Ada juga yang dalam bentuk gangguan pencernaan. Bentuknya bisa mual, muntah, diare, atau BAB berdarah. Hm, tampaknya saya pernah mengalami gejala ini ketika makan kepiting cukup banyak.

Reaksi alergi pada tiap orang, pada pemicu alergi (alergen) yang sama bisa berbeda-beda, sifatnya memang individual, tergantung bagaimana kekebalan tubuhnya bereaksi. Ada yang gatal-gatal tak lama setelah mengkonsumsi udang, ada yang sesak nafas, atau ada juga yang mual muntah.


Penyebab Alergi

Punya bakat dan riwayat alergi itu memang membuat was-was. Apa nantinya saya juga akan "mewariskan" bakat alergi? Apakah anak-anak nantinya akan ikut alergian? Apakah anak-anak akan mengalami alergi yang sama? Gak keren amat ya, nurunin bakat kog alergi, mbok ya bakat apa gitu.

Ternyata, faktor genetik memang cukup berperan sebagai faktor penyebab terjadinya alergi. Anak yang mempunyai orang tua atau saudara yang menderita alergi akan berpeluang lebih tinggi ikut mengalami alergi juga. Persentase peluangnya bisa dicek melalui tabel berikut.

Persentase alergi diturunkan
Persentase alergi diturunkan

Peluang saya mendapatkan "bakat" alergi dari mama adalah 20-40%. Begitu pun peluang saya menurunkan alergi. Anak-anak mempunyai peluang 20-40% menderita alergi seperti saya. Bisa jadi bentuk alerginya sama, bisa juga berbeda.

Selain faktor genetik, faktor lingkungan juga bisa menjadi pemicunya. Pada kondisi alergi, sistem kekebalan tubuh salah mengenali bahan tak berbahaya sebagai ancaman, akibatnya muncul reaksi alergi. Bahan tak berbahaya yang menjadi pemicu alergi inilah yang disebut alergen. Alergen bisa berasal dari makanan, debu, bulu binatang, serbuk, atau obat-obatan.

Berhubung punya riwayat alergi, saya selalu berusaha mencari info. Saya mau sembuh. Tak cukup hanya membaca, saya merasa perlu juga berkonsultasi dan mendengar langsung. Terutama dari dokter. Untungnya dalam rangka Alergy WeekMorinaga mengadakan Hospital Parenting Seminar, Coaching Clinic dan Live Chat via www.cekalergi.com/AllergyWeek, jadi saya bisa bertanya sepuas-puasnya soal alergi.


KALCare Lotte Shopping Avenue
KALCare Lotte Shopping Avenue

Menurut dr. Sri Sulistiawati, SpA yang saya temui di KALcare Lotte Shopping Avenue, alergi tak bisa disembuhkan. Belum ada penelitian yang menemukan obat penyembuh alergi. Huhuhu. Sediihh.

Tapi, saya kekeuh bertanya pada dr Sri kalau dulu pernah mendengar terapi penyembuhan alergi. Waktu itu sih berharap, alergi benar-benar bisa disembuhkan. Agar tak tersiksa ketika sedang bebersih, ga meler dan bersin-bersin macam orang pilek di pagi hari. Nyatanya, dr Sri pun dengan yakin mengatakan, "alergi belum bisa disembuhkan". Dikurangi saja dampaknya masih bisa, tapi tetap tak bisa sembuh total. Jika terlihat sembuh, bukan tak mungkin suatu saat muncul kembali.


Konsultasi di Coaching Clinic Kalcare
Konsultasi di Coaching Clinic Kalcare

Alergi Bisa Berkurang

Alergi cuma bisa dihindari pencetusnya. Begitu menjauh, reaksinya berkurang. Tak heran mama berusaha menahan diri untuk memakan ketan atau udang yang disukainya. "Kalau kumat mah repot".

Saat kecil, saya juga menderita alergi udang dan beberapa makanan laut. Beranjak besar dan kekebalan tubuh meningkat, dampak alerginya berkurang. Kalau dulunya makan udang langsung membuat saya gatal-gatal atau biduran, sekarang makan udang pun cuek.

Alergi memang bisa berkurang. Jika sekali waktu pernah bengkak atau kulit memerah setelah mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu, bukan berarti selamanya tubuh akan bereaksi terhadap makanan atau minuman yang sama. Menurut dr. Sri, tubuh bisa kog dilatih kekebalannya dalam menghadapi alergen. Tak ada salahnya mencoba lagi, siapa tahu pada saat itu kekebalan tubuh sudah meningkat dan tak lagi bereaksi terhadap alergen tersebut. Hal ini pun berlaku bagi yang alergi susu sapi.
"Jika pada periode tertentu anak mengalami alergi, hindari dulu pencetusnya selama beberapa waktu. Pada periode berikutnya, misalnya 6 bulan, coba lagi. Untuk memastikan reaksi alergi masih ada atau sudah berkurang" dr. Sri Sulistiawati, Sp.A

Ini salah satu bentuk terapi untuk meminimalisir dampak alergi. Jika setelah dicoba masih ada reaksi, hentikan dulu. Setelah 3-6 bulan, coba berikan lagi. Hal ini bisa dicoba untuk alergi pada makanan.

Pengaruh kesegaran makanan ternyata bisa menjadi penyebab alergi. Saya mengamati, jika makan udang yang kurang segar, biasanya saat dibersihkan kaki-kaki udang terlihat menghitam, maka reaksi alergi akan muncul. Saat saya bertanya untuk memastikan, dr. Sri pun mengaminkan
"Udang yang kurang segar akan mengeluarkan zat yang dapat memicu alergi"
Pantas Ferdi pun mengalami reaksi yang berbeda-beda ketika memakan udang. Kadang aman-aman saja tanpa reaksi alergi, kadang bengkak-bengkak.


Upaya MenCegah

Alergi memang tak bisa disembuhkan. Tapi bisa dicegah kemunculannya. Beberapa hal ini dapat dilakukan untuk mencegah munculnya alergi pada anak.

Tips Mencegah Alergi
Tips Mencegah Alergi

Tips pencegahan alergi yang dikemukakan Kalbe Nutritionals ini lumayan berhasil mencegah alergi pada 3F. Dari ketiga anak yang mendapat ASI eksklusif, hanya Ferdi yang menurunkan bakat alergi yang sama dengan saya. Itu pun baru muncul setelah lepas ASI 2 tahun dan tak terlalu parah. Hanya sesekali muncul reaksi alergi jika terkena debu dan asap tebal, atau makan makanan laut tak segar.


Atasi Alergi

Alergi tentu menyiksa ya, secara tak bisa disembuhkan. Lantas bagaimana dong mengatasinya?

1. Cara mudah ya sudah tentu dengan menghindari pencetusnya. Kenali sumber penyebab alergi, hindari sebisa mungkin. Misalnya hindari debu, bulu binatang, atau makanan pencetus alergi.

2. Pada anak-anak yang mempunyai riwayat alergi dalam keluarga, bisa mengkonsumsi susu sapi yang sudah terhidrolisat seperti Susu Protein Hidrolisat Parsial. Susu jenis ini sudah dipecah proteinnya, dibuat lebih ringkas rantai proteinnya, agar lebih mudah dicerna. Hal ini membantu meringankan kerja lambung dalam mencerna susu sehingga asupan gizi tetap terjaga.

Alternatif susu untuk anak yang alergi
Alternatif susu untuk anak yang alergi

Jika menderita alergi susu sapi dan benar-benar tak mampu mencerna protein susu sapi, alternatif lain bisa mengkonsumsi Susu Soya yang proteinnya hampir setara susu sapi.


Sebarkan Info, Alergi Tak Hambat Potensi

Mama secara tidak langsung mengajarkan saya bahwa menderita alergi bukan halangan untuk beraktifitas. Alergi tak boleh jadi halangan dalam mengembangkan potensi. Melalui seabrek aktifitasnya, walau menderita asma dan berbagai alergi yang cukup berat, nyatanya mama tetap bisa melakukan beragam kegiatan, bahkan menjadi instruktur senam.

Saya pun begitu. Walau menderita alergi debu dan dingin, saya tetap asyik beraktifitas. Bersin-bersin atau bahkan hidung meler ketika bertemu pencetus, tak menghalangi saya untuk tetap aktif :). Kegiatan pramuka mulai dari berkemah, napak tilas, naik turun bukit, sampai Osis pun saya jalani.

Begitu pun yang terjadi pada Ferdi. Walau alergi pada makanan tertentu, terkadang bersin-bersin jika terpapar debu atau kadang murus jika minum susu kebanyakan, Ferdi tetap menunjukkan semangatnya. Baru-baru ini Ferdi ditunjuk menjadi salah satu petugas pada acara perkemahan di sekolah. Udara dingin malam, debu api unggun yang mungkin bisa memicu rekasi alergi, tak menghambatnya untuk terus mengikuti kegiatan hingga selesai. #AlergiTetapBerprestasi

#AlergiTetapBerprestasi
Ferdi saat mengikuti kegiatan Pramuka - #AlergiTetapBerprestasi

Sebagai orang tua yang punya bakat alergi dan mempunyai anak dengan risiko alergi, saya sangat terbantu dengan adanya kampanye semua berawal dari ingin tau, cegah dan atasi, serta sebar informasi yang tepat mengenai alergi anak yang digagas Morinaga. Saya menjadi lebih paham tentang alergi.

Saya jadi tahu tentang susu yang bisa dikonsumsi anak yang memiliki risiko alergi, Susu dengan formula MoriCare+ Prodiges yang mengandung Kolin, asam lemak esensial, dan zat besi ini dapat membantu anak mengembangkan kecerdasan multitalenta. Kandungan probiotik dan prebiotiknya akan membantu membangun pertahanan tubuh ganda sehingga anak tak perlu terhambat aktifitasnya. Adanya Kalsium dan Vitamin D akan membantu menjaga kepadatan tulang dan gigi sehingga membuat anak tumbuh dengan optimal.

Susu untuk anak alergi
Susu untuk anak alergi

Dengan pola asuh dan gaya belajar yang tepat, anak akan bisa mengembangkan kecerdasan multitalenta. Tak hanya cerdas secara kognitif, namun juga cerdas secara emosi. Mampu mengelola diri dan mengelola emosi. Tahu bagaimana bersikap dan bertingkah laku. Mampu memecahkan masalah dan mengendalikan mood. Anak-anak yang mempunyai kecerdasan emosi akan bisa menjadi generasi platinum yang membanggakan dan penuh talenta.

Punya riwayat alergi dan mau tahu tentang alergi lebih jauh?
Baca di www.cekalergi.com,
Facebook Morinaga Platinum,
Twitter @Morinagaid,
Instagram @MorinagaPlatinum.

Oh ya, ada Lomba Cerita dengan tema Celoteh Cita-cita si Kecil. Hadiahnya smartphone, keren ya?

20 komentar :

  1. Aaahh... Mau ikutaan sapa tau dpt hape yaaa. Doakaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, lumayan kalau dapat HP, aku juga maoooo :)

      Hapus
  2. Saya alergi udang. :(
    Jadi udang yang kurang/tidak fresh akan lebih menimbulkan reaksi ya.
    Thanks for sharing, mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, udang yang kurang fresh rentan menimbulkan reaksi alergi

      Hapus
  3. saya aalergi sama ayam potong, jadi kalau makan ayam potong. merah2 badan ini. makasih sharenya.. membantu... salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. loh, ayam potong bisa mmbuat alergi juga ya? Hm, jarang-jarang padahal ya. Ayam potong apapun kah?

      Hapus
  4. Wah penting ini mba, makasih sharenya..

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah di keluarga kami nggak ada yang alergi makanan atau debu dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aman dunk, enaknya. Aku pengeen

      Hapus
  6. Makin canggih saja ya susu formula sekarang. Jadi tenang gizi tetap terpenuhi walo alergi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, disesuaikan dengan kebutuhan anak.

      Hapus
  7. jika diabaikan alergi bukan hanya menghambat potensi si kecil juga membuat risau dan panik orangtuanya ,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mak, bikin risau dan panik, kadang bisa life threatening juga kalau hubungannya sama saluran pernapasan

      Hapus
  8. untuk orang dewasa ini bisa juga gak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, soal itu saya kurang paham mb Noni, mungkin bisa cek di website www.cekalergi.com

      Hapus
  9. Baru tau aq mba klo alergi itu nurun juga. Kebetulan di keluargaku ga ada yg alerginan nih. Morinaga oke nih ya menyediakan susu bagi anak dg kecenderungan alergi

    BalasHapus
  10. wah keren alergi ternyata ga menghalangi orang untuk beraktifitas ya. Jadi malu sendiri, saya kadang males kemana-mana karena males naik angkot dan hirup asap rokok. Paling ga tahan banget sama asap rokok.

    BalasHapus
  11. Saya kebetulan gak alergi-an
    insyaallah nurun ke anak-anak juga ga alergi-an
    semoga kita semua sehat selalu amin

    BalasHapus
  12. saya suka alergi debu mak, tapi pas udah gedhe sih. waktu masih kecil suka minum susu gak kenapa2.. imun anak beda-beda ya mak.. semoga gak mengganggu kreativitas anak

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com