Rabu, 30 Maret 2016

Cara Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak

Cara Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak

Punya anak pintar aja ga cukup. Karena apalah artinya kepintaran jika tidak disertai perilaku yang baik? Apalah artinya kepintaran jika tidak disertai kemampuan sosialisasi yang baik? Apalah artinya pintar jika tak punya kepedulian sosial?

Pada beberapa kasus yang saya tahu, orang yang berhasil justru orang-orang yang punya kemampuan sosialisasi yang baik diikuti perilaku yang terpuji.

Coba deh kita sendiri nih, ketemu temen yang pinter tapi hobi merendahkan orang lain, asyik ga? Atau, pinter, tapi kuper atau ga punya empati. Ga asyik kan?

Pernah datang ke acara-acara reuni sekolah? Pernah ketemu dengan teman-teman sekolah yang jaman dulunya iseng, sering bolos atau ga masuk pada jam pelajaran tertentu? Kadang mereka mengganggu, tapi ketika si teman disakiti, mereka yang merasa terganggu. Solidaritasnya langsung muncul.

Beberapa teman saya yang dulu terkenal jahil dan hobi ngerjain teman, ternyata sekarang sukses. Saya ingat betul seorang teman sebangku, sering nyontek, pinjam peer, atau minta bantuan ngerjain tugas, sekarang sukses jadi wanita karir, punya rumah mewah dan sering jalan-jalan ke luar negeri.

Apa yang membuat mereka sukses?

Mudah bergaul dan punya jiwa sosial tinggi!

Yap, hal ini tampaknya menjadi modal dasar untuk sukses. Teman saya itu memang supel. Walau agak lemot dalam menangkap pelajaran, tapi dia baik hati dan ramah luar biasa. Sering membawakan makanan dan tak segan berbagi pada teman-teman sekelas. Kadang-kadang kalau dijemput, dia tak segan menawari tumpangan. Ia mudah akrab dengan siapa pun. Ga pernah pilih-pilih. Tak heran temannya banyak. Ini sisi lain yang mampu dimanfaatkannya dengan baik.

Belajar dari pengalaman sendiri, saya tak mau menekankan anak-anak jadi juara. Saya tak mau menargetkan mereka punya nilai luar biasa. Buat saya, cukup lah mereka mengerti dan memahami materi dengan baik. Nilai tak selalu mempresentasikan penguasaan akan pelajaran, bisa saja mereka kurang teliti ketika membaca soal.

Saya dan suami lebih suka anak-anak banyak bergaul dan punya kepekaan sosial yang tinggi. Punya anak pintar yang mempunyai kecerdasan emosi, jauh lebih berarti kan? Apalah artinya pintar tapi tak mau berbagi? Apalah artinya pintar tapi mengambil hak orang lain? Apalah artinya pintar tapi sering melukai perasaan orang lain?

Ini pula yang ditekankan oleh Psikolog Roslina Verauli, M.Psi pada talkshow bersama pemain sepakbola nasional, Bambang Pamungkas, dan Andi Airin, Senior Brand Manager Bebelac pada acara acara BebeHero Park di atrium Kota Kasablanka, 26 Maret 2016 lalu. Menurut bu Roslina, "Anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang sehat, kompeten secara emosi, dan kompeten secara sosial"

Talkshow BebeHero #GrowThemGreat
Talkshow BebeHero #GrowThemGreat


Bu Roslina menambahkan, Empati adalah pintu masuk untuk menumbuhkan sikap peduli pada orang lain. Tumbuhnya empati akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian dan perilakunya saat dewasa. Empati adalah salah satu kecerdasan emosional yang menjadi dasar dari sifat kepahlawanan. Anak seperti ini memiliki kepedulian sosial, mampu melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain tanpa pamrih; memahami norma sosial, tahu mana yang benar dan salah, tahu batasan hak orang lain, dan mampu mengikuti aturan yang berlaku di lingkungan sosialnya.

Tugas orang tua untuk membantu agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan kepedulian sosial yang tinggi, meletakkan dasar moral dan empati, sebelum mereka belajar dari lingkungannya.

Agar tumbuh kembangnya optimal, anak perlu mendapat asupan gizi yang tepat, misalnya cukup kandungan vitamin, mineral, kalsium, hingga minyak ikan. Anak yang sehat dan tercukupi gizinya akan mampu mencerna berbagai permasalahan sosial dan siap melakukan berbagai aksi yang berguna bagi pertumbuhan psikologisnya.

Bagaimana menumbuhkan kepedulian sosial?

Taraf berpikir anak-anak umumnya masih konkrit. Agak sulit mengenalkan hal-hal yang rumit dengan penjelasan yang abstrak pada mereka. Mereka butuh sesuatu yang lebih nyata. Ada 3 metode penyampaian nilai-nilai kebaikan agar anak-anak mempunyai kepedulian sosial #GrowThemGreat

1. Story Telling
Anak-anak senang mendengarkan cerita. Tak ada salahnya orang tua bercerita tentang tokoh-tokoh yang senang menolong atau cerita tentang kegiatan menolong yang pernah dilakukannya. Atau bisa juga membacakan buku bercerita tentang aksi yang dilakukan seorang tokoh dalam menolong.

2.  Role Play (bermain peran)
Ajak anak untuk bermain peran. Pura-pura menjadi orang yang ditolong atau gantian jadi orang yang menolong.

3. Modeling
Cara paling mudah mengajarkan kepada anak-anak ya dengan memberi contoh. Berikan anak kesempatan untuk melihat langsung apa yang dilakukan orang tuanya. Kata-kata saja cuma akan numpang lewat. Contoh perilaku yang diberikan orang tua akan jauh lebih efektif untuk menumbuhkan aksi sosial pada anak-anak.

Agar kepedulian dan aksi sosial makin terpupuk, orang tua dapat melakukan hal berikut
- Berikan pujian ketika anak berusaha membantu orang lain
- Berikan kesempatan pada anak untuk mencoba membantu orang lain
- Ajak anak berdiskusi ketika melihat orang yang membutuhkan bantuan
- Buat tradisi dalam keluarga dalam bidang aksi sosial

Nah, rupanya, BebeHero park juga diadakan dalam rangka untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Misalnya fun race ini dibuat dengan meletakkan beberapa boneka binatang di tengah jalan. Tujuannya untuk mengasah kepekaan anak, apakah mereka perduli dengan binatang yang akan dilewati atau justru akan menabraknya?

Fun Race, BebeHero Park
Fun Race, BebeHero Park

Oh ya, di BebeHero Park ini juga ada Rumah Dandelion, lembaga Psikologi yang membantu memberikan konseling di tempat, para orang tua bisa puas bertanya tentang anak-anaknya. 

sesi konsultasi bersama Rumah Dandelion
sesi konsultasi bersama Rumah Dandelion

Bagaimana Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak?
Bagaimana Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak?

Anak yang punya kepedulian sosial biasanya akan punya kepekaan dan menghormati kebutuhan orang lain, tidak melanggar hak-hak orang lain. Hal ini tentu akan membuatnya disukai, lebih mudah bergaul dan percaya diri. Anak pun akan termotivasi untuk terus berbuat baik.

Oh ya, dalam rangka mendukung orang tua untuk membangun anak hebat, Bebelac membuat lomba untuk mencari BebeHero 2016. Mencari anak-anak yang cepat tanggap dan punya rasa peduli. Hadiah utamanya menjadi bintang iklan Bebelac dan Liburan ke Australia. Tiap minggunya ada pemenang yang mendapat hadiah emas 24K. Selengkapnya baca di #GrowThemGreat aja ya ;).

Jadi orang tua memang harus terus belajar, banyak hal yang bisa dikembangkan agar anak tak hanya cerdas secara kognitif tapi juga cerdas secara emosional dan sosial.

11 komentar:

  1. Marwah juga sangat senang dengan story telling, membantu anak memiliki imajinas luas juga ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anak akan mudah berimaginasi dan membayangkan sebuah peristiwa

      Hapus
  2. Kepedulian sosial pada anak memang perlu dibina sejak dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, memang perlu dipupuk sejak dini

      Hapus
  3. Jadi inget kalo EQ menentukan kesuksesan sebesar 80 persen sementara IQ 20 persen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naahh, iya, justru EQ yang lebih penting kan ya :)

      Hapus
  4. Nice Share mba, salam kenal ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir, salam kenal balik :)

      Hapus
  5. teladan dari orang tua yang pertama yang mereka perhatikan.

    BalasHapus
  6. Kepedulian sosial memang perlu pembiasaan, dan pembiasaan yang baik adalah pada masa kecil sang anak, karena penyerapan ilmu akan tinggi :) Be a great moms :)

    BalasHapus
  7. Jadi pengen ikutan nenehero neh mak

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com