Pages

SOCIAL MEDIA

Selasa, 09 Februari 2016

Menjadikan anak Pertama Proyek Percontohan?

Menjadikan anak Pertama Proyek Percontohan?

Hahh? Masa sih anak pertama jadi proyek percontohan?

Hm...saya mendadak nemu ide ini karena teringat obrolan saat arisan keluarga bulan lalu. Salah seorang tante saya berbagi cerita tentang bagaimana anak-anaknya sampai termotivasi untuk masuk universitas negeri.

"Saya memang menekankan ke anak-anak, ibu cuma mau biayain kuliah kalau Universitas Negeri, kalau ngga, ya ngga ada cerita"

Nah, ramai deh tuh pembahasanya

"Yaa, kalau anak-anak termotivasi semua sih enak ya, kalau ngga bagaimana? Trus kalau ngga lulus, apa dia ngga kuliah"
"Ya ngulang lagi tahun depan"
"Kalau ga lulus lagi"
"Ya gitu terus sampai dapat negeri"

Wah, dalam hati saya langsung ngomong "wah iya juga ya, boleh juga nih gaya begini"

"Tapi mb, kan ga semua anak bisa termotivasi seperti itu ya"
"Nah, makanya anak pertama selalu saya jadikan proyek percontohan. Kalau kakaknya sukses, adik-adiknya biasanya akan mengikuti jejak kakaknya. Dan biasanya kakaknya juga akan sharing tuh bagaimana dia bisa berhasil mencapai langkah-langkah itu. Si adik jadi termotivasi untuk mengikuti"

Anak Pertama sebagai Modelling, anak Pertama Sebagai Model

Hm..hm sebagai orang tua yang punya anak remaja yang dalam beberapa tahun ke depan akan mengalami ini, informasi begini saya cermati betul.

Jaman dulu, saya ga pernah setuju dengan orang tua mana pun yang selalu menjadikan anak pertamanya sebagai contoh. Saya sebagai anak pertama terus terang paling tidak suka dijadikan "contoh". Hey, saya ini manusia biasa, yang bisa aja salah dan khilaf. Jadi please jangan donk berharap terlalu banyak agar saya jadi "contoh yang baik" bagi adik-adik saya *maaf ya kalau agak emosi :).

Saya paling benci kalimat "jadi lah contoh yang baik buat adik-adikmu". Duuh, saya paling ngga suka kalimat itu, seolah-olah sebagai anak pertama tuh ga boleh salah! Kalau salah langsung hujatannya berat "tuh kan, gara-gara kamu, adik-adik kamu jadi ngikut tuh". Duh, please deh, jangan nyalahin anak pertama.

Maaf ya teman-teman kalau rada emosi, ini curahan hati anak pertama nih. Hahahaha.

Itu sebabnya dalam pola pengasuhan, saya berusaha banget untuk menjadikan anak pertama seperti apa adanya. Saya ga mau ngepush Faldi jadi contoh. Kasihan euuyy. Takutnya hal seperti ini akan membuat Faldi merasa ga nyaman sebagai kakak tertua, akhirnya jadi tidak "care" sama adiknya karena merasa dibedakan.

Seminim mungkin saya menjauhkan kata-kata "contoh tuh kakak". Bagi saya kalimat seperti itu hanya akan membuat si kakak jadi merasa terbebani. Akibat buruknya bisa saja dia stress karena selalu merasa dituntut untuk selalu sempurna setiap saat. Bukan tidak mungkin nantinya dia jadi punya sindrom perfeksionis. Selalu ingin sempurna, selalu ingin tampak sempurna, stress kalau tak bisa sempurna. Waduuhh

Tapi, mendengar sharing dari tante saya tadi, saya jadi kepikiran lagi. Mungkin benar juga sih menjadikan anak pertama sebagai proyek percontohan itu baik. Hanya caranya saja yang beda.

Kalau dalam kasus tante saya, anak pertama ini dijadikan semacam proyek percontohan, diusahakan betul sebaik mungkin tanpa mengintimidasi dengan kata-kata "jadilah contoh yang baik buat adik-adikmu".
Yang penting mengupayakan yang terbaik agar anak pertama ini sukses, nanti adik-adiknya kan akan melihat si kakak yang sudah berhasil. Sedikit atau banyak pasti akan ada pengaruhnya. Sang adik akan melihat role model. Sebuah contoh yang ga perlu diminta untuk dicontoh, tapi karena menarik maka akan secara tidak sadar akan ditiru segala gerak geriknya.

Efek peniruan melalui contoh langsung ini akan lebih hebat efeknya ketimbang kata-kata "contoh tuh kakak" yang lebih mengintimidasi. Hahahaha.

Ini juga kayaknya yang membuat Ferdi yang tadinya mau masuk di Smart Excelentia, Boarding School gratis dari Dompet Dhuafa, mendadak berubah haluan.

Saat saya tanya
"Ferdi jadinya mau masuk mana? Jadi mau masuk Smart? atau SMP Negeri? Swasta?"
"Mau masuk tempatnya kakak"

Nah!

Saya sendiri ga pernah memproyeksikan anak-anak mau jadi apa dan sekolah di mana, seperti sharing saya "Memilih Resiko yang sanggup dihadapi". Saya ga mengharuskan mereka masuk pondok. Tapi kalau akhirnya jadi pada memilih masuk pondok mengikuti jejak kakaknya, ya saya mau bilang apa. Pengen sih mereka tetap dalam pengasuhan saya sehari-harinya. Tetap saya yang menemani di rumah, tetap saya yang mengarahkan ini itu. Tapi yaa, speechless :)

Bener juga kalau anak pertama itu mau ga mau jadi kayak semacam percontohan :). Setidaknya jadi modelling bagi adik-adiknya. Cuma memang bagusnya bukan sengaja diproyeksikan untuk jadi model yang sempurna banget. Biarkan aja proses modelling berjalan secara alami. Biar lah si adik melihat sendiri figur si kakak sebagai model yang memang layak diikuti jejaknya, bukan karena sengaja didorong-dorong atau dipaksa orang tua.

Ibarat kata "Lead by example", seperti kita sebagai orang tua. Memberi contoh itu jauh lebih baik daripada bawel, ya ga sih?

Yaa, mudah-mudahan aja si adik ga pada ketularan doyan rendang jengkol kayak si kakak yang mulai ketularan teman-teman pondoknya. Kalau sampai "ketularan" juga, gawat dah emaknya :)

12 komentar :

  1. Anakku (3yo dan 1yo) sejak bayi sudah keliatan banget beda sifatnya. Hmmm, kalau saya mungkin tdk akan memaksa dia jadi model sempurna jg. Mungkin yg bisa saya lakukan ya dibuat saling melengkapi, memberitahu kakak apa kelebihan adek, di satu sisi kasi tau jg kelebihan adek ke si kakak. Saling memuji. Memuji kakak di depan adek, memuji adek di depan kakak. Moga2 sih bisa ya, soalnya kdng kalau gemes malah kyk membandingkan huhuhu...

    BalasHapus
  2. Kenyataannya mmg anak pertama sering jadi percontohan. Misalnya sj anak pertama skrg sdh mudah klo diajak sholat. Akhirnya anak ke-2 mengikuti.

    Dan setuju dg Mb Maya klo tdk usah sengaja menjadikan dia proyek percontohan.

    Saya jg anak pertama. #eh :)

    BalasHapus
  3. sebagai anak kedua, saya merasa pegel jg disuruh sesempurna kakak pertama. buntutnya jd sering stres deh *malahcurhat*
    oleh sebab itu, saya ga maksain boyz harus berprestasi spt si aa lewat kata2 kamu harus kayak aa.
    anak pertama mmng jd contoh u adik2nya. spt skr aa masuk pesantren, kami orang tuanya mengharuskan adik2nya jg masuk pesantren. bilangnya bukan karena harus spt Aa. tp karena mereka semua anak ibu dan bapa harus sekolah di pesantren.

    BalasHapus
  4. Iya..kasian si kakak jadi terbebani dan si adik jadi gak bisa jadi dirinya sendiri

    BalasHapus
  5. kasian si sulung ya. kalo aku mikir, setiap anak punya sefat yg beda. jd gak bs menyamaratakan

    BalasHapus
  6. anak itu memang suka dengan meniru ya , so memang kita harus baik , agar anak meniru dengan baik..

    BalasHapus
  7. Benar banget Mba.. Secara aku anak pertama oleh orangtuaku khususnya papa mendidikku agar berhasil dan sukses.. Katanya kalau yg sulung sukses ntar adik2nya juga niru ikut sukses juga.. Alhamdulillah benar adanya Mba.. DAku bukannya terbebani malah ikutan bangga adik2ku juga berhasil sesuai harapan orangtua kami..

    BalasHapus
  8. Rendang jengkol enak mbaaa heheuuu... Si kakak tau aja.
    Aku setuju, contoh lebih powerfull dibanding kata. Anak pertama jadi contoh, aku juga dulu suka ikutan kakak2ku :D

    BalasHapus
  9. Kalo yg paling sering sy temui dari kasus anak pertama itu dia selalu disuruh ngalah dari si adik. Kebayang gimana betenya, karena itu yg dialami sepupu sy.
    Dan sy setuju, contoh tindakan jauh lebih efektif dr sekedar kalimat yg kalo keluar bisa terdengar kurang nyaman di telinga :)

    BalasHapus
  10. Hehehe, baru tahu nih kalo bisa jadi proyek juga :D Boleh dicoba setelah lahiran anak kedua nanti

    BalasHapus
  11. anak pertama muncul *ting
    dulu, aku malah nggak ngerasa kalau aku dijadiin contoh ke adekku hingga adekku blg "dikt2 kayak mbak, gini kayak mbak, kesel". stlh aku tau itu, aku nyobak blg ke bpk ibuk utk gk jadiin aku patokan, kalok nasehatin ya nasehatin aja, nggak usah ada kalimt "kayak mbkmu itu loh", gitu, alhmdulillh ibuk bpk mau makek saranku itu, tp ya kadang2 masih suka kelepasan sih.

    BalasHapus
  12. saya setuju..kalo anak dijadikan proyek percontohan...tapi tanpa intimidasi..meskipun hanya kata-kata,
    cuman resikonya..yaa kalo anaknya gagal...maka efeknya bisa buruk buat yang lain..
    keep happy blogging always..salam dari makassar - banjarbaru :-)

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com