Kamis, 25 Februari 2016

Mengintip Keluarga Parengkuan dalam Mengasuh Anak

Mengintip Keluarga Parengkuan dalam Mengasuh Anak

Mempunyai anak dan menjadi orang tua itu memang menyenangkan. Ada yang bisa diajak main, ada yang bisa diajak berbagi cerita, maupun ada yang memeluk ketika sedang gundah. Tapi di sisi lain, ada tanggung jawab yang harus diemban.

Sebagai orang tua, ada tanggung jawab dan konsekwensi yang harus dijalani, mulai dari mengantarkan anak-anak menjadi orang yang berguna, mempunyai kepribadian yang baik, menyenangkan, sholeh /sholeha, maupun berakhlak mulia. Banyak. Tiap keluarga tentu mempunyai visi dan misi yang berbeda.

Agar dapat menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, prosesnya susah-susah gampang. Terlihat gampang karena tampaknya hanya mengikuti naluri sebagai orang tua. Tapi menjadi susah karena mendidik anak hingga menjadi seseorang yang mempunyai kepribadian yang orang tua inginkan itu tidak mudah. Anak bukan lah benda mati yang mudah dibentuk-bentuk. Anak punya perasaan, pemikiran, dan perilaku sendiri yang tak mudah diatur-atur.

Padahal tugas sebagai orang tua adalah membentuk karakter anak.

Bukan pekerjaan mudah membentuk benda hidup!

Membuat tembikar aja ada workshopnya. Membuat Clay, dengan mudah bisa ditemukan kelasnya.

Tapi menjadi orang tua?

Seringkali orang tua dibenturkan pada kondisi kegamangan ketika mengasuh anak. Dalam kondisi dan situasi seperti ini, saya harus bagaimana ya?

Puluhan buku, bahkan puluhan kelas parenting yang diikuti pun rasanya masih belum cukup untuk menambah ilmu untuk menjadi orang tua. Harus terus belajar dan belajar lagi,

Anak selalu berkembang, lingkungan selalu berubah, orang tua pun mau ga mau harus selalu tanggap terhadap perubahan yang ada. Harus selalu dinamis. Tak bisa kaku terhadap perubahan jaman, tapi juga tak boleh terlalu longgar terhadap aturan.

Contoh paling gampang ya ketika era digital ini. Apakah mungkin anak sama sekali tak boleh mengenal gadget? Apakah iya, anak harus diisolasi dari dunia "Maya", dijauhkan dari dunia digital agar ia tak sampai mengakses situs-situs yang tidak diinginkan orang tua? Apa iya anak perlu diberi pembatasan dalam penggunaan gadget? Usia berapa anak boleh dikenalkan gadget?

Pasti akan panjang pembahasan tentangini yaa. Mungkin saya akan bahas terpisah tentang ini.

Sebagai orang tua, tugas pengasuhan anak ini memang yang paling rumit. Berbagai teori mungkin banyak bertebaran, berbagai ilmu tinggal dicomot di dunia online maupun offline. Tapi, tak pernah ada satu kondisi yang pernah benar-benar sama pada masing-masing keluarga.

Kondisi semacam inilah yang membuat orang tua sering galau. "Anak saya sekarang begini, saya harus bagaimanaaa?" *setengah teriak.

Dalam mengasuh anak-anak, saya justru tak terlalu banyak mengandalkan teori-teori Psikologi yang sudah saya pelajari selama kuliah. Secara teori mungkin saya ambil dasarnya saja, tapi dalam penerapannya, saya butuh contoh kongkrit.

Contoh kongkrit itu bisa ada dimana-mana. Dulu, sebelum menikah, saya sering menginap di rumah keluarga om, tante atau teman. Keluarga yang sering saya jadikan tempat menginap ini diam-diam saya jadikan referensi. Semakin banyak keluarga yang bisa saya intip kehidupannya, semakin banyak referensi saya dalam mengasuh anak.

Nah, salah satu yang tampaknya akan saya intip sekarang ini adalah Keluarga Parengkuan. Erwin Parengkuan dan istrinya Jana G. Parengkuan, termasuk keluarga yang sepi gosip. Selama hampir 18 tahun menikah, rasanya tak ada gosip aneh-aneh yang terdengar dari keluarga ini.

Sharing dari anak pertama Erwin Parengkuan tentang ayahnya
Sharing dari anak pertama Erwin Parengkuan tentang ayahnya

Saat acara pengenalan kanal online video lokal, Vidio.com, pada 15 Februari lalu, saya langsung tertarik untuk mengikuti bagaimana Keluarga Parengkuan menjalin komunikasi dalam keluarganya.

Sebagai orang tua yang mempunyai anak remaja, saya butuh referensi orang tua lain yang sudah lebih dulu menemani anaknya melalui masa remaja. Apakah mereka melakukan pembatasan penggunaan gadget? Apakah memberlakukan jam malam? Apakah memberikan ijin kalau anak meminta perangkat semacam Smartwatch? Banyak hal-hal yang saya ingin ketahui. Untungnya bisa intip di www.vidio.com/theparengkuans.

Sayang Vidio.com ini baru ada sekarang. Coba sudah ada sejak dulu, rasanya saya pengen juga intip keluarga Adie MS dan Memes. Pengen tahu bagaimana keseharian mereka membangun kehangatan dan menjalin komunikasi sehingga bisa sukses mendidik anak seperti Kevin yang multi talent dan adiknya.

Bukan ga mungkin, saya juga someday bikin kanal di sini? Ehh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com