Minggu, 27 September 2015

Tips Membentuk Konsep Diri Positif pada Anak dan Remaja

Pembentukan Konsep Diri Positif pada Remaja. Konsep Diri? Makanan apa tuh? Haiiiissshhh.

Konsep Diri adalah konsep yang kita buat sendiri menyangkut diri. Bagaimana seseorang memandang dan melihat dirinya sendiri dan membuat konsep tentang dirinya. Konsep diri ini menyangkut seberapa positif atau seberapa negatif seseorang memandang diri dan kemampuan yang dimilikinya. Konsep diri kadang tidak berkorelasi langsung dengan persepsi sosial yang dilekatkan pada seseorang.

Contohnya gini nih. Si A anaknya terlihat supel, periang dan mudah bergaul. Nah, itu adalah persepsi sosial yang melekat pada diri si A. Tapi, setelah dikorek lebih jauh, ternyata A ga pernah menganggap dirinya anak yang supel dan periang. A justru merasa dirinya adalah orang yang minderan dan ga mudah dekat dengan seseorang. Nah, apa yang A pahami tentang dirinya inilah yang namanya konsep diri. Bagaimana si A ini memandang dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangan yang ia miliki yang ia persepsikan ke dalam diri.

Nah, konsep diri ini ada yang positif dan ada juga yang negatif.

Konsep diri positif
Konsep diri positif menyangkut seberapa positif seseorang memandang dirinya. Apakah ia merasa dirinya baik dalam bidang tertentu, merasa cakap dalam suatu ketrampilan, atau merasa mampu melakukan sesuatu.

Konsep diri yang positif ini erat kaitannya dengan kepercayaan diri. Orang yang punya konsep diri positif umumnya akan memiliki kepercayaan diri tinggi. Kalau di beberapa jurnal-jurnal Psikologi, korelasi antara konsep diri positif dan kepercayaan diri tinggi ini biasanya positif, artinya ada korelasinya. Saya ga akan bahas lebih jauh sumber dan data Psikologinya yaaa, ntar malah pusing dengan istilah-istilah Psikologi. Buat mahasiswa Psikologi (apalagi mahasiswa saya), jangan ambil ini jadi referensi mentah yaaa. Ambil dari jurnal international langsung aja gih *galak. Lagi malas menggunakan bahasa ilmiah, hahaha.

Konsep diri Negatif
Kalau ada positif tentu ada negatif yak. Jadi ini ya kebalikannya yang positif. Orang yang memiliki konsep diri negatif selalu memandang dirinya dari sisi negatif, selalu melihat dirinya kurang. Kurang mampu, kurang cakap, kurang pandai, kurang jago, ga pede, dsb.

Konsep diri negatif ini bisa saja terbentuk akibat persepsi sosial yang negatif terhadap dirinya tapi bisa jadi juga ga ada hubungannya seperti contoh di atas. A yang dipersepsikan teman-temannya sebagai orang yang supel dan periang justru mempunyai konsep bahwa dirinya orang yang minderan dan tidak mudah melakukan pendekatan ke seseorang.

Walaupun persepsi sosial tidak berpengaruh langsung, tapi sedikit banyak juga bisa berpengaruh ke konsep diri seorang anak. Kalau ga singkron gini, anak biasanya jadi gampang galau *cmiiw. Dirinya sendiri merasa ga pede, tapi teman-temannya menganggap ybs oke-oke aja. Nah, kalau udah gini, jadi gampang ragu dalam bertindak.

Lantas gimana donk supaya anak, apalagi remaja bisa punya konsep diri positif?

Perlu dicatat yaa, konsep diri itu tidak ujug-ujug muncul begitu saja, tapi terbentuk seiring berjalannya waktu.
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan bagaimana lingkungan sosial memperlakukan seorang anak. Bagaimana orang tua memberi perlakuan, bagaimana guru memberi apresiasi, bagaimana teman sekolah memberikan dukungan, dsb.


Sooo, ini tips agar anak maupun remaja bisa mempunyai konsep diri yang positif

1. Berikan Apresiasi

Ketika anak melakukan sesuatu, berikan apresiasi atas apa yang dilakukannya.
Sekecil apapun prestasinya, berikan apresiasi.
Misalnya nih A berhasil menyusun brick (lego) sampai jadi bangunan atau bentuk tertentu di luar yang biasa ia buat, berikan apresiasi
"wahhh, hebat deh bisa nyusun lego sampai jadi tower begitu"

2. Berikan Dukungan

Kadang ada kalanya anak merasa tidak yakin dengan apa yang dilakukannya atau mendadak patah arang karena kalah lomba atau tidak berhasil melakukan sesuatu. Pada kondisi seperti itu, anak dan remaja butuh banget dukungan dari orang terdekatnya. Bukan hujatan atau makian yang ia inginkan, tapi dukungan semangat agar ia mampu menghadapi dan melalui sesuatu

"Sekarang bisa aja kamu gagal, tapiiii kalau terus berlatih hingga mahir, bunda yakin banget deh kamu akan bisa menang"

Berikan pelukan penguat atau tepukan dukungan di bahu jika diperlukan "kamu pasti bisa!!"

3. Berikan Kesempatan

Kadang-kadang, anak perlu diberikan kesempatan atau peluang untuk melakukan sesuatu agar ia punya pengalaman berhasil.

Pengalaman-pengalaman berhasil akan membentuk konsep diri positif pada anak. 

Ciptakan peluang. Berikan anak tantangan agar ia mampu meraih prestasi-prestasi kecil yang akan membuat ia merasa dirinya MAMPU. Memang sih ga semua peluang bisa diberikan. Orang tua harus jeli memilih tantangan seperti apa yang akan diberikan.

Contoh yang pernah saya alami sendiri adalah ketika Ferdi yang tidak berani menghidupkan kompor padahal sudah kelas 6 SD. Ferdi yang kidal ini selalu ragu-ragu dan meminta bantuan untuk menghidupkan kompor kalau mau coba-coba memasak sesuatu, macam merebus mie atau ceplok telor.

Sekali waktu, Ferdi merengek minta dibuatkan mie. Saya yang sedang mengetik, pura-pura sibuk
"wah Ferdi aja deh bikin sendiri, bunda lagi ada kerjaan nih"
"tapi aku ga bisa ngidupin kompornya bund"
"coba lah, pasti bisa"

Mulanya memang berat banget, beberapa kali percobaan meleset karena kekuatan tangan kiri Ferdi memang kurang kalau urusan membuka atau memutar benda yang agak keras, beberapa kali putar ga hidup. Tapi setelah dicoba-coba lagi, akhirnya berhasil. Saya cuma jadi pengamat aja, mengawasi dari jauh, sekedar berjaga-jaga.

"Bunda, udah jadi nih mie-nya, bunda mau nyobain gaaa?"

Ahhhh, langsung berbunga-bunga donk

"waahhh,asyiikkkk, udah jadi, gampang kan bikinnya? Hebat deh kakak Ferdi nih. Bisa donk kapan-kapan bikinin buat bunda"

Atau ketika Falda yang kelas 3 SD mau coba-coba ikut membuat pancake
"bunda, Falda aja yang nuang adonannya yaa, Falda mau buat sarang laba-laba"
"boleh, nih, coba aja"


4. Hindari kritik pedas

Kritik yang diberikan terhadap apa yang dilakukan seseorang kadang ga selalu membawa perubahan positif. Ada kritik yang justru membuat kepercayaan diri seseorang malah jadi turun yang akan berpengaruh juga ke konsep dirinya. Akibatnya bisa saja jadi negatif.

Jika ingin memberikan kritik, pintar-pintarlah mengatur kalimat kritikan. Kalau dari beberapa buku yang saya baca (lupa sumbernya), berikan dulu komntar positif atas apa yang sudah dilakukan, baru sampaikan apa yang kurang.

Misalnya nih
"Masakan bunda nih enak banget, cuma kurang garem aja kayaknya"

So, perhalus bahasa kritikannya, usahain juga langsung pada poin yang ingin dikoreksi, jangan ngomel ngalor ngidul, ga akan efektif! Anak ga akan dapat menangkap esensinya kalau diomelin ke sana ke mari ga jelas arahnya. Kebiasaan emak-emak nih biasanya ngomel sambil mengungkit-ungkit daftar kesalahan *ngacung aja deh saya* Hahahaha. Untungnya sih suami dalam hal ini bisa mengimbangi, kalau emaknya udah mulai ngomel panjang lebar, langsung dialihkan, atau dipotong, hahahaha.

5. Hindari Menyalahkan Anak atau Seseorang

Ini nih yang kadang suka ga sadar sering dilakukan. Padahal ini big no no bangeett!!
Jangan deh biasain menunjuk atau menyalahkan anak sebagai penyebab terjadinya sesuatu. Loh kog?

Anak yang sering disalahkan akan merasa dirinya tidak berharga, ciut, kecil hati, minder. Merasa dirinya tak berarti. 

Kalau sudah begini harga dirinya akan rendah, konsep dirinya negatif, rasa percaya dirinya pun akan turun.

Ga mau sampai kejadian kaann? Jadi, sebisa mungkin hindari deh menyalah-nyalahkan anak sebagai penyebab kegagalan atau kesalahan. Kalau pun mau mengkritik, coba ubah kalimatnya jadi lebih positif

Daripada ngomong
"gara-gara kamu nih, adiknya jadi jatuh"

Alangkah baiknya menjadi
"aihh kasihan adiknya ya kak, coba kakak lihat, ada yang perlu dibantu ga?"

Selain tidak menyalahkan, kalimat semacam ini akan memberikan dukungan bagi kakak. Si kakak yang bisa saja merasa bersalah karena secara tak sengaja menyebabkan adiknya jatuh, merasa tidak disalahkan, malah diberikan dukungan untuk menjadi "dewa penolong" bagi adiknya. Sang adik pun jadi merasa disayang dan diperhatikan. Cara ini sekaligus menambah bonding antara kakak dan adik.

Nah, kira-kira itu deh beberapa hal yang saya bisa ingat tentang tips membentuk konsep diri positif pada anak dan remaja. Beberapa hal saya dapat waktu dulu jaman kuliah, sedang ingat-ingat teorinya, sebagian lagi baru aja saya refresh saat acara bincang edukasi di radio Suara Edukasi bersama seorang Psikolog. Lupa-lupa ingat namanya, kalau ga salah Febriani. Hahahaha, payah deh ingatan saya. Kalau udah gini jadi ingat betapa perlunya kartu nama :).

Semoga bermanfaat yaaa
Have a nice parenting

8 komentar:

  1. Waah terima kasih tips nya...Saya sering kali yang kelima.Menyalahkan anak.Hiks..ternyata menjadikan kurang pede

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, kadang kita suka kebiasaan gitu kan? Aku aja kadang suka kelupaan juga. Kalau pas inget jadi merasa bersalah, padahal akibatnya bisa fatal buat anak :(

      Hapus
  2. Nomer empaat *ngumpet sambil salim. Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ngomel ngalor ngidul yaaa? Salim jugaa. Makasih udah mampir ya mb *suguhin teh

      Hapus
  3. Kalo kasih kripik pedas boleh ga Mba hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleeehhh banget, apalagi kalo buat emaknya *ehhh ;)

      Hapus
  4. noted banget nih mbaak.. yang paling pertama mempengaruhi konsep diri berarti emang dari pengasuhan di rumah yaa :)

    BalasHapus
  5. thanks sharenya ya mba, harus diingatkan terus nih dalam mendidik anak...

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com