Minggu, 30 Agustus 2015

Belajar Bersepakat Bersama Anak

Kali Ini saya mau cerita "pelajaran" yang sudah lama saya terapkan ke anak-anak. Saya memang biasa menerapkan pelajaran bersepakat ke anak-anak. Yaaa, semacam deal deal gitu lah. Saya bersetuju dengan syarat yang diajukan anak, anak juga setuju dengan syarat dari orang tua. Tergantung mana saja yang menjadi kesepakatan

Ini cerita ketika Faldi kelas 4, minta dibelikan seperangkat perlengkapan pramuka semacam kacu, ikat pinggang, tali, dasi, hingga priwitan.

Padahal perlengkapan tersebut sudah pernah kami belikan. Tapi Faldi kekeeuuuh minta dibelikan lagi.

Terus terang kami keberatan. Prinsip kami, selagi barang itu masih bagus, untuk apa membuang-buang uang membeli yang baru, ya kaaannn??

Tapi, pemikiran Faldi lain lagi

"Faldi mau yg baru aja, yg masih lengkap, biar bisa kayak kakak-kakak pramuka itu"
"Keluar duit lagi donk"
"Faldi ganti deh"
"Mau diganti dengan apa?"
"Pakai uang jajan"
"Uang jajan?"
"Iya, uang jajan Faldi. Harganya brapa bund?"
"Kalau ga salah dulu 15rb, sekarang udah naik"
"Kapan bunda bisa beliin?
"Mungkin baru bisa hari rabu depan deh"
"Kalau gitu, bunda ga usah ngasih Faldi uang jajan sampai rabu minggu depan (saat itu hari rabu)"
"Beneran? Yakiinn??"
"Iya, kan seminggu, kalau jajan Faldi 2.000 x7 hari = 14.000"
"Ga sesuai donk, itu kan harga lama"
"iya, itu kalau dianggap jajan Faldi 2rb, kalo jajan Faldi 3rb kan jd 21rb"
"hahaha, iya ya. Bener nih ga minta jajan? ntar ga minta ke bunda, tapi lari ke ayah"
"ga kog, Faldi janji"
"oke, bunda mau bicara dulu ke ayah. Ayah harus tahu kalo kesepakatan ini Faldi sendiri yang minta dan ayah ga boleh kasih Faldi uang jajan"

Deal pun terjadi antara saya dan suami, kami sepakat dengan persyaratan yang diminta Faldi. Saya wanti-wanti banget supaya suami tetap konsisten dengan perjanjian ini. Ga boleh luluh oleh rengekan atau mendadak iba ketika tiba-tiba Faldi memelas minta uang jajan di tengah minggu. Saya tahu persis suami orangnya ga tegaan. Tapi demi berjalannya sistem, saya mohon banget supaya suami menjalankan ini sesuai kesepakatan.

Alhamdulillah, seminggu berlalu dan Faldi konsekwen dengan janjinya. Lega telah melewati satu tahap "pelajaran" penting untuk anak-anak. Efeknya, Faldi berani mengambil resiko untuk mengambil sebuah keputusan atau mengajukan sebuah permintaan.

Tak hanya pada Faldi kami menerapkan "pelajaran" seperti ini, pada adik-adiknya, Ferdi dan Falda pun begitu. Ketika mereka mulai siap diajak bersepakat, kami mulai menerapkannya. Termasuk ketika Ferdi dan Falda minta dibelikan monopoli.

Maksudnya agar anak-anak belajar, tak semua hal bisa didapat dengan mudah dan gratis di dunia ini. Akan selalu ada transaksi.

4 komentar:

  1. jadi sejak kecil anak2 sudah terbiasa bersepakat ya Mba Maya, kalo saya menerapkannya masih on-off jadi sering banyak errornya, dengan baca postingan Mba Maya, bikin saya ingin belajar untuk bisa bersepakat dengan anak. terima kasih sharingnya ya Mba :)

    BalasHapus
  2. Betul Mak. Saya masih belajar bernegosiasi dengan Fatih :)

    BalasHapus
  3. hebat Faldi bisa tahan tanpa uang jajan sebagai konsekuensi atas kemauannya. alhamdulillah anak saya (4 tahun) juga sudah mulai saya ajari tentang kesepakatan2 macam begini. memang berat, tapi di sinilah proses anak belajar ya, mak.

    BalasHapus
  4. keren... pembelajaran yang bagus!

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com