Pages

SOCIAL MEDIA

Sabtu, 31 Januari 2015

Memilih Resiko yang sanggup dihadapi

Suatu kali, Faldi yang saat itu kelas 6 SD menyampaikan keinginannya
"Bund, Faldi mau masuk Gontor"
"Haahh?"

Saya dan suami sama sekali tak pernah berpikir memasukkan Faldi ke pesantren. Kami tak pernah punya wacana memasukkan anak-anak ke sana. Apalagi yang setenar Gontor. Pilihan saya tadinya cuma akan memasukkan ke SMP Negeri terdekat atau SMPIT.

"kakak yakin? Udah tahu tempatnya di mana? Udah tahu ngapain aja di sana?"
"udah sih sedikit-sedikit"
"kakak tahu darimana infonya"
"banyak bund, kakak-kakak (kakak kelasnya dulu), guru-guru, teman-teman"
"coba Faldi cari tahu yang lengkap infonya, trus pikirkan baik-baik, bener ga mau masuk sana"

Menjelang pengambilan keputusan, saya juga berusaha mencari informasi. Terus terang blank banget soal ini. Saya ga punya bayangan sama sekali seperti apa situasi dan kondisi yang ada di Pesantren. Cuma mendengar selentingan dan sekilas info saja dari orang lain. Agar sedikit punya bayangan, saya bertanya pada teman-teman di social media tentang rekomendasi pesantren yang bagus dan bagaimana situasinya. Saya juga mencari tahu dan menanyakan pengalaman orang tua yang anaknya sekolah dan mondok di Gontor.

"Disana bahasa sehari-hari Arab dan Inggris kak, udah tahu?"
"Udah bund"
"Sanggup"
"Sanggup, kan tinggal belajar, awalnya kan ga langsung ngomong Arab atau Inggris kan?"
"ya nggak lah, biasanya ada proses adaptasi dulu 1-3 bulan"

Yang ada dalam bayangan saya, Gontor adalah Pondok Pesantren Modern, berkelas Internasional, menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa wajib dalam pergaulan sehari-hari, tentu biayanya mahal. Terus terang agak deg-degan juga membayangkan biayanya.

Setelah bertanya ke mbah Google dan menemukan website resminya, ternyata biayanya tidaklah terlalu mahal. Yaaa, setidaknya saya dan suami Insya Allah masih sanggup membiayai :). Rasanya sih saya pun ikutan sreg dengan pilihan ini.

"Kak, hebat loh pesantren ini lulusannya, banyak yang nerusin sekolah di luar negeri dan jadi orang sukses. Ada yang politisi, ulama, pejabat. Mungkin karena bahasa sehari-harinya Inggris yaa"
"Iya bund, keren ya"
"Iya, biayanya juga ternyata ga mahal"

Faldi saat packing (dok. pribadi)
Beres urusan biaya, kali ini masalah lokasi. Tempatnya di Ponorogo. Saya kembali menanyakan, apakah yakin dengan pilihannya jauh dari kami orang tuanya?

Saya berikan bayangan kemungkinan baru akan bertemu hanya ketika lebaran atau saat libur sekolah, hingga kemungkinan kami tidak akan mungkin bisa sering-sering menengoknya nun jauh di Jawa Timur sana. Kalaupun memilih untuk tidak masuk di pusat, alternatif lain adalah memilih cabang terdekat, dan itu di Jogja.

Sepertinya Faldi agak keberatan dengan lokasi yang cukup jauh. Mungkin belum siap juga benar-benar jauh dari kami orang tuanya, atau kami yang belum siap jauh dari Faldi? ;) Faldi pun mulai bertanya-tanya pada teman-teman dan beberapa kakak tingkatnya.

"Bund, kata temen kakak, ada pesantren deket sini yang bagus, DQM"
"Wah, bunda belum pernah denger kak, dimana itu?"
"Faldi juga belum tahu persisnya"

Akhirnya kami browsing bersama. Lokasinya memang cukup dekat, di Gunung Sindur, tapi saat melihat biaya pendaftaran dan uang bulanan, saya langsung mengkeret
"kak, kalau biayanya segitu, kayaknya bunda dan ayah belum sanggup deh"

Agak berat memang mengabulkan keinginan Faldi, tapi karena sudah saya anggap cukup "dewasa", jadi saya libatkan dalam diskusi.

"Bund, Faldi masuk pesantren MN aja deh, biar bareng kakak-kakak"
"Yakin?"
"Iya, enakan di MN, Faldi udah tahu kakak-kakak itu ngapain aja, ada banyak kegiatannya"
"Tapi waktu itu Faldi bilang pengen masuk pesantren yang kamarnya bagus dan kamar mandinya bersih?"
"Iya bun, di MN juga lumayan, yang angkatan sekarang ada tempat tidur tingkat, kamar mandinya lumayan bersih"
"udah yakin nih?"
"Iya"

MN adalah sekolah tempat Faldi dan adik-adiknya bersekolah saat ini. Aslinya merupakan pesantren yang mengembangkan sekolah Madrasah sekelas Ibtidaiyah atau dikenal juga dengan istilah lebih modern SDIT, Sekolah Dasar Islam Terpadu. Dengan mengembangkan sekolah ini, anak-anak sekelas SD juga bisa merasakan kurikulum seperti pesantren, tanpa harus menginap. Berhubung satu lokasi, Faldi cukup sering berinteraksi dengan kakak tingkat yang sudah lebih dulu masuk. Dari merekalah info tentang kegiatan pesantren banyak didapatkan.

Setelah mendapatkan pilihan pesantren yang sesuai dengan resiko yang sanggup dihadapi, kembali kami berikan tantangan.

"Kakak, kalau pesantren itu kan mondok, ga pulang, nginepnya berhari-hari, berbulan-bulan. Semua serba sendiri, termasuk nyuci baju. Ga ada yang nyuciin disana, gimana?"
"Yaa nyuci sendiri bund"
"Bunda ga mau lho yaa nyuciin"
"Iya bund, besok Faldi mau latihan nyuci"

Kadang sebagai orang tua, selalu ingin memberikan yang terbaik pada anak, termasuk memberikan berbagai kenyamanan. Tapi, kadang anak punya pilihan sendiri yang berbeda dengan harapan orang tua. Tentu orang tua tak bisa memaksakan kehendaknya, walau anak juga tak bisa berharap penuh apa yang diinginkannya akan terpenuhi.

Jalan paling mudah untuk menjembatani keinginan anak dan orang tua agar bisa sama-sama merasa aman nyaman adalah dengan berdiskusi, memilih resiko mana yang paling sanggup mereka hadapi dan sepakati.


Inilah salah satu pembelajaran saya sebagai orang tua yang anaknya mulai beranjak remaja. Akan semakin banyak kesepakatan-kesepakatan yang dibuat ke depannya. Semoga kami menjadi orang tua yang dapat menjadi fasilitas belajar bagi anak.

17 komentar :

  1. keponakanku juga tau2 minta di gontor, bun. Padahal, kita tinggal di JKT.
    emang udah diniatin pesantren. Tadinya mau di Bogor, tempat temen umi abinya. entah drimana dia mantap ke Gontor.
    Mudah-mudahan dia sanggup ngejalanin hari-hari di sana. emang keren banget lulusna Gontor itu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya saya sempat agak keberatan, tapi belakangan malah sreg dengan pilihan Gontor. Tapi belakangan malah anaknya yang berubah pikiran :)

      Hapus
  2. amiiin.. faldi hebat ya mak. memilih pesantren. sayapun menantikan bisa diskusi lebih banyak dengan navaro nanti.. meskipun sekarang sudah mulai bisa diajak berdiskusi, masih hal gampang banget sih. seperti : mau makan dimana siang ini? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak-anak itu, asal kita ajak bicara baik-baik sebenarnya mudah dikasih pemahaman kog :)

      Hapus
  3. aku pengennya juga deket anak mb..untung g jadi di gontor ya :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sebenarnya udah sempet senang dg pilihannya itu, mengingat Gontor cukup bergengsi. Tapi belakangan malah anaknya berubah pikiran :)

      Hapus
  4. Nice sharing mak... sama nih putriku jg sudah remaja, sudah mulai hrs diskusi byk hal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh, bentar lagi aku juga akan punya putri remaja nih mak. Kayaknya perlu bikin genk emak2 berputri remaja? ;)

      Hapus
  5. Masya Allah.. Salut buat Fadli..:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus konsekwen dg pilihannya mb :)

      Hapus
  6. pinter banget Fadli sudah bisa mengutarakan keinginannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus begitu kan, daripada dipendam :)

      Hapus
  7. subhanalloh... semoga dilancarkan pendidikannya Faldi, bun.. semoga tumbuh jadi lelaki pemberani & tangguh. dan selalu sayang kepada bunda tentunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiinnn, makasih do'anya ya wiiidd

      Hapus
  8. Banyak pilihan di awal tapi akan menemukan satu pilihan untuk dipilih ya mbak hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, pada akhirnya kita selalu dihadapkan pada keharusan untuk memilih 1 saja dari sekian pilihan

      Hapus
  9. Wah asik ya diskusinya. Aku susah banget diskusi utk yg beginian. Anakku cewek semua mak, kemana-mana aku kawal, nggak boleh jauh2. Mereka merasa terikat banget nggak ya?

    BalasHapus

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com