Senin, 23 April 2012

Belajar kecewa

Walaupun tugas orang tua memberikan kebahagiaan pada anak-anaknya, tapi orang tua juga jangan sampai lupa, bahwa ternyata anak juga perlu belajar kecewa. Kenapa?

Karena belajar kecewa adalah salah satu life skill yang dibutuhkan anak-anak dalam menghadapi kehidupannya kelak. Tidak selamanya kita sebagai orang tua selalu bisa mendampinginya kan?

Suatu saat mereka akan hidup di alamnya sendiri dengan daya juangnya sendiri, dengan segala macam ragam kehidupan, mulai susah sampai senang, gampang sampai ruwet. Soo, bukan tidak mungkin mereka juga suatu saat akan menghadapi kekecewaan. Entah itu yang biasa-biasa aja, maupun yang dahsyat cobaannya. Sooo, mereka perlu sekali belajar menghadapinya "face it!!"

Mereka perlu belajar bahwa tidak semua yang diinginkannya bisa didapatkannya kan?

Anak yang sedari kecil sudah belajar kecewa, tidak akan gampang pundung ketika menghadapi hal-hal yang tidak berkenan di hatinya, ketika menghadapi berbagai cobaan dan musibah dalam hidupnya, ketika menghadapi berbagai kegagalan dalam menggapai cita-citanya.

Apa sih maksudnya dengan belajar kecewa?

Naaah coba deh inget-inget, pernah ga anak minta sesuatu dan tidak dikabulkan?

Sebenarnya pada saat itu kita sudah memberikan sebagian pembelajaran kecewa padanya

Inget juga anak-anak suka minta-minta sesuatu, kadang pakai mewek, merajuk, menangis, ngambek, bahkan temper tantrum?

Lantas, apa yang kita lakukan? Membiarkan? Mendiamkan? atau Mengabulkan?

Menghadapi tangisan anak memang sangatlah tidak mudah, diperlukan keteguhan mental, harus kuat dianggap tega sama anak, harus kuat dianggap tidak sayang anak, harus kuat dianggap tidak perduli anak, harus kuat dianggap tidak memperhatikan anak, dan harus kuat membiarkaan anak menangis, di satu sisi ga tega, tapi di sisi lain pengen mendidik.

Mengabulkan keinginan anak hanya karena dia temper tantrum, menangis berguling-guling, menghentakkan kaki, atau mengancam hal yang macam-macam hanya akan membuat anak belajar bahwa orang tuanya bisa diperdaya dengan tangisan, ancaman, amukan, temper tantrum, dsb.

Semakin sering dikabulkan, semakin anak belajar bahwa "ancaman"nya itu berhasil meluluhkan hati orang tuanya dan akan digunakan selanjutnya untuk mendapatkan keinginannya yang lain!!

Sesekali orang tua boleh kog tidak mengabulkan apa yang dimaui anak, selagi dipandang perlu untuk dicegah dan tidak dikabulkan, terutama jika menyangkut keselamatan anak. Asaaaall, jelaskan pada mereka, apa perlunya kita tidak mengabulkan mereka sesuatu hal.

Walaupun nantinya mereka mungkin akan kecewa keinginannya tidak terpenuhi, tapi di satu sisi, hal ini akan memberikan pembelajaran cukup penting bagi hidupnya, "belajar kecewa!"

Biarkan mereka belajar menghadapi kekecewaan, bantu mereka menghadapi, fasilitasi, sediakan bahu jika perlu, jauhkan dari hal2 yang membahayakan, tapi tetap jangan terpengaruh ya untuk mengabulkan permintaannya ^____^

1 komentar:

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com