Pages

SOCIAL MEDIA

Kamis, 03 November 2011

Dari kasus sakit perut hingga cakar-cakaran

Hari Rabu minggu lalu Ferdi pulang sekolah dengan muka di bagian rahang kanan penuh dengan luka bekas cakar. Menurut Ferdi, rahangnya dicakar temannya. Tak banyak yang aku korek waktu itu. Yang aku terima hanya info Ferdi dicakar teman satu kelasnya. Ayah hanya menasehati untuk melawan temannya kalau mereka mengganggu Ferdi. Aku sendiri mengabarkan apa akibat jika Ferdi diam saja ketika temannya melakukan kejahatan.

"Kalau diam aja, selamanya mereka anggap Ferdi sasaran empuk untuk dikerjain. Mereka justru senang melihat Ferdi menderita, menangis. Ferdi perlu pertahanin diri, minimal bilang, jangan ganggu aku, aku ga suka diganggu"

Selasa lalu tiba-tiba pihak sekolah telpon ke handphoneku mengabarkan bahwa Ferdi muntah-muntah di sekolah dan berbusa. Panik lah, langsung aku dan suami meluncur ke sekolah, ternyata Ferdi langsung dibawa ke puskesmas yang bekerja sama dengan pihak sekolah.

Tak lama datang Ferdi bersama salah satu guru yang mengantar, menyerahkan beberapa obat-obatan dari puskesmas sambil mengatakan bahwa Ferdi harus lebih rajin makan, biar ga maag. Memang Ferdi sering sekali malas makan, bahkan kalau pagi sering lupa sarapan, udah gitu makan bekalnya juga cuma sedikit. Setelah berterima kasih dengan guru-guru dan kepala sekolah, kami membawa Ferdi pulang. Sampai di rumah Ferdi segar bugar, tak tampak seperti orang yang sedang sakit, padahal tidak diminumkan obat apapun.

Rabu pagi Ferdi sudah bersiap berangkat sekolah, ternyata menurut ayahnya, ketika sampai di sekolah Ferdi kembali merasa sakit perut, khawatir terjadi kejadian sebelumnya, akhirnya Ferdi dibawa pulang kembali. Alhamdulillah seharian itu Ferdi baik-baik saja.

Kamis pagi kejadian yang sama berulang kembali, sampai di sekolah Ferdi bilang ga kuat, ga mau sekolah. Ayahnya langsung bilang, udah 2 hari ga masuk sekolah, jangan ga masuk lagi hari ini. Tapi Ferdi terus meminta dengan memelas untuk tidak masuk. Curiga ada apa-apa, akhirnya ayah ajak Ferdi pulang sembari sepanjang perjalanan mengorek cerita ada apa di balik itu. Ferdi orangnya agak pendiam dan sangat tidak mudah mengorek info dari mulutnya.

"Ferdi cerita sama ayah ada apa kog sampai ga mau sekolah"
"ga ada apa-apa ayah"
"ga mungkin Ferdi sampai ga mau masuk kalau ga ada apa-apa"
"iya ga ada apa-apa"
"ada yang Ferdi ga suka? ada yang Ferdi takutkan? apa gurunya ga asyik?"
"ga ayah, gurunya asyik semua"
"trus?"
"ferdi takut masuk, ntar temen Ferdi mukul Ferdi lagi"
"loh emangnya ada temen yg mukul Ferdi?"
"itu Al*** yg nyakar Ferdi kemaren"
"loh bukannya masalahnya udah beres"
"iya, tapi tiap hari Al*** gangguin Ferdi"
"Ferdi ga balas Al***"
"Ferdi takut kalo balas mukul Al***, ntar Al***nya sakit"

Note : Al*** badannya jauh lebih kecil dari Ferdi

Sampai di rumah dapat laporan ayah kalo Ferdi mangkir sekolah lagi dengan alasan sakit perut dan ternyata setelah dikorek info ketahuan karena Ferdi takut sama temannya. Akhirnya aku putuskan harus ke sekolah lagi untuk menemui kepala sekolahnya. Ferdi juga diajak menemui kepala sekolah, biar tuntas masalahnya.

Kebetulan sampai di sekolah jam istirahat, kami langsung menemui kepala sekolah. Aku dan suami menceritakan kenapa Ferdi gak mau masuk sekolah. Bukan lagi masalah sakit perut seperti sebelumnya, tapi karena ada masalah lain. Kami suruh Ferdi ceritakan siapa yang membuatnya takut masuk sekolah. Guru wali kelas Ferdi, bu Alma dan bu Tatik, pun dipanggil. Dari kedua guru ini keluarlah cerita bahwa pada saat kejadian dicakar itu, mereka sedang berebutan sesuatu yang berujung pada cakar-cakaran. Saat itu juga menurut gurunya, mereka sendiri sudah berdamai sebelum didamaikan. Sudah duduk berdua dan main bersama di mushola sekolah.

Agar tidak berat sebelah dan mendapat cerita yang berimbang, Al*** dipanggil juga. Tapi setelah lama ditunggu-tunggu, Al*** tak muncul-muncul. Ketika ditanya ke teman-temannya, ternyata Al*** sedang menangis, rupanya Al*** juga ketakutan dengan Ferdi, hihihi.

Akhirnya masalah selesai dan Ferdi langsung masuk lagi hari itu. Pesan dari kami dan semua guru kepada Ferdi, kalau ada apa-apa dengan teman-temannya, lapor dan ceritakan masalahnya ke kakak Faldi, bu guru, pak guru, kepala sekolah, atau siapa saja, jangan cuma diam *Ferdi sangat pendiam dan tertutup, apa-apa dipendam sendiri, jadi sering tidak ketahuan*. Semua meyakinkan Ferdi bisa mengandalkan mereka.

Saat itu kepala sekolah cerita kalau anaknya dulu juga pernah ga mau masuk sekolah. Setelah dicek ternyata anaknya ini takut dipalak sama adik kelasnya. Yang lucu anaknya kepala sekolah ini udah kelas 5 dan yang malak adalah anak kelas 2!!! Dan hebatnya, anak itu tiap hari malak dan berhasil ngumpulin sampai 19rb, ck..ck..ck Secara badan aja udah kalah gede, apalagi tingkat kelas. Setelah dikorek-korek kenapa takut, ternyata anak kelas 2 ini selalu mengancam "awas, jangan lapor sama ibu loe, kalo ga ntar gw laporin bapak gw, polisi"

Hadeeuuhh, ada-ada aja anak-anak

Sorenya ketika pulang sekolah, iseng-iseng aku tanya Ferdi,
"tadi gimana di sekolah Fer?"
"biasa aja bun"
"lah mereka malah main dan duduk bareng bun, akrab banget sampai pulang" sahut ayah
"laaaahhh kog bisa gitu, kemaren-kemaren sampe takut sekolah"
"ga tahu, kangen kali!" sahut Ferdi sambil senyum-senyum

Hiahahahahah..anak-anak

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com