Minggu, 11 Januari 2009

Stop donk Pembangunan Mall dan Pusat Perbelanjaan

Duh, dimana-mana sekarang ada mall, pusat perbelanjaan, supermarket, hypermarket, atau apalah, seolah tidak ingin menyisakan lahan kosong, dan menghabiskan semua lahan yg ada untuk pembangunan.

Secara gak langsung adanya itu semua mengajak orang untuk lebih konsumtif daripada seharusnya. Orang yang tadinya tidak niat belanja, akhirnya jadi belanja karena tertarik. Yang tadinya gak kepengen beli jadi akhirnya beli karena "merasa" butuh.

Adanya mall dimana-mana ini juga membuat berubahnya pola dan gaya hidup. Coba lihat anak-anak mudah bertebaran di mall, nongkrong di cafe, menghabiskan berpuluh ribu rupiah sekedar ngopi sambil ngemil.

Nah...nah, hal-hal begini tentu merubah pola pengeluaran keluarga toh? Ortu tentu akan mengeluarkan spare lebih untuk "ongkos jajan" si anak. Padahal jika lebih irit, mungkin suatu keluarga bisa menyumbangkan uang tersebut untuk sesuatu yang lebih berguna, entah untuk membantu saudaranya yg kesulitan, menyumbang panti asuhan, menyumbang anak yatim, menyumbang orang-orang susah, memodali orang-orang susah untuk berusaha, dsb. Dengan demikian kesenjangan antara si kaya dan si miskin tidak terlalu jauh.

Halah, kog malah kesan-sana sih.

Intinya sih, tolong donk, pembangunan mall, pusat perbelanjaan, yg semacam itu, yang mengundang orang untuk "merubah" pelan-pelan gaya hidup jadi konsumtif, tolong distop.

Pembangunan supermarket atau hypermarket kelas raksasa di dekat pasar juga menyebabkan penjual-penjual kecil lama-lama tergerus. Kasihan mereka, tidak sanggup bersaing harga dengan supermarket besar yang punya modal besar untuk membeli barang dengan harga grosir atau harga distributor. Akibatnya harga supermarket lebih murah dari harga pasar, dan membuat orang lebih tertarik belanja ke supermarket yang nyaman, berAC, dan bersih.

Hiks, kalo begini terus kan kasihan pedagang kecil. Sudahlah mereka modal kecil, keuntungan kecil, pembeli semakin lama semakin berkurang karena sudah pindah ke lain hati. Apa jadinya nasib mereka.

Seandainya yg kaya mau membina pedagang kecil, membantu mereka untuk menaikkan derajat hidupnya, membantu dg cara memberikan modal secukupnya, membimbing cara menjual yang baik, membimbing manajemen penjualan, pembukuan, cara display barang, dsb

Yah, pembangunan, di satu sisi berguna untuk memajukan kota, tapi disisi lain, ada rakyat-rakyat kecil yang kadang ikut jadi korban. Yang kaya, berduit, semakin kaya karena mampu dan sanggup berinvestasi dan memutarkan modalnya lagi untuk apa saja, sementara yang miskin akan semakin tergerus, makin miskin, karena modal yang seada-adanya hanya berputar-putar disitu-situ saja atau semakin berkurang demi untuk membiayai hidup karena semakin seretnya penjualan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda merupakan apresiasi bagi tulisan saya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf jika komen saya moderasi untuk mencegah pemasangan link hidup dan spam.

Tertarik bekerja sama? Silahkan kirim email ke m4y4mf@yahoo.com