Pages

SOCIAL MEDIA

Kamis, 18 Januari 2018

Kita Semua Adalah Pelindung Anak!

Suatu kali, saat sedang berdiri dalam perjalanan commuterline tujuan stasiun Tanah Abang, saya melihat iklan TVC Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPPPA. Iklan ini menampilkan adegan seorang anak sedang bermain sendiri, lalu datang seorang bapak yang bersikap manis dengan gerak gerik mencurigakan. Tak lama muncul tukang sampah yang mengatakan "kami orang tuanya!", lalu berturut-turut datang berbagai orang, mulai orang tua, sampai anak-anak muda yang juga menyerukan "Kami orangtuanya!

Iklan sederhana tapi sangat mengena. Mengingatkan pada semua orang, siapa pun, tidak boleh abai terhadap sekeliling. Jika melihat potensi kekerasan atau tindakan tak wajar terhadap anak, hendaknya kita perlu perduli. Kita tak bisa lagi cuek dan merasa bahwa itu bukan masalah kita. Bahwa semua orang punya andil untuk menghentikan kekerasan pada anak dan bertindak menjadi pelindung anak.

Kepedulian lingkungan lah yang bisa mencegah terjadinya kekerasan pada anak.




Bukan sekali dua kali kasus kekerasan terhadap anak berakhir tragis. Seperti kasus balita 5 tahun di Pontianak yang tewas disiksa ayah tirinya. Sangat disayangkan tetangga terlambat bertindak sehingga anak terlanjur menjadi korban. Padahal kabarnya mereka sudah sering mendengar korban berteriak-teriak menangis karena disiksa. Andai saja para tetangga sedikit meningkatkan kepedulian dan segera bertindak, setidaknya tindakan kekerasan bisa dihentikan dan tak sampai jatuh korban. Padahal tindakan kekerasan itu biasanya sudah sering dicurigai oleh para tetangga atau orang terdekat. Hanya saja, ada perasaan sungkan ikut campur, akhirnya membiarkan potensi kekerasan terjadi.

Demikian juga dengan kasus kekerasan yang diduga terjadi pada batita usia 2 tahunan yang saat dibawa ke rumah sakit sudah dalam keadaan lemah dan penuh luka lebam. Pihak rumah sakit menyayangkan terjadinya kasus ini, terlambat membawa korban dan kurangnya rasa peduli tetangga sekitar.

So, benar lah iklan dari KPPPA ini memberikan himbauan tersebut agar lingkungan sekitar lebih peduli dan mau bertindak seolah mereka lah orang tua yang sebenarnya, di mana orang tuanya sendiri mungkin tak mampu bertindak sebagai pelindung.

Yuk, mari tingkatkan rasa peduli. Hentikan kekerasan pada anak dan jadilah pelindung bagi setiap anak, siapa pun mereka! Bertindak seolah kita lah orang tua yang selalu ingin melindunginya, kapan pun, di mana pun!

Rabu, 17 Januari 2018

Berapa sih Uang Jajan yang Pas Bagi anak?

Ketika anak memasuki usia sekolah dan mulai menjalani kegiatan di sekolah, tidak dapat dihindari ada satu budget yang mau tidak mau akan dikeluarkan orang tua bernama uang jajan. Uang yang diberikan kepada anak untuk digunakan dan dibelanjakan. Entah untuk membeli makanan atau minuman saat sekolah. Bener ga? Lah, emangnya sebelum sekolah ga ada uang jajan? Hihihi, sebenarnya ya ada juga sih. Cuma kan biasanya yang ngurusin jajannya ya orang tua. Tapi begitu mulai sekolah, ada semacam tuntutan tambahan agar anak mempunyai uang jajan.


Kenapa harus punya uang jajan? Kan bisa bawa bekal aja? Nah ini, di satu sisi, uang jajan jadi menambah budget orang tua, tapi di sisi lain, ada manfaat pemberian uang jajan.

Apa sih Manfaat Pemberian Uang Jajan?


1. Mengenal Nilai Uang

Dengan memegang langsung uang jajan, anak jadi belajar tentang nilai uang secara real. Tahu bahwa uang seribu yang didapatnya ga cukup buat jajan baakso, tapi masih bisa dibeliin wafer sachet. Iyap, pemberian uang jajan membuat anak jadi kenal nilai uang, apa yang bisa didapatnya dengan uang yang ada. Jika punya tertentu dan harga barang tertentu, tahu ada kembaliannya.

2. Belajar Menghargai Uang

Dengan adanya uang jajan, anak juga bisa belajar menghargai uang, sekecil apapun itu. Uang 500 pun bisa berharga jika uang jajan yang ada, kurang dari harga jajanan yang hendak dibeli. 

3. Belajar Mengelola

Anak juga belajar mengelola keuangan. Dengan memberikan sejumlah uang jajan tertentu, anak belajar mengatur, jajanan apa saja yang bisa dibelinya, dan mana saja yang perlu ditabung jika ia menginginkan sesuatu yang nilainya lebih besar dari uang yang biasa didapatnya.  

Lantas, berapa sih sebenarnya uang jajan yang pas?


Duh, susah-susah gampang sih jawabnya, ga bisa disebutkan secara tepat dari segi nominal, karena kondisi masing-masing berbeda. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan patokan orang tua untuk menentukan uang jajan yang pas

1. Perhitungkan Kebutuhan Real Anak


Ini yang saya maksud dengan masing-masing anak berbeda kebutuhannya. Berbeda karena jajanan di sekolahnya mungkin lebih mahal atau lebih murah, berbeda karena kebutuhannya beda. Orang tua bisa bertanya, berapa jajanan yang biasa dibeli anak. Eits, tapi bukan berarti lantas memberikan uang jajan begiitu saja sejumlah kebutuhan yang besar. Hitung rentang antara harga termahal, hingga harga termurah. Bisa ambil nilai tengahnya.

Orang tua perlu juga melakukan kontrol dan budgeting agar anak belajar mengelola keuangan dan keinginan, agar ia tak mudah bela beli ini itu tanpa berpikir. Teknik mengatur jumlah uang jajan juga bisa membuat anak belajar memecahkan masalah. Saya memberikan tight budget kepada Falda, ternyata cara ini bisa membuatnya cari akal untuk menambah uang saku.

Baca : "uang jajan" untuk Falda

Contoh lain saya terapkan ke Ferdi dan Faldi. Mereka mondok dan bersekolah di tempat yang sama, otomatis jajanan di sekolahnya kurang lebih sama kan? Tapi saya ga bisa lagi terapkan uang jajan yang sama. Berbubung Faldi sudah SMA dan kebutuhannya semakin banyak, saya mulai memberikan tambahan uang jajan untuknya. Sementara Ferdi masih mendapat uang jajan mingguan

2. Sesuaikan Dengan Budget Orang tua


Nah, ini penting. Uang jajan itu menyangkut kebutuhan rutin, harus diperhitungkan karena selalu dikeluarkan. So, orang tua harus memperhitungkan benar-benar kemampuan finansialnya dengan kemampuan memberikan sejumlah uang jajan kepada anak.

Ini yang membuat saya hanya memberikan jajan tak lebih dari 2000 kepada Falda. Saya tahu, jajanan di sekolah Falda hanya kisaran 500 - 5000. So, dengan uang 2000, asal pintar-pintar membeli dan memilih, mustinya sih lebih dari cukup. ya kan? Paling-paling yang dibeli hanya makanan. Minuman biasanya bawa dari rumah, jauh lebi irit. kan?

Tapi, seiring harga beberapa jajanan mulai merangkak naik, saya pun mulai menyesuaikan. Sesekali saya berikan lebih dari 2000. Kenapa hanya sesekali? Karena saya masih ingin agar Falda belajar mengelola uang dan keinginan. Ga selamanya uang jajan dipakai dan dihabiskan begitu saja. Uang tersebut bisa disimpan dan ditabung supaya bisa beli barang lain. Jika menginginkan jajanan mahal, bisa menabung dulu dari uang jajan yang ada, ya kan?

Bagaimana dengan Faldi dan Ferdi? Mereka berdua mendapatkan uang saku secara mingguan. Ferdi yang masih SMP dapat jatah 50ribu seminggu dan Faldi yang SMA dapat jatah 75ribu seminggu.. Secara hitung-hitungan, harusnya uang segitu cukup buat mereka *emak perhitungan. Makan pagi, siang, malam sudah disediakan oleh pihak pondok, mereka ga perlu ongkos transport` Paling-paling sesekali membeli jajan saat jam istirahat atau sore setelah ekskul.

Walau mendapat uang saku lebih besar, tetap saja Faldi lebih boros, uang jajan segitu tak bersisa. Alasan klasik, terlambat makan sehingga kehabisan jatah makan atau kadang ga selera makan. Sementara Ferdi yang lebih bisa menahan keinginan, biasanya selalu punya uang sisa untuk. Biasanya digunakannya untuk beli jajanan tertentu yang lebih mahal kala ia terlambat makan.

Secara implisit mereka pernah cerita tentang uang jajan yang didapat teman-temannya

"temen aku uang jajannya ada yang 100 sampai 150 ribu seminggu lho bund"
"iya, temen aku malah uang jajannya 200ribu seminggu. tapi ya itu sekalian buat dia beli-beli kebutuhannya. sabun, odol kan dia beli sendiri"

Saya mah cuma senyam senyum aja mendengar mereka cerita begitu. Ga berniat menaikkan. Saya ingin mereka belajar mengelola uang supaya tidak begitu saja dihabiskan. Saya ingin mereka belajar menahan keinginan dan mendahulukan kebutuhan. Kalau memang ga perlu, ngapain keluar duit?

Senin, 15 Januari 2018

"Uang Jajan" untuk #Falda

Suatu kali, saat pulang dari sebuah acara, Falda dengan riang menyambut saya

"hore, bunda udah pulang. Bunda bawa apa?"

"bunda bawa ini" sambil menunjukkan goodiebag

Tentengan saya pun dibongkarnya. Beberapa notes atau kertas-kertas lucu langsung disimpan buat persediaan kalau mau buat prakarya dari kertas. Notes kadang-kadang digunakan untuk menggambar atau untuk digunting-gunting jadi bermacam benda. Bisa jadi bis, bass, topi, sendal, dsb.

"bund, yang ini mau bunda pakai atau mau dijual?"

"hm, lihat nanti aja lah"

Falda tahu betul, beberapa benda yang sudah banyak stoknya, akan saya lelang. Lumayan buat nambah-nambahin jajan Falda.


Suatu kali, saya pulang dari acara Launching Fresh & Natural dari Wings. Kebetulan juga beruntung dapat doorprize dan menenteng banyak bawaan saat pulang. Sampai di rumah, Falda seperti biasa langsung menyambut dan memeriksa tentengan emaknya.

"ini apa bund?"

"hm, itu semacam parfum"

"wanginya enak donk"

"ya iya lah"

"mau bunda jual?" tanya Falda takut-takut

"ga tahu juga deh, kalau parfum gini agak susah ngirimnya, kadang ekspedisi suka ga mau nerima"

"trus, mau dipakai sendiri?" tanya Falda dengan berbinar-binar

"ini banyak banget, kayaknya ga mungkin dipakai semua"

"ya udah, buat Falda aja ya?"

"wuaaahh ga bisa, ini kalau dijual lumayan"

"ihh, bunda gimana sih"

"ga tahu nih, bingung. kalau dijual, paling juga murah, cuma 10ribuan"

"ih, murah amat bund, mending Falda yang jual"

"eh yakin Falda mau jual?"

"iya, kan Falda suka jual-jual juga"

"haaah?"

"bunda ingat ga note book bagus yang bunda kasih waktu itu? Sekarang ga ada kan? Soalnya udah Falda jual"

"Oh ya? Siapa yang beli? Laku berapa?"

"Temen Falda. Laku 40ribu"

Ehhkkgg...

Saya langsung keselek. Ga kebayang, buku notes bisa laku seharga 40ribu sama anak SD!

"Wah keren banget bisa laku segitu. Bunda belum tentu bisa jual harga segitu. Paling-paling bunda sale seharga 10-20ribu"

"Ih si bunda mah. Lumayan tau lakunya"

"Lumayan banget itu sih. Ya udah, ini Fresh & Naturalnya Falda yang jualin, terserah mau jual berapa. Setor modal aja ke bunda 10ribu, nanti sisa penjualannya buat jajan Falda"

"Asyiiik. Makasih bund"

Uang jajan Falda memang tak banyak. Biasanya cuma saya kasih 2 ribu, sesekali saya kasih 3ribu atau 4 ribu, tapi itu jarang. Tak jarang, giliran teman-temannya jajan, Falda cuma bengong kalau jajanan yang diinginkannya melebihi jatah uangnya.

Hikmahnya, Falda belajar mengelola uang jajan dan belajar menahan diri. Sisi lainnya, dengan uang jajan pas-pasan itu ia jadi berinisiatif mencari "uang tambahan". Hahaha. Pernah lho, dengan kelebihannya dalam membuat gambar dan prakarya dari kertas berubah jadi duit. Teman-teman yang berminat, rela merogoh kocek untuk membeli hasil karyanya



"Gimana dagangannya Fal? Laku parfumnya?"

"Laku bund, banyak yang pesen, malah berebutan"

"Loh, emang Falda jual berapa?"

"Falda jual satunya 18ribu. Kalau mau dua harganya jadi 30ribu"

"Wuih, keren, banyak yang mau donk"

"Iya bund, pada berebut deh jadinya"

"Waahh, uang jajan Falda jadi banyak"

"Iya Alhamdulillah, laku 5, sisa 3"

Minggu, 14 Januari 2018

Menanam Pohon Kurma Sendiri? Why Not!

Tahu dong buah Kurma? Suka makannya? Haa, kalau kaum Muslim pasti familiar banget dengan buah manis yang satu ini, ya kaaan?

Gimana ga familiar, lha giliran bulan Ramadhan (Puasa), salah satu buah yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai makanan pembatal puasa adalah Kurma. So, tak heran jika pedagang kurma dadakan akan banyak bermunculan di bulan-bulan tersebut. Pemburu Kurma akan mencari buah ini selama Ramadhan.

Uniknya buah Kurma ini biasa tumbuh di negara-negara Timur Tengah. Kalau pernah pergi umroh atau Haji, pohon buah ini akan sangat mudah ditemui.

Apakah pohon Kurma ini bisa dibudidayakan di Indonesia? Nah ini, pohon Kurma bukan pohon yang mudah tumbuh di mana-mana, apalagi di negara yang berbeda struktur tanah dan cuacanya dengan negara asalnya.

Tapi, suami saya yang hobi tanam menanam penasaran. Apa iya Kurma ga bisa ditanam di Indonesia?

Menurut logikanya, semua tanaman bisa ditanam, asal tahu triknya. *Yaiyakalik.

Memang sih, suami saya ini telaten banget lah urusan rawat merawat tanaman. Ilmu pertanaman saya sedikit lebih baik karena sering dicerewetinya.

"Harus rajin-rajin dipotong dahannya, supaya muncul tunas baru" katanya suatu kali saat melihat pohon jeruk kami sudah mulai panjang dahannya

"Kalau mau ambil, potong sama dahannya, jangan cuma ambil daunnya aja, nanti bisa mati lama-lama"

"Kenapa"

"Ya kan sari-sari makanannya masih mengalir ke bekas patahan daun itu, padahal sudah tak ada daunnya. Kan jadi sia-sia. Sementara daun lain membutuhkan sari makanan juga. Jadi, supaya tetap subur, harus dipotong dahannya"

Saya sih cuma bisa manggut-manggut aja, secara ga paham soal tumbuhan.

Ya memang hasil tangan dingin suami terlihat dari suburnya tanaman-tanaman yang ditanamnya. Pohon rambutan yang berbuah lebat di rumah mama saya maupun pohon jeruk purut yang akhirnya diminta kakak ipar.

Suatu kali, saat sedang musim Umroh. Suami berpesan ke adiknya "nanti kalau di sana, ambil deh kurma-kurma jatuhan yang ada di tanah. Simpan, bawa pulang. Bijinya bisa ditanam"

Adiknya sih ga percaya begitu aja. Tapi mereka rupanya penasaran juga, so mereka tetap memungut "sampah" kurma yang jatuh itu.

Saat pulang, suami mengajarkan mereka untuk membusukkan bijinya di tanah. Eh, lama-lama beneran tumbuh lho. Huaaah, adik ipar saya itu langsung kegirangan dan memindahkannya ke beberapa pot kecil.

Suami pun pengen juga menanam Kurma di "kebun" sendiri yang ga seberapa besar itu.


Awalnya pun cuma iseng ngumpulin biji-biji Kurma setiap selesai kami konsumsi. Biji-biji itu ditaruh di beberapa plastik-plastik polibag yang sudah berisi tanah. Dibiarkan begitu saja sampai tumbuh tunas.

Kuncinya harus rajin-rajin diperhatikan, jangan sampai kekeringan, tapi juga jangan sampai terlalu banyak air, bisa busuk. Perhatikan juga hama daun yang menghinggap, ini bisa jadi salah satu musuh yang membuat mati daun.

Yaa, perjalanan untuk bisa sampai berbuah sih masih panjang, entah beberapa tahun lagi. Tapi, nothing to loose aja lah. Ga berharap muluk-muluk. Lihat daun hijaunya aja udah seneng. Apalagi lihat pohonnya sudah segede ini, keren juga kan kalau jadi salah satu penghias rumah?




Kata suami

"bund, si abah beli pohon Kurma buat di kantornya mahal lho. Yang tinggi 1 meter harganya bisa jutaan"

"Ah Masa?"

"Iya"

"Ya udah, jual aja pohon Kurma Kita"

"Hush...enak aja"

Kamis, 11 Januari 2018

Menggali Kelebihan Diri Sendiri

Seringkali kita sibuk dan silau dengan kelebihan orang lain, tapi sering lupa menggali kelebihan dan kekuatan sendiri. Daripada sibuk menginventarisir kelebihan orang lain, yuk inventarisir kelebihan diri sendiri aja. Kadang memang ga pede menyebutkan kelebihan diri.

Percayalah, dengan meyakini dan menggali kelebihan diri ini akan membuat kita juga jadi lebih mudah bersyukur dan menerima diri sendiri. Plus memanfaatkannya untuk sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

Kalau ditanya kelebihan saya apa. Terus terang bingung. Hahaha. Rasanya seperti ga punya kelebihan apa-apa, atau malah bingung, yang jadi kelebihan itu yang seperti apa ya?

Nah, saya mau coba dari diri sendiri dulu nih, menginventarisir kelebihan.


Mudah memahami peta dan cepat menguasai jalur


Dulu saya sempat berpikir bahwa saya bukan orang yang visual. Tapi belakangan saya menyadari, saya justru sangat visual. Kalau bicara modalitas belajar, saya tipe yang sangat visual. Harus lihat dulu baru bisa paham. Nah sepertinya, kemampuan saya ini juga berhubungan dengan kelebihan dalam hal visual spatial, mengambarkan tata letak atau tata ruang. Biasanya yang punya kemampuan ini adalah para desainer atau arsitek. Mereka mampu membuat gambaran visual dari bayangan di otaknya.

Dulu sih saya ga berpikir punya kemampuan ini. Sampai belakangan menyadari, sebenarnya saya punya kemampuan visual spatial. Contoh gampangnya, dulu pernah punya usaha baju menyusui, dan saya lah "arsitek" sekaligus "desainer"nya. Walau ga bisa menggambar desain, saya bisa membuat gambaran desain itu di kepala, mengkomunikasikan gagasan tersebut kepada penjahit hingga mereka mampu mengeksekusinya.

Contoh lain, saya cukup menguasai cara membaca peta dan punya gambaran visual tentang jalan. So, ga jarang saya sering dijadiin suami sebagai navigator, hahaha. "Kamu kan tukang jalan, pasti lebih tahu arah ke sini dan sini". Jiaaahhh. Untungnya sih saya memang tukang jalan (hobi keluyuran?) dan akan langsung mengasosiasikan jalan yang baru saya temukan dengan jalan lain yang pernah saya lewati. Sometimes saya ga perlu baca peta. Tapi sesekali baca peta untuk tempat yang belum pernah dikunjungi dan menghubungkannya dengan jalur yang biasa saya lalui.

Kalau urusannya jadi penunjuk jalan, bukan sekali dua kali sih. Babang gojek aja kalau udah nyerah, pasti nanya, baru deh saya yang arahin. Selagi si babang "merasa tahu jalan" saya biarkan dia jalan sesuai yang diketahuinya. Lumayan, kadang nambah perbendaharaan konsep jalan baru.

Mungkin ini pengaruh dari papa saya juga. Dulu, jaman kami kecil-kecil, saya paling hobi ikut papa-mama. Bukan karena bakal minta jajan, tapi karena bisa punya kesempatan lihat-lihat jalan. Membaca dan memperhatikan detail tiap jalan, ada toko apa aja, dsb.

Puncaknya, saat pindah ke Jakarta, dari Surabaya, papa bela-belain beli peta versi Street Guide. 30 tahun lalu harganya 100ribuan, termasuk mahal untuk ukuran peta Jakarta. Tapi karena itu satu-satunya peta yang cukup detail per wilayah, lengkap dengan nama jalan dan komplek, dengan lembar halaman hingga 100 lebih, rasanya worthed sih. Apalagi peta berwarna dengan lembar kertas glossy yang tebal.

Dulu sih belum ada GPS seperti sekarang, jadi modalnya ya lihat Peta Jakarta itu. Gara-gara Peta ini lah saya jadi punya "konsep jalan". Oh, kalau jalan ini nyambungnya ke sini, kalau lewat sini, bisa ke sini. Dari sini bisa juga ke sini, jalurnya begini, begini dan begini. Inilah yang membuat saya punya bayangan imagery sendiri di kepala, kalau mau ke sini, bisa lewat sini, jalur ini atau jalur sana.

Kalau ditekuni, kelebihan saya ini bisa jadi lahan penghasilan kali ya. Jadi tour guide Jakarta mungkin? *Ehhh. Hahaha. Kalau secara ga resmi sih udah sering jadi tour guide Jakarta kalau saudara-saudara dari daerah datang ke Jakarta dan minta diantar ke TanahAbang. TanahAbang itu kan rada ruwet ya, kalau ga hapal jalan, bisa masuknya ke mana, keluarnya ke mana :).

Mengajar


Suatu kali, dosen saya pernah bilang gini 

"mudah sekali mengamati bakat seseorang. Contohnya gini. Orang yang punya bakat atau passion di bidang mengajar, biasanya sejak kecil terbiasa menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Senang menjelaskan. Tapi buat orang yang ga suka atau ga punya kemampuan mengajar, biasanya justru bete kalau ditanya-tanya atau diminta menjelaskan, jawabannya pendek-pendek, apalagi kalau sampai bolak balik ditanya. Kalau si tipe pengajar ini ngga, mereka akan senang hati menjelaskan berkali-kali, sampai yang dijelaskan ini paham".

Saya langsung inget diri sendiri, pantes saya suka mengajar, karena saya memang suka menjelaskan. Hahaha. Saya belum puas menjelaskan kalau masih melihat tatapan kosong mahasiswa. 

Hm, apalagi ya? Mungkin ada beberapa, tapi rasanya sih ga terlalu esensial macam jago bikin balado versi suami dan anak-anak (ini kan versi mereka, entah kalau versi orang lain). Atau smart shopping, dsb.

Ntar deh, kapan-kapan disambung lagi ya. Segitu dulu aja. Sampai ketemu di next post. 
Maya Siswadi

Rabu, 10 Januari 2018

Dari Guru Kimia Sampai Dosen Favorit

Sejak tadi nyari inspirasi mau nulis apa soal sosok guru atau dosen inspirasional ini. Sampai buka-buka web kampus. Hahahaha. Banyak yang mau ditulis tapi bingung mau mulai dari mana.

Soal sosok guru atau dosen inspirasional, rasanya banyak yang mau diceritain. Hahahahaa. Tapi mungkin saya mau cerita aja soal pengajar yang banyak memberi pengaruh dalam hidup saya ya. Saya orangnya agak susah memilah-milah, hahaha. Jadi saya cerita aja beberapa pengajar, ga papa kan?

Guru Ekonomi Koperasi

Saya ga tahu, mata pelajaran ini masih ada ga sih sekarang? Yang pasti sih jaman saya masih kelas 1 SMA dapat mata pelajaran ini. Apa yang berkesan dari guru galak bersuara cempreng dan sering dijuluki teman-teman, "bebek", karena bibirnya yang ehm...ya begitulah. Walau banyak teman-teman yang ga begitu suka dengan guru yang satu ini, tapi saya selalu mengikuti pelajarannya dengan senang hati sehingga punya nilai cukup bagus dan dipercaya menjadi salah satu pengurus koperasi sekolah. Berkat ibu yang satu ini saya jadi punya kepercayaan diri yang lumayan dalam bersosialisasi dan menghadapi "pembeli".

Saya sempat kehilangan masa-masa bermain dan bersosialisasi di jam istirahat karena harus buru-buru kabur ke koperasi untuk membuka dan melayani pembeli. Tapi di sisi lain, karena aktifitas ini pula saya jadi dapat banyak sekali pelajaran yang susah dibeli. Ibu guru mengajarkan saya tentang cara menginventarisir barang, menyusun pembukuan, mencatat pengeluaran, dsb. Ilmu mahal.

Sayangnya saya ga terlalu tertarik dengan keuangan dan koperasi, tapi ilmu pembukuan itu memberi banyak ilmu yang bisa saya terapkan sehari-hari.

Guru Kimia



Pelajaran ini baru saya dapat jaman SMA kelas 2 karena masuk kelas IPA-Biologi. Sebenarnya ga sengaja jadi suka pelajaran ini. Tapi entah kenapa dulu pelajaran ini rasanya saya kuasai banget karena sang guru yang mengajar dengan cara yang menyenangkan. Saya sampai dijuluki anak emas saking nilai-nilai saya untuk pelajaran ini yang paling bagus.

Sang guru sampai membuat buku dan salah satunya diberikan ke saya dengan tulisan Untuk Maya belajar yang rajin ya"

Yang selalu saya ingat dari guru satu ini, kesabarannya yang luar biasa. Pemaklumannya terhadap siswa juga membuat saya terkagum-kagum dan ini mbembuat saya lebih fleksible ke mahasiswa. Cara si ibu mengajar menginspirasi saya saat kini juga jadi pengajar.

Sayangnya, walau saya selalu dapat nilai bagus, dan si ibu guru menaruh harapan cukup besar mendapat generasi penerus, saya ga tertarik berkarir di bidang Kimia, hahaha. Sejak kelas 1 SMA saya sudah memutuskan akan memilih jurusan Psikologi nantinya. Itu sebabnya saya berjuang agar bisa masuk kelas IPA, karena fakultas Psikologi UNPAD itu masuknya ke science/eksakta.

Lanjut ceritanya ke dosen kuliah saya ya.

Dosen Pembimbing Favorit


Sebenarnya ada banyak dosen yang berkesan jaman saya kuliah. Kebanyakan sih dosen-dosen yang berhibungan dengan mata kuliah statistik Psikologi dan metodologi penelitian. Entah kenapa mata kuliah tersebut menarik.

Singkat cerita, saya terkesan banget sama dosen Pembimbing tesis saya. Dosen yang satu ini memang faham banget urusan metodologi penelitian. So, urusan metodologi, selalu konsultasinya ke beliau. Mulai SPSS sampai Lisrel saya konsultasinya ke beliau. 

Saya sempat mengalami kendala biaya saat menyelesaikan tesis dan membuat saya menunda menyelesaikannya. Hampir 2 tahun saya vakum, padahal tesis sudah setengah jalan. Sempat pesimis, apa mungkin saya bisa lanjut? Biaya darimana? 

Tak dinyana, teman seangkatan menyolek saya di WA

"mbaa, gimana tesis? Dirimu ditanyain Pak X"

Deg..

"Emang dia masih inget aku?"
"Iya, ditanyain mulu mba, disuruh cepet nyelesain"

Ya Allah, antara percaya dan ngga. Dosen sibuk dan punya banyak mahasiswa bimbingan begitu masih inget saya? Saya penasaran, kog beliau bisa ingat? Perhatian banget ya, padahal kan mahasiswanya banyak

"Itu temen kamu kemaren udah cepet, kog sekarang malah mandeg, ke mana dia, ada masalah apa?" 

Kata-kata sang dosen seperti yang diceritakan temen saya itu berhasil membuat saya segera menemuinya dan berusaha menyelesaikan tesis. Alhamdulillah semua dimudahkan, termasuk biaya.

Ah, perhatian-perhatian kecil dari guru dan dosen itu bisa sangat membekas dan menginspirasi. Semoga saya juga bisa menjadi sosok pengajar yang menginspirasi.

Kamis, 28 Desember 2017

Confidence, Berikan Yang Terbaik Untuk Orangtua

"Pa, minggu ini diundang arisan di Bandung, papa ikut yuk"
"Ga ah, repot bolak balik ke toiletnya"
"Nanti kan bisa mampir-mampir pa, berhenti di toilet, pom bensin atau rest area"
"Ga ah, papa males mondar mandirnya"
"Ikut aja lah pa, biar seru"
"Ga usah, kalian aja, papa males. Iya kalau gampang nyari toiletnya. Kalau ternyata rest areanya masih jauh, gimana"
"Nnngggg..."

Speechless

Begitulah masalah yang saya alami tiap kali akan mengajak papa jalan-jalan. Selalu berakhir gagal karena papa enggan bepergian karena merasa risih dengan kelemahannya yang mulai sulit menahan buang air kecil. Memang, beberapa tahun terakhir ini papa mengalami masalah dalam berkemih, sulit menahan buang air kecil. Kalau istilah umum sih beseran ya?

Kami sudah sedemikian rupa mengajak dan merayu, tetap saja papa bergeming. Kalau sudah take mempan begitu, saya tak bisa berkata apa-apa lagi.



Pada 20 Desember 2017 lalu, saya baru tahu istilah Inkontinensia urine sebagai istilah yang tepat untuk kondisi seperti yang dialami papa, ketidakmampuan menahan desakan untuk mengeluarkan urine.

Menurut dr. Firtantyo Adi Syahputra SpU, dari Klikdokter.com, Inkontinensia urine memang biasa dialami orang tua yang sudah mulai mengalami penurun fungsi organ, salah satunya kontrol dalam berkemih (membuang air kecil). Pada kondisi tanpa gangguan, seseorang akan mampu menahan keinginan berkemih, hingga menemukan tempat untuk mengeluarkannya. Tapi, pada penderita Inkontinensia urine, sulit sekali menahan desakan untuk membuang air kecil (urine).

Rupanya, masalah ini tidak cuma dialami orang tua saja, anak-anak, remaja, atau dewasa pun ada yang mengalami masalah ini lho. Cirinya mudah diamati, yang bersangkutan biasanya bolak balik ke kamar kecil (toilet), atau jika tak menemukan toilet, yang bersangkutan sampai mengompol karena sulit menahan desakan urine yang hendak keluar.

Masalah seperti ini sebenarnya bisa ditangani dengan cara berikut



Papa saya menggunakan popok dewasa sebagai salah satu cara mengatasinya. Papa kenal popok ini ketika dirawat di salah satu  rumah sakit. Salah satu popok dewasa sekali pakai produk dalam negeri yang cukup banyak dikenal adalah Confidence, produksi PT. Softex Indonesia.

Saya pernah membelikan popok celana ini untuk papa. Waktu itu sekali-kalinya papa mau ikut dan minta dibelikan popok celana. Setelah mencari ke sana ke mari, saya menemukan Confidence. Langsung saya belikan untuk papa. Dan papa pun mau pergi. Dengan menggunakan confidence, papa jadi lebih confident.

"Kalau pakai ini, lebih enak, bisa dirobek pinggirnya. Makainya juga lebih mudah, seperti pakai celana"


Pecahkan Rekor Muri

Rupanya, pada acara yang diadakan oleh Confidence di Balai Kartini tersebut, akan diberikan penghargaan Muri atas banyaknya testimoni yang diberikan. Testimoni yang terkumpul secara online melalui http://confidence-adultcare.com/testimoni ini berhasil terkumpul hingga lebih dari 10.000 testimoni.


Pada acara ini hadir Jaya Suprana yang mewakili Muri dan memberikan penghargaan secara langsung.

Gunakan Ketika Perjalanan


Oh ya, pada acara Talkshow juga dihadirkan Dewi Yull yang didampingi putranya, Surya. 

Ternyata, Dewi Yull pun menggunakan popok celana dewasa ini, walau pun tidak mengalami gangguan Inkontinensia urine. Dewi menggunakan popok jika sedang show ke daerah-daerah pelosok yang relatif sulit menemukan toilet umum. Kalau pun ada toilet, Dewi bukan orang yang mudah mengeluarkan urine pada kondisi yang tak dikehendaki. So, Dewi memilih menggunakan popok saja daripada ga bisa pipis.

Mba Nirma Sofiawati, Head of Adult Care PT Softex Indonesia mengatakan, popok dewasa Confidence ini memang bisa menjadi pilihan saat dalam perjalanan jauh yang sulit ditemukan toilet. Misalnya saat perjalanan Umroh, Haji, saat ke pedalaman, naik gunung, dsb. Atau bahkan ibu hamil pun bisa menggunakan popok ini. Biasanya ibu hamil akan lebih sering berkemih karena tekanan terhadap saluran urinenya lebih besar.

So, tak hanya orang tua, siapapun yang ingin menggunakan popok ini sebagai alternatif ketika dalam perjalanan, bisa juga menggunakannya.

Ah yang pasti sih Confidence akan tetap jadi pilihan saya ketika papa sulit dirayu untuk jalan.
Berikan yang terbaik untuk orangtua